Wanita Dalam Sejarah Indonesia dan Sejarah Islam

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

Oleh : Triana Qomaria Zahrotunnisa

Wanita adalah makhluk yang sangat dimuliakan dalam Islam. Dalam sejarah Islam sendiri, banyak wanita yang luar biasa dan hebat. Salah satunya ialah Siti Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Siti Aisyah merupakan seorang perempuan yang cerdas dan mempunyai akhlaq yang baik. Ia cerdas dalam berbagai bidang. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Urwah bin Zubair yang mengatakan bahwa dia tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengetahui permasalahn agama, kedokteran dan syair dibanding Aisyah, bahkan Aisyah r.a. telah meriwayatkan lebih dari 2000 hadist dengan berbagai topik permasalahan (Ismail, 2012:283). Diantaranya yaitu hukum-hukum syar’i dalam Islam. Selain Siti Aisyah, adapula Ummu Darda as-Shugra yang merupakan ulama perempuan terkemuka pada zamannya, juga ada cicit nabi yang bernama Sukainah binti al-Husain yang juga ulama perempuan terkemuka dan cerdas.

            Selain dalam sejarah Islam, bahkan dalam sejarah Indonesia pun banyak perempuan hebat dan tangguh, juga cerdas. Salah satunya yaitu Sultanah Safiatuddin (1612-1675), anak dari sultan Iskandar Muda dan istri dari Iskandar Tsany. Safiatuddin merupakan pemimpin perempuan pertama dalam sejarah kerajaan Aceh Darussalam. Ia mempunyai wawasan yang luas dan juga menguasai beberapa bahasa asing, seperti bahasa Arab, Spanyol, Persia dan Urdu. Selain itu ia juga menguasai ilmu fiqih, sastra, tasawuf, sejarah, dll. Pada masa jabatannya, Aceh berkembang sangat pesat di bidang pendidikan. Karena kecintaannya pada ilmu pengetahuan, ia sangat memperhatikan pendidikan di masyarakatnya. Pendidikan tersebut tidak hanya ditujukan untuk laki-laki, namun juga untuk perempuan. Sehingga muncul banyak pesantren dan lembaga pendidikan lainnya. Selain itu, ulama-ulama juga menebitkan banyak buku dan kitab atas permintaan Sultanah Safiatuddin untuk menunjang pendidikan di Aceh.

            Ada pula di negeri Bugis Makassar yang pernah melahirkan wanita intelektual seperti Nene’ Mallomo dan We Tenri Olle. Nene’ Mallomo (1577-1654) merupakan tokoh cendekiawan di Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan yang mencetuskan sebuah prinsip yaitu “hukum tidak mengenal anak cucu” atau dikenal dengan “ Nanya Ade’ Temmakkeana’ Temakkeappo”. Sedangkan We Tenri Olle (wafat: 1919) yang mempunyai nama lengkap Siti Aisyah We Tenri Olle yaitu sang penyelamat naskah Lagalilo, naskah kuno dari Luwu yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. W e Tenri Ollo juga penguasa di Tanete dan mendirikan sekolah rakyat berpuluh-puluh tahun sebelum Kartini.

            Dan di tanah Jawa terdapat wanita intelektual yang sangat kita kenal dalam sejarah wanita Indonesia, ialah R.A Kartini (1879–1904), dikenal sebagai pencetus gerakan emansipasi wanita yang memperjuangkan hak-hak wanita sebagaimana hak-hak yang dimiliki oleh laki-laki dalam bidang pendidikan. Munculnya gerakan emansipasi ini, dipicu oleh kehidupan Kartini sendiri. Di lingkungan Kartini, seorang wanita bahkan tidak boleh keluar dari rumah walaupun untuk mengenyam pendidikan. Oleh karena itu, hampir semua wanita di lingkungan Kartini berpendidikan rendah. Bahkan tak jarang pula yang tidak berpendidikan. Dari pengalaman dan pemandangan di lingkungannya inilah, Kartini membuat suatu gerakan yang dikenal dengan emansipasi wanita. Emansipasi wanita ini, yang menjadi cikal bakal munculnya gerakan feminisme di Indonesia dimana saat ini ditafsirkan sebagai menyamakan hak wanita dengan laki-laki tidak hanya pada aspek pendidikan, melainkan juga dalam aspek lainnya. Penafsiran yang salah ini menyebabkan banyak wanita yang merasa hak-haknya masih di bawah laki-laki.

            Setelah pemaparan di atas, masih ada ketidaksesuaian antara munculnya gerakan emansipasi dan feminisme dengan sejarah di Indonesia dan sejarah Islam. Di jauh masa lampau, wanita telah mendapatkan hak-haknya terutama di dunia pendidikan. Namun, hal ini tidak terjadi di era R.A. Kartini. Hal ini menimbulkan suatu pertanyaan, apakah ketimpangan hak pendidikan itu hanya terjadi di lingkungan Kartini saja? Hal ini perlu ditelaah lebih lanjut lagi. Kemudian untuk hak yang lainnya yang dimiliki perempuan juga tidak rendah dibanding laki-laki, contohnya sosok Cut Nyak Dien yang ikut perang melawan Belanda. Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan hak antara laki-laki dan wanita sudah ada sebelum gerakan emansipasi dan feminisme muncul di Indonesia.

            Dalam Islam sendiri, wanita sangat dimuliakan dan dihormati serta dilindungi. Wanita mempunyai hak untuk ikut memutuskan sesuatu, memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam beribadah, dan lain sebagainya. hal ini dibuktikan dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 228 yang artinya “ Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Wanita diciptakan untuk menjadi partner bagi lak-laki.Oleh karena itu, apakah benar wanita lebih rendah dari laki-laki? Sekarang saja banyak wanita berpendidikan tinggi, sukses dalam bisnis, bahkanmenjadi pemimpin suatu negara. Hal ini membuktikan bahwa hak wanita sudah cukup terpenuhi.

Sumber:;

Sisi intelektual seorang wanita luar biasa Aisyah ra oleh Novia Sari (islampos.com): https://www.islampos.com akses 19 April 2019

Ismail,M.B. (2012). Bidadari 2 Negeri. Solo: Wacana Ilmiah Press

Jejak Intelektual Perempuan Bugis, Dahulu dan Kini oleh Indra Sastrawat (Kompasiana): https://www.kompasiana.com akses: 19 April2019

Hasri. 2014.”Emansipasi Wanita di Negara Islam (Pemikiran Qasim Amin di Mesir)”. Jurnal “al-Khwarizmi”. Vol 2 Edisi 2 . Palopo

Bachtiar, T.A. 2018. Jas Mewah.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *