Wisuda Murokkaz dan Mereka yang Merugi di Bulan Ramadhan

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

Ahad sore lalu, tepatnya 19 Mei 2019 atau 14 Ramadhan 1440 H, prosesi wisuda Murokkaz 1440 H diselenggarakan oleh panitia RDK 40 ITS. Acara tersebut diikuti oleh 5 hafidz dan 5 hafidzah yang berasal dari berbagai wilayah. Sebelumnya kesepuluh hafidz/ah tersebut telah mengalami masa karantina selama 10 hari di Wisma Bougenville, ITS. Mereka ditarget dapat menghafal sebanyak 10 juz Al-Qur’an disertai dengan pembelajaran tahsin dan tajwidnya pula.

Setelah melalui proses sertifikasi hafalan yag diselenggarakan pada 18 Mei 2019, kesepuluh hafidz/ah tersebut dinyatakan lulus pada kegiatan Murokkaz ini. Beberapa di antaranya bahkan memperoleh gelar mumtaz saat dites kembali oleh Ustadz Anang (yang pada saat itu mewakili Ustadz Al-Hafidz) saat proses wisuda berlangsung. Kesepuluh hafidz/ah tersebut berhak menerima sertifikat hafalan yang diserahkan langsung oleh Pembina Murokkaz 40 H, yaitu Ustadz Baidun Makenun dan Ustadzah Annisa. Ustadz Anang pun juga sempat menyampaikan bahwa tugas yang paling berat bukanlah menghafal Al-Qur’an, melainkan menjaga hafalan tersebut. Ustadz Anang berharap bahwa kita semua betanggungjawab dalam menjaga hafalan al-Qur’an dengan cara muroja’ah, karena Al-Qur’an juga memiliki sifat cemburu, yaitu apabila tidak kita datangi setiap hari maka ia akan meninggalkan kita.

Acara wisuda Murokkaz diakhiri dengan pemutaran after movie yang menampilkan kegiatan para peserta saat masa karantina sebelumnya. Terlihat raut wajah bahagia yang bercampur haru dari para hafidz/ah tersebut. Setelah ini mereka akan kembali ke kampung halaman masing-masing dengan membawa hafalan Al-Qur’an yang telah mereka selesaikan.

Acara wisuda Murokkaz ini kemudian dilanjutkan dengan kajian spesial yang dihadiri oleh Ustadz Budi Santoso, Lc. , dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya. Kajian tersebut bertemakan “Mereka yang Merugi di Bulan Ramadhan”. Beliau membuka kajian tersebut dengan pernyataan, “Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Al-Qur’an pastilah mulia. Ramadhan mulia karena merupakan bulan turunnya Al-Qur’an, Malaikat Jibril merupakan malaikat paling mulia karena membawakan wahyu Al-Qur’an, Nabi Muhammad merupakan nabi paling mulia karena yang menerima wahyu Al-Qur’an, dan kita Umat Nabi Muhammad saw. merupakan umat paling mulia karena memiliki kitab Al-Qur’an. Maka jelas sudah, bulan Ramadhan juga bulan yang mulia.” Lalu, siapa sajakah yang merugi di bulan yang mulia ini?

Dalam suatu hadis riwayat Abu Hurairah: “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin’.”.

Dalam QS. Al-‘Ashr pun juga disebutkan bahwasannya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. Beliau berkata, “Dalam Q.S. Al-Baqarah, Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk melakukan kewajiban berpuasa. Lantas, apakah puasa yang kita lakukan sekarang atas dasar iman atau rutinitas semata? Kalau lapar dan haus kita hanya untuk menggugurkan kewajiban, betapa ruginya kita.”

Sesorang yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan termasuk yang dilaknat oleh Allah SWT. Mengapa bisa sesorang tidak mendapatkan ampunan dalam bulan Ramadan? Mereka adalah yang tidak berpuasa tanpa uzur, mereka yang tidak bisa meninggalkan yang diharamkan, mereka yang meninggalkan kewajiban dan meyegerakan yang diharamkan, mereka yang berdusta, serta mereka yang hanya bersungguh sungguh di awal saja.

Iman saja tidak cukup. Agar tidak sia-sia, iman perlu disertai dengan amal sholih. “Amal sholih adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Termasuk puasa ini, kalau tidak ikhlas ya percuma saja,” ucap beliau. Setelah iman dan amal sholih, hendaklah disertai pula dengan saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Sebab, orang yang beriman itu tidak hanya peduli pada dirinya sendiri. Tapi orang yang beriman juga ingin agar orang lain merasakan nikmatnya iman yang dia rasakan. Pun ibadah, termasuk puasa juga membutuhkan kesabaran. Maka dari itu penting bagi orang yang beriman untuk saling mengingatkan saudaranya agar selalu bersabar, baik itu dalam mengerjakan kebajikan maupun saat harus meninggalkan kemaksiatan.

Ustadz Budi kembali mengingatkan, “Kalau sudah melakukan empat hal tadi, jangan lupa untuk mengevaluasi kualitas puasa kita. Jangan sampai puasanya jalan, maksiatnya juga tetap dilakukan.” Salah satu ciri-ciri orang yang menyia-nyiakan bulan Ramadhan yaitu mereka yang tidak mau meninggalkan sesuatu yang haram. Rasulullah pernah bersabda, “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” Hal tersebut dikarenakan mereka hanya berpuasa dari pembatal-pembatal puasa saja, namun tidak menahan diri dari apa yang diharamkan Allah.

Sebagai penutup, Ustadz Budi menerangkan bahwa bulan Ramadhan merupakan ‘olimpiade’nya orang-orang yang bertakwa. “Babak finalnya nanti ada di 10 hari akhir bulan Ramadhan. Semangatnya jangan makin kendor. Selagi masih bisa menjumpai Ramadhan, mari kerahkan seluruh kemampuan agar bisa memperoleh medali kemenangan. Semoga saja ini tidak menjadi Ramadhan terakhir kita di dunia.” pesan beliau.

Ditulis oleh: Fawwaz dan Dinda Fadhilah

Kategori: Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *