Refleksi Pemilu: Doa dan Founding Father Kita

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

Refleksi Pemilu: Doa dan Founding Father Kita
(Oleh: Ibnu Sanusi)

Indonesia sebagai negara demokrasi tidak bisa lepas dari proses penyelenggaraan pemilu. Pemilu menjadi sarana dalam memilih siapa yang berhak untuk duduk di kursi pemerintahan. Dengan dinamika pemilu melalui sejarahnya yang panjang sampai sekarang, setidaknya kita dapat mengamati dan menilai proses perjalanannya.

Seperti yang kita ketahui, pemilu pertama diselenggarakan dua kali pada tahun 1955, sesuai dengan amanat UU. No. 7 Tahun 1953. Pemilu pertama ini dilaksanakan pada masa Kabinet Boerhanoedin Harahap. Pemilu saat itu bertujuan untuk memilih anggota DPR – pada 29 September 1955 – dan Konstituante – pada 25 Desember 1955.

Pemilu 1955 menggunakan sistem proposional, yaitu ketika kursi yang tersedia dibagikan kepada partai politik peserta pemilu sesuai dengan imbangan perolehan suara yang didapat. Dalam sistem ini wilayah negara adalah daerah pemilihan, akan tetapi karena terlalu luas sehingga dibagikan berdasarkan daerah pemilihan dengan membagi sejumlah kursi dengan perbandingan jumlah penduduk (http://diy.kpu.go.id/web/2016/12/22/sejarah-pemilu-di-indonesia/).

Pemilu kemudian dilaksanakan berturut-turut pada tahun 1971, 1977-1997 yang dilaksanakan tiap 5 tahun, 1999-2004 juga diselenggarakan tiap 5 tahun sekali, dengan berbagai perubahan sistem dan dinamika politik yang terjadi.

Yang menjadi poin menariknya justru bukan pada sistem yang pernah berlaku pada pemilu, tetapi tokoh-tokoh yang berperan dalam perpolitikan lewat pemilu, khususnya founding father kita. Prawoto Mangkusasmito, Ketua Partai Masyumi kala itu, menegaskan, “…Tidak jarang berkisarnya alat (yaitu partai, pent.) menjadi tujuan. Alat yang cuma berguna selain digunakan menurut fitrahnya, sebaliknya menjadi azab jika keliru memakainya, berubah menjadi tujuan yang dipujanya dan dipertahankan mati-matian, kadangkala dengan jalan dimana batas halal dan haram kurang diperhatikan…” (Alam Fikiran dan Djedjak Perdjuangan Prawoto Mangkusasmito (1972: 90-91)).

Tidak sedikit pula perjuangan beliau-beliau yang luar biasa, seperti Ir. Soekarno yang rela keluar-masuk penjara, M. Hatta yang sempat rela tidak menikah sampai Indonesia merdeka, K.H. Agus Salim yang bahkan sering pindah kontrakan hingga akhir hayatnya, M. Natsir yang saat itu duduk sebagai anggota parlemen menolak pemberian berupa mobil disebabkan itu bukan haknya walaupun beliau punya mobil pribadi yang kusam, Prawoto Mangkusasmito dengan khas peci dan sarungnya, dan masih banyak lagi.

Kembali kita bisa melihat sebagian besar politikus, khususnya politikus Islam pada masa awal kemerdekaan, tidak hanya terkenal dengan kesahajaan dan kesederhanaannya, tapi juga teguh memegang prinsip dan kokoh dalam bersikap (lihat di buku Belajar dari Partai Masyumi karya Artawijaya). Ketika terjadi perdebatan panas sekalipun di meja sidang, tidak mengurangi keakraban mereka dengan politikus lain di luar sidang dalam satu meja sambil ngopi walaupun berbeda ideologi. Kita bahkan mengenal perdebatan yang sengit antara Ir. Soekarno dan M. Natsir tentang hubungan antara agama dan negara, namun keduanya di kemudian hari berada di satu panggung politik pascakemerdekaan. Jika demikian, pantaskah kita bergelut tanpa makna hanya karena perbedaan pilihan politik?

Jika sudah mengetahui tiada gunanya saling menghujat, bahkan tidak mengubah kondisi menjadi lebih baik, bukankah berdoa adalah senjata ampuh bagi seorang mukmin? Siapapun yang terpilih menjadi pemimpin, mari tetap kita doakan kebaikan untuk Indonesia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1855)

Kategori: Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *