DI Tengah Kesibukan

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

“bentar dulu eh, kurang dikit lagi nugasnya. Nanti pasti sholat kok.” “abis kelas kan masih bisa sholat bro.” “duh kalo ngaji dulu. tugas ga kelar-kelar ini.” Pernahkah kamu mengalami hal seperti di atas? Jawaban kalian, mungkin tidak pernah. Namun, ketika hal diatas terjadi, setiap orang pasti punya hujjah nya tersendiri dalam mengambil keputusan. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah; “Seberapa besar porsi waktu kita untuk Sang Pemilik Waktu?” Tak bisa dipungkiri bahwa waktu menjadi acuan seseorang dalam menentukan prioritasnya. Hal yang kita prioritaskan adalah semua urusan yang kita khawatir akibatnya buruk jika tak disegerakan. Contohnya dalam kehidupan kita sekarang. Menempuh pendidikan sejak Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi karena khawatir hidup sengsara di dunia. Saat akan ujian, kita belajar hingga larut malam karena khawatir hasil ujian yang jelek jika tidak belajar. Itulah beberapa kekhawatiran yang sering kita temui dalam kehidupan yang kemudian membuat kita menjadikannya sebagai prioritas dalam hidup. Lantas, pernahkah kita mengkhawatirkan diri kita masuk nerakanya Allah sehingga menjadikan ketaatan dalam beribadah sebagai prioritas dalam hidup? Justru hal tersebut yang seharusnya menjadi prioritas kita dalam hidup karena kehidupan akhirat itu kekal, tidak seperti kehidupan dunia yang fana. Namun, pernahkah kita melihat atau mungkin mengalami keadaan ketika diri kita telah taat beribadah kepada Allah, tetapi hidup kita tidak mengalami perubahan? Kemudian, pernahkah kita melihat hidup orang lain atau mungkin diri kita dalam keadaan kurang taat beribadah kepada Allah bahkan masih menjalankan maksiat, namun memiliki kehidupan yang lebih baik ketimbang saat kita atau orang lain taat beribadah? Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak kita, yaitu; “Apa perlunya kita lelah dalam beribadah?” Kita sebagai manusia memiliki penglihatan yang sangat terbatas. Saking terbatasnya penglihatan kita, ketika berada dalam tempat gelap saja mata kita sudah tak mampu melihat keadaan sekitar. Namun, kita terkadang mengambil kesimpulan terlalu dini dalam menilai rezeki yang telah Allah berikan. Astaghfirullah. Sadarkah kita bahwa do’a yang telah kita panjatkan selama ini kepada Allah dan belum Allah kabulkan di dunia, maka akan Allah ganti dengan pahala yang besar di akhirat kelak? Jika terhadap do’a yang Allah tidak kabulkan di dunia saja demikian, bagaimana dengan hal lainnya yang bahkan kita terus berdo’a dan selalu berusaha untuk mencapainya? Sungguh mata manusia sangat terbatas dalam melihat rencana indahNya. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan kerugian yang tidak pernah berhenti.” Mungkin perkataan diatas merupakan jawaban dari kesibukan kita yang tiada henti, yaitu berupa kegelisahan yang terus membayangi hidup kita hingga ketika sholat pun hanya sekedarnya saja, dan kita terus menerus demikian hingga tak sadar bekal kita masih kurang untuk kematian yang sudah pasti akan menghampiri kita nantinya. Na’uzubillah. Semoga kita terhindar dari hal tersebut. Kemudian, ketika kita memulai langkah untuk menata diri, maka jangan sampai diri ini berputus asa karena kebaikan yang tak kunjung menghampiri. Boleh jadi niat kita perlu diperbaiki, atau bahkan cara kita masih tercampur maksiat yang tidak kita sadari. Satu hal yang menjadi penguat dikala sendiri yaitu, jangan berhenti untuk ta’at kepada Allah sampai Allah memanggil kita untuk pulang ke akhirat nanti. Sebagai penutup dan bahan perenungan untuk kita, Edgar Hamas melalui bukunya yang berjudul Belajar dari Negeri Para Nabi berkata, “Jangan berikan yang sisa untuk islam. Sebab, mereka yang menjadi musuhmu pun melakukan pekerjaan besar siang-malam untuk menghancurkannya. Lantas, mengapa kita yang memeluknya serasa enggan melangkah untuk membelanya?”. Penulis : Febri Hadi staff Badan Jaringan JMMI ITS 1718 Editor : Irshad Midle Islamic Press JMMI ITS 1718 Poster : Dimmy Maulana Midle Islamic Press JMMI ITS 1718]]>


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *