Bukankah Kita Lebih Harmonis Apabila Saling Memahami?


Kita hidup di Indonesia dengan segala keberagamannya. Mulai dari suku, ras, budaya, hingga agama yang berbeda. Hal ini tak jauh berbeda dengan zaman Nabi Muhammad S.A.W. pada sistem masyarakat Madani yang mana pada saat itu muslim sebagai kaum mayoritas dan pemegang sistem kekuasaan hidup berdampingan dengan orang Yahudi yang terdiri dari berbagai suku-suku. Hal tersebut tak terlepas dari perjanjian formal beberapa suku di Madinah yang kemudian dikenal sebagai Piagam Madinah.

Pada piagam Madinah pasal 16 menerangkan bahwa sekalipun orang Yahudi, mereka tetap berhak atas pertolongan dan santunan selama tidak ada kaum muslim yang dizalimi oleh mereka. Artinya setiap orang berhak atas bantuan selama tidak ada kezaliman yang mereka perbuat. Piagam Madinah adalah bukti bahwa kaum muslim pada zaman Nabi Muhammad dan orang-orang non muslim dapat hidup berdampingan satu sama lain, menciptakan kehidupan sosial yang harmonis. Hal ini memang sebagai tujuan utama Piagam Madinah untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj serta menyatukan semua suku-suku di Madinah pada tahun 622 M. Lalu bagaimanakah sikap bertoleransi beragama dalam islam?

Menurut KBBI, toleransi artinya mendiamkan atau membiarkan. Hal ini sangat berbeda dengan pemahaman orang-orang yang salah kaprah dalam mengartikan kata menoleransi suatu agama tertentu sebagai keikutsertaan perayaan peribadatan. Padahal dalam Islam diatur sikap bertoleransi yang tidak bertentangan dengan akidah tauhid Islam seperti asal muasal turunnya surat Al Kafirun.

Suatu hari, beberapa orang kafir Quraisy Mekkah datang kepada Nabi Muhammad. Mereka menawari Nabi Muhammad sebuah ajakan untuk menyembah tuhan mereka selama setahun, dan sebaliknya mereka menyembah Allah selama setahun. Bahkan, apabila Nabi Muhammad menerima tawaran itu, beliau dijanjikan menjadi orang paling kaya se-jazirah arab. Namun tawaran itu lalu ditolak Nabi Muhammad, maka turunlah surat Al Kafirun.

Dalam Islam, tidak ada larangan untuk melakukan kerja sama dalam urusan keduniaan dengan orang non muslim seperti melakukan perniagaan. Bahkan dalam Islam dianjurkan untuk berbuat baik dan adil kepada orang lain tanpa memedulikan status orang tersebut selayaknya kisah Nabi Muhammad yang menyuapi pengemis buta Yahudi setiap hari hingga wafatnya nabi atau kisah Umar yang melarang gubernur Mesir menggusur gubuk milik keluarga Yahudi untuk didirikan masjid. Namun tentu untuk urusan keimanan dan peribadatan tidak ada toleransi di dalamnya. Hal tersebutlah yang menjadi sebab turunnya surat Al Kafirun.

Apa yang menjadi permasalahan utama umat beragama di Indonesia ini sebenarnya bukanlah tentang toleransi, namun tentang kepedulian untuk saling memahami terhadap batas-batas setiap agama. Bukankah kita lebih harmonis apabila saling memahami?

Lakum diinukum, waliyadin.

Tulisan oleh: Romadhona Staf Ahli Islamoc Press JMMI 1718
Poster oleh: Kaeksi Sekar Midle Islamic Press JMMI 1718

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *