MERAIH AMPUNAN DI BULAN RAMADAN

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

Kajian spesial bada Asar oleh Ramadan di Kampus 1440 (RDK 40 ITS) kembali digelar pada Minggu (26/05). Kajian bada Asar yang diadakan di Masjid Manarul Ilmi ITS ini diisi oleh Ustadz Mustain Syahri, Lc dengan tema “Meraih Ampunan di Bulan Ramadan”.

Bagi Ustadz Mustain Syahri, ampunan Allah SWT adalah suatu nikmat bagi seorang hamba. Adalah nikmat yang sangat istimewa dimana nikmat tersebut ‘diobral’ setiap hari, dari pagi hingga malam. Hal tersebut sesuai dengan hadits Rasulullah; dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ عَبْدٍ مِنْهُمْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ
“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka pada setiap hari dan malam . Setiap hamba dari mereka memiliki doa yang mustajabah.” (HR Ahmad)

Ramadan adalah bulan yang istimewa dimana Allah SWT ‘mengobral’ ampunan tersebut tiap waktu. Di siang hari, seorang mukmin diwajibkan puasa sebagai sarana mendapat ampunan Allah SWT. Malamnya, Allah ‘mengobral’ ampunan tersebut melalui sholat tarawih atau qiyamul lail. Di bulan Ramadan pula, ada suatu malam dimana malam tersebut memiliki kadar lebih baik dari seribu bulan.

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang tidak dapat terhindar dari dosa. Dalam Hadits Riwayat Muslim no. 2657 yang artinya, “Sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” Allah SWT memberi ‘sarana’ berupa tidak dapatnya manusia terhindar dari dose tersebut sebagai pengingat bagi manusia bahwa manusia adalah makhluk yang hina, bergantung pada Allah, serta butuh Allah untuk memohon ampunan padaNya.

Yang harus digarisbawahi disini adalah Allah menjadikan manusia rentan dosa agar manusia memohon ampunan padaNya. Mengapa manusia butuh ampunan? Untuk masuk surga, manusia butuh ampunan Allah SWT atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Selain itu, mereka yang menghuni neraka adalah mereka yang dosa-dosanya tidak diampuni. Kerasnya hati, sulitnya mendapat hidayah, serta terhalangnya manusia dari kebaikan serta ketaatan adalah akibat dari banyaknya dosa-dosa yang telah diperbuat. Dosa juga merupakan sebab sempitnya rezeki seorang hamba. Oleh karena itu, manusia butuh ampunan Allah SWT sebagai penawarnya.

Ramadan adalah kesempatan emas untuk memenuhi kebutuhan kita akan ampunanNya. Kesempatan bertemu dengan bulan suci ini merupakan pertanda baik bagi tiap hamba. Apalagi jika bukan kesempatan untuk mendulang berkah serta ampunan dari Allah SWT. “Rasulullah, sosok yang Allah SWT jamin masuk surga, meminta ampunan seratus kali dalam sehari, bagaimana dengan seorang hamba yang berlumur dosa?” tandas dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya ini.

Jika Ramadan adalah suatu kesempatan dan lailatul qadr adalah kesempatan emas untuk mendapat ampunan dari Allah SWT, seorang hamba harus memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. “Untuk mendapat ampunan Allah SWT yang pertama adalah menyucikan tauhid. Tauhid. Tauhid adalah sebab utama yang mendatangkan ampunan. Selanjutnya adalah bertaubat dan memperbanyak istighfar. Terakhir yaitu menjaga puasa, sholat tarawih, dan amal sholeh lainnya,” ungkap Ustadz Mustain Syahri.

Kajian ini ditutup sesi tanya jawab oleh jamaah. Tak hanya soal meraih ampunan di bulan Ramadan, jamaah juga kritis bertanya perihal taubat nasuha. Taubat nasuha adalah taubat yang ikhlas, murni, dan jujur dengan cara meninggalkan perbuatan dosa tersebut, menyesalinya, serta berkeinginan kuat untuk tak mengulanginya. Tak hanya itu, pertanyaan perihal riba juga dilontarkan salah seorang jamaah. Kajian pun ditutup dengan pesan Ustadz Mustain Syahri perihal kehati-hatian dalam bermuamalah dengan bank. “Berbeda dengan riba, melakukan muamalah dengan bank adalah suatu hal yang tak dapat dihindari di zaman sekarang. Sedang riba adalah suatu hal yang wajib kita hindari. Menabung di bank boleh saja, asalkan menghindari pemakaian bunga bank karena itu tergolong riba,” pungkasnya.

Reporter: Khansa Nur Habiba

Kategori: Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *