Bumi Syam Momentum Kejayaan Umat Islam

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

Rabu lalu (15/05/2019), kajian bada asar kembali digelar oleh panitia RDK 40 ITS di Masjid Manarul Ilmi. Kajian ini rupanya telah dinanti-nanti karena ada lebih dari lima puluh orang yang menghadirinya.

Agenda tersebut dihadiri oleh Edgar Hamas, founder @gen.saladin, sebagai pemateri. Beliau sudah banyak mentadabburi sejarah Islam yang luar biasa dan mengajak kaum Muslim lain, terutama “anak milenial” untuk mencintai sejarah lewat Gen Saladin.

Pertama kalinya datang di ITS, Edgar Hamas membuka kajian sore tersebut dengan membaca surat At-Tiin. Surat ini berkaitan dengan pokok bahasan kajian tersebut: Syam.

Beliau lantas memberikan pendahuluan tentang polemik Syam dan bahwa beliau tidak akan menunjukkan foto-foto tragis, kejam, dan kejahatan kemanusiaan yang penuh darah serta air mata pada kajian tersebut karena menurut beliau, “Sebuah umat tidak akan menjadi umat yang besar kalau berjuang karena ‘reaksi’ (sekadar melibatkan emosi saja).” Oleh karena itu, pemuda yang saat ini menyenyam pendidikan di Universitas Islam Madinah tersebut ingin mengajak para jama’ah yang hadir untuk lebih mengenal lebih jauh tentang Syam, negeri yang katanya harus diperjuangkan seluruh umat Islam.

Syam adalah sebuah wilayah yang dikenal strategis sepanjang sejarah dunia. Wilayah tersebut meliputi Palestina, Yordania, Suriah, dan juga Lebanon. “Tidak ada wilayah di dunia ini yang lebih strategis daripada Syam,” ucapnya, “Itulah mengapa banyak bangsa yang memperebutkannya.” Bahkan, Napoleon Bonaparte pernah berkata bahwasanya siapa yang ingin menguasai dunia harus menguasai Syam terlebih dahulu.

Syam, di balik semua permasalahan yang ada di dalamnya, adalah milik kaum Muslimin. Terkait dengan perkataan ketua perhimpunan Palestina di Yaman, “Palestina adalah sekelompok besar akidah kita.” Ini benar karena banyak kisah yang terjadi di wilayah ini ada di Alquran mulai dari Nuh, Yusuf, Musa, hingga Isa. Ada sembilan belas dari 25 Nabi dan Rasul yang di utus Allah Subhanahu wa Ta’ala di Syam.

Kedudukan Syam di mata agama Islam sangatlah tinggi. Syam merupakan tanah yang diberkahi, di sinilah para malaikat mengepakkan sayap-sayapanya. Syam juga merupakan tanah yang suci karena di sinilah letak Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Muslim.

Syam adalah negeri para nabi dan berkahnya hingga seluruh alam. “Keberkahan itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan bumi Syam,” lanjut Edgar, “Itulah mengapa saya tadi membacakan surat At-Tiin. Allah dalam surat At-Tiin tidak bersumpah atas buah tin atau zaitun. Menurut Ibnu Katsir, Allah bersumpah dengan bumi dimana Syam berada.” Maka dari itu, kita sebagai umat Muslim tidak boleh sedikit pun menyerah memperjuangkan Syam dan jangan sekali-kali melepaskannya ke tangan musuh-musuh Islam.

Kajian ini ditutup dengan sesi tanya-jawab dari ikhwan maupun akhwat. Salah satu yang menarik adalah pertanyaan tentang apakah umat agama lain pun berhak atas tanah Syam, mengingat Israel “secara teknis” berhak atas daerahnya tersebut setelah adanya kesepakatan dengan Inggris sebagai pemenang Perang Dunia pertama.

Edgar Hamas menjawab bahwa dari semua agama, Islam adalah agama yang paling berhak atas daerah West Bank tersebut. Israel mencuatkan bahwa umat Yahudi berhak atas tanah di wilayah Palestina karena merupakan negeri yang “dijanjikan Allah” kepada bangsa Yahudi di zaman Musa ‘alaihissalam—atau mungkin karena merupakan tempat tinggal Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun, jauh sebelum itu, dua ribu tahun sebelum kedatangan bangsa Yahudi di daerah ini, sudah lebih dulu datang bangsa Kan’aniyah, yaitu Nabi Nuh ‘alaihissalam dan para pengikutnya yang mengungsi setelah adanya banjir besar. Maka dari itu, umat Islam lebih berhak atas daerah ini.

Kajian bada asar tersebut menghadirkan sifat kritis di tengah-tengah jamaah, dan juga perasaan takjub atas bumi Syam sebagai memomentum kejayaan Islam. Salah satunya adalah Ainur. Mahasiswi semester akhir ini mendapatkan pesan berharga darinya, “Ghirah umat Islam di dunia ini memang semakin mantap ya. Makanya, kalau bisa kita semua perjuangkan Syam bukan sebagai ‘reaksi’ atau karena iba saja, tapi karena ilmu.”

Peserta kajian lainnya, Amalia Nusa Dewi pun menghimbau umat Islam, terutama generasi pemudanya untuk mempelajari sejarah Islam lebih jauh. “Belajarlah sejarah Islam, karena di tangan Islam inillah Syam Berjaya.”

Reporter: Meutia Z. Arianti dan Khansa Nur H.

Kategori: Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *