Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Melalui “Harmoni dalam Kemajemukan”

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

Ramadhan Di Kampus 1440 Hijriah ITS (RDK 40 ITS) kembali mengadakan Kajian Spesial Ramadhan di Masjid Manarul Ilmi bertemakan “Harmoni dalam Kemajemukan” (13/05/2019). Kajian ba’da ashar ini dipopulerkan dengan hashtag #KolaborasiMenyongsongKebangkitanUmat, bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Jawa Timur dan diselenggarakan dengan mengundang K. H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M. A. ED, M. Phil.

Bagi putra ke-9 dari pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo ini, diversity atau kemajemukan bukan lagi suatu hal yang baru. Faktanya, keberagaman adalah hal yang wajar dan harus ditolerir, namun tetap dengan batas-batas tertentu. Pluralisme agama merupakan ancaman bagi umat Islam karena kebenaran agama menjadi relatif. Maksud dari ancaman itu sendiri adalah ketika seorang muslim mulai berpikir bahwa semua agama adalah sama, padahal sejatinya berbeda.

Konsep kemajemukan, perbedaan, ataupun diversity itu baru memiliki makna yang berbeda apabila dilihat dari sudut pandang Islam. Dalam Islam sendiri, adanya perbedaan, asal tidak menyangkut akidah dan syariah yang ushuliyah, adalah suatu hal yang dapat dimaklumi. Ada perkara yang bersifat ushul (fundamental atau mendasar) yang tidak bisa diganggu gugat, ada yang bersifat furu’ (cabang) yang sangat memungkinkan untuk berbeda pendapat.

Hal ini harus menjadi sorotan karena menyangkut ukhuwah Islamiyah yang sangat penting dan dibutuhkan di zaman ini. Sekarang ini, umat Islam dunia harus menerima pahitnya fitnah, entah itu intoleran, teroris, dan lain sebagainya. Jika serangan dari luar benteng pertahanan ukhuwah semakin gencar serta bertubi-tubi, harusnya internal umat Islam mengesampingkan persoalan perbedaan yang ada yang sifatnya furu’.

Urusan pluralisme yang menganggap semua agama sama tidak boleh dilakukan umat Islam. Namun, jika menyangkut urusan kemajemukan internal, perbedaan-perbedaan ringan yang sifatnya furu’iyah seharusnya bukan suatu hal yang patut diributkan, semisal doa qunut shubuh yang sebelumnya sempat menjadi trend bagi umat Islam di Indonesia.
“Misalkan saja opini tentang hanya mazhabku yang benar dan yang lain salah, nah inilah yang menimbulkan konflik,” terang Direktur INSISTS tersebut. Beliau pun melanjutkan, “Niqab, yang tidak memakai niqab dianggap keluar dari Islam. Soal safar, ada yang berkata salat tidak boleh dijamak ada yang boleh. Ini hanya masalah ijtihadiyah [bukan sesuatu yang layak diributkan].”

Mungkin bukan urusan ijtihadiyah saja, misalkan perkara wajib sekalipun: ada akhwat yang tidak berhijab lalu kita memaksa mereka, menurut beliau itu pun tidak boleh. Meski wajib, berhijab atau tidak biarkan itu menjadi urusannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tugas kita hanya menyampaikan bahwa memakai hijab itu wajib. Sekali lagi, memaksa dapat menimbulkan konflik dan perpecahan persaudaraan antarmuslim, padahal kita semua sedang gencar digempur dari luar.

“Iman harus disertai perbuatan dan ber-ukhuwah Islamiyah itu adalah salah satu keimanan yang harus dibuktikan,” pungkasnya.

Kajian yang mayoritas dihadiri oleh jamaah laki-laki ini pun dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab hingga sekitar pukul lima sore. Ada beberapa jamaah perempuan yang turut menyimak kajian di lantai 2 Masjid Manarul Ilmi hingga selesai acara, seperti Afiyah dan Herlina.

Bagi Herlina, kajian oleh K. H. Hamid Fahmy Zarkasyi ini sangat menarik dan menginspirasi, apalagi di bagian di mana, “Iman itu harus diiringi dengan perbuatan,” termasuk di antaranya mencintai dan menyayangi saudara sesama Muslim.
Sementara itu, menurut Afiyah kajian ini semakin menyadarkannya untuk lebih tegas memupuk ukhuwah Islamiyah, “Karena itulah yang membuat umat Islam besar dan bahkan menurut ustadz-nya tadi membentuk peradaban Islam, sebuah peradaban yang pernah berjaya. Buktikan kembali hal itu di zaman sekarang!” cetusnya.

Sebagai umat terbaik, hendaknya kita meningkatkan ukhuwah Islamiyah sebagai bentuk keimanan kita dengan sebaik-baiknya. Jika menyingkirkan duri di jalanan adalah bukti keimanan yang paling kecil, insya Allah, ukhuwah Islamiyah sebagai bukti keimanan yang lebih besar bisa kita realisasikan!

Reporter: Meutia Z. Arianti


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *