Pancasila dalam Tinjauan Worldview Islam

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

Oleh: Azrul Kiromil E. A.1 dan Meutia Z. Arianti2

Pancasila telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam naskah mukaddimah (pembukaan) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Suatu naskah dari orang yang rela mengucurkan keringat, menajamkan gagasan, menghasilkan sebuah “kompromi” dari para founding father kita. Bung Hatta menyebutkan rumusan tersebut meletakkan fundamen moral di sila atas, dan fundamen politik di bawahnya. Lalu, sudah sampai mana Pancasila itu dipahami?

Telaah Sejarah

Dalam penulisan sejarah Indonesia, kita mengenal ada 3 tokoh penting yang mengusulkan 5 poin dasar negara: Mohammad Yamin, Ir. Soekarno, dan Mr. Soepomo. Namun, istilah “Pancasila” dikenalkan oleh Soekarno sendiri ketika beliau menyampaikan pendapatnya tentang dasar negara tanggal 1 Juni 1945, tepatnya pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK).

Bung Karno ketika itu berbicara tentang landasan dasar falsafah negara yang terdiri dari lima sila: Nasionalisme atau Kebangsaan, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan. Di sisi lain, M. Yamin juga menyampaikan usulan terkait dasar negara, antara lain Kebangsaan, Kemanusiaan, Ketuhanan, Kerakyatan, dan Kesejahteraan. Baik usulan Bung Karno maupun M. Yamin, keduanya menampilkan substansi yang sama.

Dalam perjalanan sidang BPUPK I dari tanggal 28 Mei–1 Juni 1945, Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah kala itu, menyampaikan pidatonya tentang Islam sebagai dasar negara. Gagasan Ki Bagus Hadikusumo ini yang juga didukung oleh kalangan nasionalis Islam. Tak ketinggalan pula K. H. Ahmad Sanusi, salah satu tokoh Islam, menguraikan secara detail mengapa negeri ini harus bersyukur dengan menerapkan aturan Allah.

Jika kita menyelisik lagi, dinamika sidang BPUPK begitu hebat. Pembahasannya tidak hanya berkisar pada dasar negara, tetapi juga terkait dengan hubungan antara agama dan negara. Hal inilah yang menjadi titik utama munculnya polarisasi antara kalangan nasionalis Islam yang menginginkan Islam sebagai dasar negara – menghendaki persatuan antara agama dan negara, dan nasionalis sekular yang ingin menjadikan kebangsaan sebagai dasar negara – memisahkan antara agama dan negara, sebagaimana yang dikomentari oleh Mr. Soepomo. Ada 60 orang yang terlibat pada sidang tersebut. Perdebatan panas dan alot sangat terasa. Akhirnya kemudian dibentuklah panitia kecil berjumlah 38 orang sebagai tim perumus dasar negara yang kemudian membentuk “Panitia Sembilan.”

Panitia Sembilan itu terdiri dari pengusung Islam sebagai dasar negara seperti Wahid Hasyim, K. H. Agus Salim, Abdul Kahar Muzakkir, dan Abikusno, dan dari pengusung paham kebangsaan seperti Sukarno, Hatta, M. Yamin, A. A. Maramis, dan Subarjo. Panitia kecil inilah yang merumuskan sebuah konsensus yang mencerminkan aspirasi politik dari kalangan nasionalis Islam dan nasionalis sekular. Tercetuslah istilah gentlemen agreement, Piagam Jakarta (Djakarta Charter), pada 22 Juni 1945 yang di dalamnya tercantum Pancasila.

Pancasila, Apa Maknanya?

Para founding father sepakat bahwa Indonesia merupakan “negara berdasarkan ketuhanan.” Namun, ketuhanan seperti apa yang dimaksud?

Bagi umat Islam, konsep ketuhanan tentu berdasarkan tauhid, Ketuhanan Yang Maha Esa. M. Hatta sendiri menegaskan bahwa yang dimaksud “Tuhan Yang Maha Esa” adalah Allah. Hal inilah yang dipertegas dan disepakati oleh tokoh-tokoh Islam menjadi sila yang asasi. Tauhid merupakan inti dari ajaran Islam, menjadi pondasi penting bagi setiap muslim dalam menjalankan kehidupannya. Konsep inilah yang mendasari sila-sila di bawahnya.

Konsep kemanusiaan dalam sila kedua tak kalah menjadi sorotan. Jika merujuk pada naskah Pembukaan UUD 1945, maka secara gamblang disebutkan “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Kedua istilah tersebut – adil dan adab – memiliki definisi yang cukup dalam. Istilah “adil” (العدل) dan “adab” (الادب) adalah istilah kunci dalam Islam (Islamic Basic Vocabulary) yang sekaligus memperjelas konsep kemanusiaan yang dimaksud. Adab, menurut definisi Syed M. Naquib Al-Attas, merujuk pada pengenalan dan pengakuan atas tempat, kedudukan dan keadaan yang tepat dan benar dalam kehidupan yang mencerminkan kondisi keadilan, sehingga hilangnya adab menyiratkan hilangnya keadilan.

Para ulama membahas konsep kemanusiaan secara holistik (komprehensif). Dalam bahasa Arab, manusia mengandung beberapa istilah seperti an-naas atau al-insaan, basyar, Bani Adam. Manusia disebut An-Naas sebab manusia terkadang bisa saja lalai – an-naas akar katanya merujuk pada nasiya-yansaa yang berarti lalai atau lupa. Bani Adam menunjukkan bahwa manusia sejatinya adalah keturunan Nabi Adam ‘alaihissalaam. Hakikat manusia itu sendiri terdiri dari jasad dan jiwa (nafs). Konsep nafs juga dibahas lebih mendalam oleh para ahli ilmu.

Persatuan pada sila ketiga Pancasila, dalam perspektif Islam (Islamic Worldview), menempati posisi strategis. Persatuan disebutkan dalam Qur’an Surah Ali-Imran ayat 103, “berpegangteguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan jangan bercerai berai…” Hal ini juga dibuktikan dalam Sirah Nabi dan sejarah umat Islam di Indonesia. Kita memahami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatukan seluruh klan yang ada di Mekkah. Rasulullah pula yang menyatukan suku Aus dan Khazraj setelah keduanya berperang sekian lama. Beliau pun yang mempersaudarakan kaum muhajirin (kaum muslimin yang hijrah dari Mekkah dan Madinah) dan kaum Anshar (kaum muslimin dari Madinah).

Jika kita mendalami sejarah umat Islam di Indonesia, kita akan mengetahui bahwa Islam telah menjadi penyemangat dan pemersatu bagi seluruh lapisan masyarakat dalam melawan penjajah. Terbukti ketika perang di Aceh hingga Belanda susah payah merebut Aceh, perang Diponegoro, perang Paderi yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol, serta Sarekat Islam sebagai sebuah organisasi pergerakan yang merangkul seluruh anak bangsa tidak hanya di Jawa-Madura, tapi Kalimantan dan Sumatera.

Konsep musyawarah juga terdapat dalam Islam secara kentara. Dalam Al-Qur’an terdapat nama surah “As-Syura’.” Perintah untuk bermusyawarah juga tercantum dalam surah Ali-Imran ayat 159, “wa syawir hum fil amr” (bermusyawarahlah kalian dalam suatu urusan). Rasulullah termasuk orang yang sering bermusyawarah dengan sahabatnya dalam memutuskan suatu perkara.

Jika kita berbicara tentang keadilan sosial, maka pembahasannya akan mengarah pada kesejahteraan sosial. Lagi-lagi kata adil muncul di sila ini. Kesejahteraan sosial juga memiliki bahasan tersendiri dalam Islam. Dalam satu kaidah fiqih disebutkan تَصَرُّفُ الْأِمَاِم عَلَى الرَّاعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ “tindakan pemimpin terhadap rakyatnya harus berkaitan dengan kemaslahatan (manfaat).”

Dengan demikian, sudah jelas di dalam Pancasila terkandung istilah-istilah Islami yang mencerminkan worldview Islam. Kata-kata kunci itulah yang menjadi jejak para pendahulu dalam upaya menyematkan konstruksi pemikiran/pandangan alam Islam ke dalam dasar negara.

“Pancasilais” vis a vis “Radikalis”

Istilah Pancasilais sering disematkan kepada orang yang (mengaku) mengamalkan Pancasila, loyal dengan Pancasila. Munculnya dominasi politik melahirkan gagasan yang memperebutkan istilah yang seolah-olah menjadi gelar ini. Singkat kata, muncullah lagi suatu ungkapan: “Saya Pancasila.”

Ungkapan yang muncul di tengah-tengah masyarakat sejak 2017 tersebut memiliki kesan yang ramah dan positif, namun menyimpan tata bahasa yang dapat menyebabkan perpecahan. Apalagi, jika itu “dilawankan” dengan aktivitas-aktivitas religius umat beragama mayoritas di Indonesia, Islam.

“Saya Pancasila” seakan-akan ingin menggarisbawahi bahwa ada mereka yang “tidak Pancasila”, yang dalam kasus ini diidentikkan umat Islam yang ingin menjalani kehidupan berbangsa dan bernegaranya secara Islami. Sama-sama membawa tuduhan yang kurang benar, tetapi masih syukur kalau istilah yang digunakan adalah “Saya ‘Pancasilais’, mereka tidak Pancasilais” bukannya “Saya ‘Pancasila’, mereka tidak Pancasila”.

Ini adalah suatu pembenturan opini yang tidak adil. Padahal, seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, ada nilai-nilai Islam di dalam Pancasila. Mirisnya, kebanyakan mereka yang mempublikasikan diri mereka Pancasila (biasanya para “pentolan” partai politik) adalah mereka yang melakukan hal-hal yang malah sama sekali “tidak Pancasila”. Sejak kapan Pancasila mengajarkan praktik KKN misalnya, sebuah ironi bukan?

Hendaknya menjadi renungan bersama, layak kah membenturkan Pancasila dengan Islam. Relevan kah mengecap umat yang ingin bermasyarakat di Indonesia sembari tetap menjalankan syariat agamanya sebagai “radikalis”, sementara menghadiahi mereka yang jelas-jelas melenceng dari Pancasila sebuah kehormatan “Saya Pancasila”?

Melandasi, Menjiwai, Mendudukkan

Membenturkan Islam dengan Pancasila, adalah suatu hal yang tidak tepat. Islam melandasi serta menjiwai Pancasila. Penjiwaan itu dipertegas lagi lewat kehadiran unsur-unsur Islami pada setiap silanya, mulai dari sifat Allah yang Esa di sila pertama sampai kata adil yang dipakai pada sila terakhir, baik secara redaksional maupun substansial.

Fakta bahwa sesungguhnya Pancasila tidak bertentangan dengan Islam ini harus menjadi sorotan semua pihak. Caranya adalah dengan mendudukkan kembali makna “Pancasilais” yang sebenarnya. Untuk mendudukkan istilah tersebut, tentu harus lebih dahulu kita mendudukkan makna “Pancasila” itu sendiri. Pancasila hendaknya diposisikan secara tepat, proporsional, dan harus ditafsirkan secara benar pula sesuai dengan gagasan utama para pendirinya.

Maksud dari mendudukkan Pancasila ini sendiri salah satunya adalah menghindarkannya dari penyelewengan, terutama yang dilakukan demi keuntungan pribadi golongan atau oknum politik tertentu. Nah, cara memposisikan Pancasila yang seperti inilah yang diinginkan semua pihak dan tentunya umat Muslim dari masyarakat Indonesia.

Adapun segelintir umat Muslim yang disinyalir atau dituding anti-Pancasila kemungkinan besar adalah mereka yang kecewa dengan upaya-upaya penyelewengan Pancasila, bukan pada gagasan yang terkandung di dalamnya. Sebagai sebuah ideologi negara, Pancasila memberikan kesempatan besar bagi umat Islam untuk tetap menegakkan agamanya sembari menjalankan kehidupan berbangsa-bernegara. Seperti inilah hendaknya Pancasila didudukkan di Indonesia.

 

Nafas Islam dalam Pancasila, Jelas!

Jika kita merujuk pada pembahasan di atas, akan terlihat jelas bahwa Pancasila sendiri mengandung istilah-istilah penting dalam Islam. Ini merupakan upaya aktif yang dilakukan oleh cendekiawan muslim dan para ulama dalam merumuskan dasar negara. Istilah-istilah inilah yang menjadi kunci kita memahami kandungan dari Pancasila itu sendiri.

Pemaknaan Pancasila dikarenakan di dalamnya memuat istilah-istilah penting dalam Islam, dengan demikian, perlu menghadirkan sebuah pemaknaan dalam pandangan Islam. Hal ini mestinya dipahami oleh setiap umat Islam di Indonesia sebagai warga negara. Menjadi seorang muslim sejati – mengamalkan Islam dengan sebaik-baiknya – baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara, secara otomatis juga menjadi Pancasilais sejati.

Referensi:

Al-Attas, S. M. Naquib. 2011. Islam dan Sekularisme. Bandung: PIMPIN.

Husaini, Adian. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Ta’dib. Jurnal TSAQAFAH. 9(2): 371-394

Lesus, Rizky. 2017. Perjuangan Yang Dilupakan: Mengulas Perjuangan Umat Islam yang Ter(di)lupakan dalam Sejarah Indonesia. Jogjakarta: Pro-U Media.

Wijayanta, Hanibal. 2014. Diskursus tentang Dasar Negara dalam https://jejakislam.net/diskursus-tentang-dasar-negara-1/ (diakses pada 31 Mei 2019).

Hasib, Ahmad Kholili. (3 Agustus 2014). Mengusung Kembali Cita-cita Pendiri Bangsa dalam http://inpasonline.com/mengusung-kembali-cita-cita-pendiri-bangsa/ (diakses pada 1 Juni 2019)

Khozinuddin, Ahmad. (18 Juli 2018). Menurunnya Pro Pancasila dan Harapan Pada Capres. Diperoleh dari https://suaramuslim.net/menurunnya-pro-pancasila-dan-harapan-pada-capres/ (diakses pada 31 Mei 2019)

  1. Slogan ‘Saya Pancasila Saya Indonesia’ Menyalahi Semangat Keindonesiaan dalam https://m.kiblat.net/2017/08/07/slogan-saya-pancasila-saya-indonesia-menyalahi-semangat-keindonesiaan/ (diakses pada 31 Mei 2019)

(7 Juni 2011). Adian Husaini: Pancasila Bukan Pandangan Hidup Umat Islam. Diperoleh dari http://inpasonline.com/adian-husaini-pancasila-bukan-pandangan-hidup-umat-islam/ (diakses pada 1 Juni 2019)


1Pimpinan Redaksi Islamic Press JMMI ITS 2019

2Staff Divisi Reportase dan Ruang Wawasan Islamic Press JMMI ITS 2019


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *