“Problematika Pendidikan Kita Hari Ini” | J-News for Press Release

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

Sistem pendidikan saat ini sudah seharusnya ditegakkan dengan sebaik-baiknya agar dapat terbentuk manusia yang unggul dan sesuai dengan fitrah manusia sebagai “manusia yang bertakwa” (la’allakum tattaqūn). Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Adian Husaini dalam Seminar Pendidikan dengan tema “Problematika Pendidikan Kita Hari Ini” di Gedung Teater B ITS, diselenggarakan oleh Komunitas Kajian Pelepah Kurma bekerjasama dengan Himmpas ITS (Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana ITS) dan JMMI ITS. Jadi, ‘takwa’ adalah status ideal seorang manusia. Sebab, memang, orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa. “Inna akramakum ‘indallāhi atqākum”. (Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa) (QS. 49: 13).

Dr. Adian Husaini menyebutkan bahwa dalam tataran konstitusi dan perundang-undangan, ada konsensus nasional yang menempatkan “manusia takwa” sebagai sosok manusia Indonesia ideal. Di UUD 1945 pasal 31 ayat 3 disebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang,” dan Tujuan Pendidikan Nasional dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Dalam UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi juga disebutkan, bahwa Pendidikan Tinggi bertujuan untuk mengembangkan potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa, dan seterusnya.

Logisnya, pemerintah kemudian merumuskan dan menjabarkan konsep “manusia takwa” itu lebih terperinci dan operasional. Indah sekali jika kemudian pemerintah menetapkan: tujuan, kurikulum, program, dan evaluasi pendidikan ketakwaan. Begitu juga dalam program pembangunan nasional, dibuat indikator-indikator untuk menentukan apakah sasaran-sasaran pembangunan ketaqwaan itu mencapai hasil yang baik atau tidak.

Tujuan pendidikan yang baik itu adalah menanamkan nilai-nilai keadilan dalam diri seseorang. Keadilan itu bisa didapat ketika kita bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya sesuai proporsinya dengan tepat. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai adab.

Adab merupakan pengenalan dan pemuliaan, dimana ilmu pengetahuan memiliki hirarki/urutan tempatnya dalam kaitannya dengan realitas dan dengan kemampuan fisik, kecerdasan, dan potensi spiritual. Adab sangat penting bagi seorang manusia, sebab porsi adab dalam Islam adalah 2/3, dan 1/3 sisanya adalah ilmu. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menuliskan, bahwa Ali bin Abi Thalib memaknai perintah Allah, “Quu anfusakum wa ahliikum naara” (Lindungi dirimu dan keluargamu dari api neraka) (QS. 66: 6), dengan “addibuhum wa ‘allimuhum” (didiklah mereka agar beradab dan ajarkan ilmu kepada mereka).

Pentingnya adab sebelum ilmu, sehingga seperti yang dikatakan Direktur At-Taqwa College Depok tersebut, bahwa bahaya ilmu tanpa adab, maka dikhawatirkan seseorang akan menjadi penjahat yang berilmu. Sebuah fakta menarik sebagaimana yang tertulis dalam buku “Tragedy and Hope” karya Carroll Quigley, salah satu tokoh peradaban barat, adalah di balik kemajuan yang sangat pesat peradaban di barat dan keberhasilan selama 600 tahun memimpin dunia, ada satu yang tidak bisa diketahui, yakni bagaimana mendidik anak yang baik. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan adab sangat perlu untuk dipelajari kembali. Orang Islam mengenal hal-hal yang wajib, Sunnah, mubah, makruh, maupun halal, yang mana semua ini menyatakan adab dalam ilmu, yakni ada ilmu yang wajib kita pelajari. Dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali, “ada yang namanya ilmu Nafiq, yakni Ilmu yang bermanfaat yang menambah ketakutan kepada Allah, yang menajamkan mata hati, serta ilmu yang mempertinggi kecintaanmu kepada Akhirat”.

Begitu banyaknya problematika saat ini muncul karena mulai hilangnya adab sehingga Prof. Naquib al-Attas mengatakan bahwa akar masalah umat saat ini bukanlah masalah politik, hukum, dan sebagainya. Masalahnya ada dalam diri manusia itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan adab mulai harus diperhatikan, baik pendidikan jasad, pendidikan jiwa, maupun pendidikan spiritual. Adab telah menjadi sastra, dimana sastra adalah meletakkan kata-kata pada tempatnya sehingga menjadi sebuah struktur bangunan yang indah. Di sisi lain, menurut K.H. Hasyim Asyari, “Siapa yang tidak beradab, maka tidak bersyariat, tidak beriman, dan tidak bertauhid.”, sehingga ini akan menjadi Challenge of Modernity, yakni peradaban barat yang antiagama.

Reporter: Mochammad Yusuf Irianto (Ketua Divisi Isu dan Propaganda)
Editor: Azrul Kiromil Enri Auni (Pimpinan Redaksi Islamic Press)

]]>


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *