Islam, Kartini, dan Feminisme

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

Kekuasaan lelaki atas kaum perempuan. Indonesia sendiri memiliki pahlawan yang menggagas pemenuhan hak-hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan yang masih dianggap tabu pada masanya. Ialah Raden Ajeng Kartini, nama yang dikenal masyhur sebagai pejuang hak-hak perempuan dalam bidang pendidikan. RA Kartini adalah perempuan Jawa yang terlahir dalam keluarga aristokrat Jepara yang memiliki cita-cita untuk bersekolah tinggi namun tak diizinkan oleh keluarganya. Kartini melihat bahwa pendidikan tidak hanya kebutuhan keluarga, melainkan kebutuhan bangsa untuk memerdekakan diri dan memajukan Indonesia. Emansipasi diperjuangkan RA Kartini pada abad ke-19. Namun sekarang, muncul kelompok yang mengatasnamakan feminisme yang juga memperjuangkan hal yang ‘serupa’; kesetaraan gender.

Apakah feminisme sama dengan emansipasi? Dikutip dari wartapilihan.com (09/2017), Direktur Eksekutif INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) Jakarta menjelaskan bahwa emansipasi dan feminisme adalah dua hal yang berbeda. Pasalnya, menurut Henry, pendidikan (yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini) merupakan kebutuhan dasar sehingga berbeda dengan kesetaraan gender yang notabene memandang laki-laki dan perempuan tidak boleh bersifat hirarkis, melainkan harus setara dalam segala aspek.

Apa yang membedakan feminime dengan emansipasi? Dalam perkembangannya, feminisme sendiri mengalami pergeseran makna dimana kaum perempuan memiliki kesetaran (equal) sama dengan laki-laki, baik itu dalam kehidupan bermasyarakat, politik, bahkan dalam semua aspek kehidupan tanpa melihat kodrat dan fitrahnya. Hal tersebut sungguh kontradiktif dengan penuturan RA Kartini dalam suratnya kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902. Dalam surat tersebut, RA Kartini menulis, ““Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya.

Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu,pendidik manusia yang pertama-tama.” RA Kartini, pejuang emansipasi, memperjuangkan hak-hak perempuan tanpa menyalahi kodratnya. Berbeda dengan feminisme yang cenderung berlebihan dan mengesampingkan fitrah perempuan. Menengok sejarah, kesetaraan gender atau pemenuhan hak-hak perempuan sejatinya telah didengungkan sejak abad ke-6. Islam datang saat perempuan dianggap hina dan tidak bisa diandalkan. Islam datang di tengah maraknya pembunuhan bayi perempuan pada masa Jahiliyah. Nasib perempuan sebelum Islam datang, bagai sebuah benda yang bebas diperlakukan apa saja oleh pihak lelaki. Islam hadir dengan mengutuk budaya yang keji tersebut.

 Lebih dari sekadar penghapusan atas praktik pembunuhan bayi, Islam juga mengubah adat dan kebiasaan yang merugikan perempuan secara bertahap. Islam adalah agama yang sempurna yang memberikan ‘aturan main’ bagi kehidupan manusia, termasuk permasalah peran, kedudukan, hak, dan kewajiban perempuan dalam menjalani kehidupan. Allah berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya Aku (Allah) tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik seorang lelaki maupun perempuan.” (QS Ali Imran [3] ayat 195).

Dari ayat tersebut dapat ditarik makna bahwa lelaki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih ridho Allah SWT. Allah juga berfirman; “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (Al-Hujuraat: 13) Berbeda dengan pandangan kaum feminis yang beranggapan bahwa kemuliaan perempuan ditentukan oleh kesetaraan hak dan kewajiban yang tolak ukurnya adalah kuantitas aktivitas, Islam memandang kemuliaan baik perempuan maupun lelaki dari sisi ketaqwaannya. Islam tidak melarang muslimah untuk beraktivitas di luar rumah, melainkan mengatur agar sesuai dengan koridornya sehingga kehormatan perempuan tetap terjaga.

Sumber: https://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2012/04/27/3517/kemuliaan-wanita-antara-pandangan-feminisme-dan-islam-1.html https://www.kompasiana.com/yuginta/551006a2813311c62cbc67a6/dualisme-feminisme-dan-emansipasi https://rumaysho.com/7346-daripada-menuntut-terus-persamaan-gender.html https://wartapilihan.com/emansipasi-dan-feminisme-sama-atau-beda/ Marihandono, Djoko. dkk. 2016. Sisi Lain Kartini. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Muhammad, Husein. 2009. Islam Agama Ramah Perempuan ; Pembelaan Kiai Pesantren. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta. Wiyatmi. 2012. KRITIK SASTRA FEMINIS: Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak]]>


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *