Kesempurnaan Akhlak Nabi (2)

Dipublikasikan oleh Islamicpress pada

Oleh: Ibnu Sanusi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sambil memberikan pengajaran (mau’izhah) kepada para sahabatnya,

“Sesungguhnya di antara kesempurnaan iman orang mukmin adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lemah lembut kepada keluarganya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

Akhlak mulia beliau tidak hanya terbatas pada saat bergaul dengan suatu kaum atau golongan tertentu saja, tetapi juga di setiap pergaulannya. Beliau selalu berbaur kepada sahabatnya, tidak pernah mengucilkan seorang pun dari mereka. Selalu duduk bersama orang-orang fakir, mengasihi orang-orang miskin. Berjalan dengan budak perempuan yang berjalan di jalan-jalan Madinah. Beliau juga menjenguk orang-orang yang sakit, melayat orang yang meninggal, mengunjungi para sahabatnya di rumah mereka.

Di setiap keadaan beliau selalu tersenyum, menampakkan kegembiraan, wajah yang berseri. Beliau mennyayangi umatnya. Di saat ada dua pilihan yang harus dipilihnya, beliau selalu memilih yang paling mudah selama itu bukan dosa. Jika itu dosa pun, beliau adalah yang paling menjauhinya. Beliau sangat pemaaf sampai kepada orang yang telah menyakitinya dengan sangat keras sekalipun.

Perhatikanlah bagaimana respons Rasulullah ketika ia diludahi seorang Yahudi. Sampai pada suatu waktu ketika Rasulullah tidak terkena ludah orang tersebut, Rasulullah malah bertanya-tanya, ke mana orang yang sering meludahi beliau. Ternyata ia dalam keadaan sakit. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah malah menjenguknya. Sontak orang Yahudi itu kaget melihat kedatangan Rasulullah. Melihat sikap Rasulullah yang seperti itu, ia terkesima dan menyatakan syahadat.
Keagungan akhlak Nabi juga tampak di rumahnya, termasuk dalam pergaulannya bersama nonmuslim dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan beliau memperlakukan musuh-musuhnya dan orang-orang yang membencinya dengan perlakuan yang penuh kasih.

Dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, dari ‘Aisyah, Abu Sufyan sebagai seorang pemimpin kaum musyrikin sebelum masuk Islam, telah menjadi saksi akan keindahan akhlak beliau. Dia berkata setelah dirinya masuk Islam, “Demi Allah, sesungguhnya engkau orang yang sangat mulia. Aku telah memerangimu, maka sebaik-baik orang yang berperang adalah engkau. Kemudian aku pun berdamai denganmu, maka sebaik-baik orang yang berdamai adalah engkau. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”

Seorang sejarawan dan orientalis asal Inggris, William Muir (1819–1905), di dalam bukunya Hayaatu Muhammad, menerangkan kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Mudah sekali menggambarkan semua kehidupan (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Perasaan dan etika adalah yang paling tampak dalam pergaulannya kepada pengikutnya yang paling rendah derajatnya sekalipun. Sifat tawadhu, belas kasihan, sabar, mendahulukan yang lain, dan dermawan adalah sifat-sifat beliau yang selalu tampak pada pribadinya dan menarik kecintaan semua orang yang berada di sekelilingnya. Tidak pernah terdengar beliau menolak undangan orang yang paling rendah strata sosialnya, tidak juga hadiah sekecil apapun itu.

Ia tidak pernah meninggikan dan menampakkan diri di dalam perkumpulannya. Tidak ada seorang pun yang bersamanya merasa dibeda-bedakan dalam penerimaannya, walaupun kepada yang rendah derajatnya. Jika beliau bertemu dengan orang yang gembira karena keberhasilan yang diperolehnya, beliau memegang tangannya dan ikut bergembira dengan orang tersebut. Ketika sedan bersama orang yang tertimpa musibah dan kesedihan, beliau ikut menemaninya dengan penuh kelembutan. Pada saat yang sulit, beliau membagikan makanannya kepada orang-orang.”

Inilah Rasul yang kita banggakan, juga oleh seluruh umat manusia. Akhlaknya benar-benar akhlak Al-Qur’an.

Disalin dari buku terjemahan Uswatun lil ‘Alamin (Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam) karya Dr. Raghib As-Sirjani, penerbit Insan Kamil Solo – dengan sedikit suntingan tanpa menghilangkan substansi.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *