Tjokroaminoto dan Sebuah Rumah Kost di Surabaya

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada


Oleh: F. Zaini. A.

31 Agustus 1948, Manowar Muso atau Paul Mussote alias Muso tewas ditembak di sebuah pemandian umum di desa Semanding, Ponorogo. Republik Soviet Indonesia yang ia dirikan hanya bertahan seumur jagung, 12 hari tepatnya, berkat operasi gabungan yang dipimpin Kolonel Gatot Subroto dan Kolonel Sungkono. Soekarno sendiri memberi tawaran pada rakyat Indonesia pada waktu itu “Ikut Bung Karno, atau Ikut Bung Muso.” Dengan berat hati ia harus melawan si “Abang”, panggilan akrab Bung Karno pada Muso, demi keutuhan dan kelangsungan NKRI.

5 September 1962, Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo tewas dihadapan regu tembak di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu. Kabarnya Bung Karno sampai menangis ketika menandatangani perintah eksekusi tersebut, tak tega ia harus membunuh Kartosuwiryo yang tidak lain merupakan temannya dahulu.

Bung Karno, Kartosuwiryo, dan Muso adalah tiga orang “Pentolan Politik” nusantara pada masa awal kemerdekaan yang berasal dari tiga spektrum politik yang berbeda yaitu Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Namun tahukah kamu bahwa dahulu mereka tinggal dalam satu atap? Ya, mereka tinggal di rumah kost milik Tjokroaminoto.

Pada awalnya Soeharsikin, istri Tjokroaminoto, menyadari penuh kondisi yang dialami rumah tangganya. Sebagai seorang petinggi Sarekat Islam, Tjokroaminoto jarang berada di rumah. Permasalahan tersebut membuatnya ingin membantu meringankan kebutuhan rumah tangga. Untuk melaksanakan maksudnya, ia tidak perlu meninggalkan rumah. Ia membuka rumahnya di Gang 7 Peneleh sebagai tempat kost. Biaya yang dikenakan kepada para pelajar untuk tinggal di rumahnya, kemudian menjadi pendapatan yang mampu meringankan kebutuhan rumah tangga Soeharsikin dan Tjokroaminoto (Gonggong, 1985: 16-17).

Rumah Kost Soeharsikin, yang buka pada tahun 1912 hingga 1922, sebelumnya sudah dikenal sebagai ‘Markasnya Sarekat Islam’. Hampir setiap hari rumah tersebut didatangi oleh tamu yang bermacam-macam bangsa, corak, dan tujuan. Karenanya, rumah kost itu menjadi gelanggang adu ideologi antara tamu-tamu Tjokroaminoto hingga penghuni kost. Kunjungan yang dilakukan oleh para tamu tersebut memberikan dampak bagi para pemuda penghuni rumah kost. Seperti Soekarno yang tertarik dengan konsep pemikiran Ahmad Dahlan melalui gerakan Muhammadiyah yang dianggap modern. Sementara Musso dan Semaoen tertarik dengan pemikiran Sneevliet seorang aktivis ISDV (Indische Sociaal Democatishe Vereeneging) (Lubis, 2010:6, dan Tempo, 2011:115). Kedatangan tamu-tamu tersebut memberikan suatu pengajaran tambahan disamping didikan yang diterapkan oleh Tjokroaminoto kepada anak-anak kost.

Apa didikan Tjokroaminoto yang membuat para penghuninya kelak menjadi “Pentolan Politik” nusantara di zaman pergerakan? Menurut Amelz dalam buku karangannya “H.O.S Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya Jilid I”, pendidikan agama menjadi salah satu cara yang digunakan oleh Tjokroaminoto untuk mengimbangi pendidikan barat yang didapat oleh anaknya dari sekolah-sekolah Belanda. Pendidikan yang terapkan oleh Tjokroaminoto di rumah kostnya dapat dijadikan sebuah rujukan dalam bentuk pendidikan keluarga dan sesuai dengan nilai-nilai karakter. Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diharapkan memberikan pengaruh yang positif bagi mentalitas seorang anak dalam pendidikan keluarga. Pendidikan Islam yang diajarkan Tjokroaminoto nampak diserap dengan baik oleh anak-anak kostnya dan tertanam dalam pemikiran serta mempengaruhi tindakan anak-anak kost. Pemahaman mengenai Islam turut mewarnai pemikiran dan tindakan anak-anak kost Tjokroaminoto yang kemudian juga memberikan warna pada aktivitas dalam organisasi maupun tulisan di berbagai penerbitan dan pidato.

Pendidikan Islam merupakan sebuah hal yang penting bagi masa depan seseorang. Pendidikan Islam tidak melulu menjadikan alumnusnya seorang dai yang hanya mengajar agama, namun juga seorang politikus, ilmuwan, insinyur, dan banyak lagi. Maka dari itu, diperlukan sebuah pendidikan agama di luar universitas bagi para pemuda untuk menciptakan generasi seperti generasi pergerakan.

Daftar Pustaka

Amelz, 1952.H.O.S Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya Jilid I. Jakarta: Bulan Bintang.

Gonggong, A. 1985.HOS. Tjokroaminoto. Jakarta: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Lubis, M. 2010. Sukarno & Modern Islam. Depok: Komunitas Bambu

https://id.wikipedia.org/wiki/Sekarmadji_Maridjan_Kartosoewirjo diakses pada April 2019

https://id.wikipedia.org/wiki/Musso diakses pada April 2019


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *