PASCA-“JUMAT BERDARAH”: PUDARNYA ISLAMOPHOBIA DI BARAT

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

Oleh: Azrul Kiromil Enri Auni (Pimpinan Redaksi Islamic Press JMMI ITS)

Peristiwa penembakan pada Jumat lalu (15/03) di masjid Al-Noor dan masjid Linwood di Kota Christchurch Selandia Baru telah menewaskan 50 orang, termasuk seorang warga Indonesia, dan puluhan lainnya terluka (https://bbc.com 19/03/19). Namun demikian, hal ini justru menyebabkan munculnya aksi solidaritas umat Islam yang bahkan juga diikuti oleh nonmuslim di sana. Pertanda apakah ini?

Peristiwa “Jumat Berdarah” beberapa hari yang lalu membuat umat Islam dan masyarakat dunia menyatakan sikap. Marah dan kesal adalah ungkapan keniscayaan. Tidak ketinggalan para petinggi di pemerintahan di berbagai belahan dunia menentang keras penyerangan tersebut. Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Arden, menyatakan kepada pers bahwa penyerangan tersebut adalah “peristiwa kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Kecaman tidak hanya datang dari elit pemerintahan Selandia Baru sendiri. Para pemimpin dunia juga ikut melayangkan kecaman. Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan tindakan pelaku penembakan sebagai tindakan yang kejam dan sinis. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mendesak agar otoritas setempat segera mengambil tindakan untuk mencegah kekerasan lain terjadi. Tak ketinggalan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, juga mengecam keras siapapun teroris yang bertanggung jawab dalam insiden tersebut (http://aceh.tribunnews.com/ 15/03/19).

Pascapenyerangan dua masjid itu, masyarakat Selandia Baru menunjukkan aksi solidaritasnya kepada penduduk muslim di sana. Aksi solidaritas dilakukan dalam rangka memberikan kecaman dan ungkapan kemarahan atas serangan tersebut. Sampai saat ini, lantunan adzan menggema di setiap penjuru Selandia Baru. Warga nonmuslim siap siaga menjaga warga muslim Selandia Baru yang sedang shalat. Tidak hanya itu. Para wanita (nonmuslim) di sana juga ramai-ramai mengenakan hijab sebagai bentuk dukungan terhadap komunitas muslim. Kita dapat mengamati bahwa pasca-penyerangan, syiar Islam semakin massif! Ditambah lagi sejumlah warga negara Selandia Baru menyatakan keislamannya.

Hal ini menarik untuk diamati. Padahal, kita ketahui bersama bahwa Barat dikenal dengan Islamophobia-nya, terutama pascatragedi 9/11 di New York. Sepanjang tahun 2002, media Barat, khususnya media di Amerika Serikat, cenderung tidak berimbang dalam memberitakan seputar isu terorisme global. Barat dengan kekuatan medianya membuat propaganda anti-terorisme yang disusun secara sistematis. Ada kecenderungan sebagian media di Barat mengidentikkan Islam melalui pemberitaannya sebagai ajaran kekerasan dan umat Islam sebagai dalang terorisme global, sedemikian rupa membuat framing status teroris yang selalu disematkan kepada umat Islam sedunia, sehingga masyarakat dunia seolah menaruh curiga kepada umat Islam (Sri Herwindya B. W., 2010: 40).

Tidak heran jika Islamophobia menjadi momok bagi dunia Barat. Ditambah lagi, Barat memiliki sejarah kelam dengan agama sehingga memicu terjadinya pergeseran hegemoni dari agama (Kristen) ke Sekuler-liberal (lebih lanjut lihat di buku “Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal” karya Dr. Adian Husaini). Padahal, Islam memberikan kontribusi yang luar biasa bagi dunia Barat, terutama ketika Islam pernah mengalami kejayaan ilmu pengetahuan di Andalusia Spanyol. Dalam sejarah Islam, proses ekspansi disertai dengan transfer of science dari kaum muslimin. Kebudayaan terbuka dan dermawan ilmu yang dibangun oleh kaum Muslimin saat itu menjadikan setiap suku bangsa sangat terbuka lebar menimba ilmu pengetahuan dari kaum Muslimin Spanyol dalam berbagai bidang. Ketika mereka sudah kembali ke daerah masing-masing, banyak yang mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut di daratan Eropa (M. Dahlan M, 2018: 1-12).

Islamophobia masih kental di Barat, hingga terjadinya serangan teror dua masjid beberapa waktu lalu. Setelah kejadian tersebut, baik muslim maupun nonmuslim bergerak menentang. “Sinyal kebangkitan” Islam tampaknya melalui syiarnya kembali menggema di seantero Barat, termasuk di Selandia Baru. Islamophobia lambat laun luntur, ditandai dengan semakin banyaknya masyarakat Barat yang masuk Islam. Dilansir dari Pew Research Center, populasi muslim di Eropa pada tahun 2010 sebesar 19,5 juta orang. Enam tahun kemudian, jumlah populasinya meningkat menjadi 25,8 juta orang. Di samping itu, populasi nonmuslim Eropa di tahun 2010 sebesar 459,3 juta orang dan di tahun 2016 menurun menjadi 459,1 juta orang. Jika diasumsikan pertumbuhan terjadi tanpa adanya imigran muslim, di tahun 2050 jumlah populasi umat Islam di Eropa sebesar 35,8 juta, sedangkan nonmusim jumlahnya sebesar 445,9 juta. Artinya, pertumbuhan populasi umat Islam malah semakin meningkat dibandingkan nonmuslim.

Kini, penerimaan Islam di Barat semakin menunjukkan wujudnya. Islam tidak lagi – oleh mereka – dipandang sebagai agama kekerasan. Kesadaran masyarakat dunia khususnya Barat akan hal tersebut menandakan sentiment Barat terhadap Islam semakin berkurang. Sebagai tindak lanjut, adanya upaya masifikasi dari personal muslim itu sendiri dalam menunjukkan akhlakul karimah pada ranah hablun min an-naas serta peran media Islam sebagai sarana (wasilah) dalam berdakwah menjadi suatu perkara penting yang harus terus dilakukan secara istiqamah.]]>

Kategori: Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *