Jangan Mau Jadi Umat Bebek

Perayaan malam tahun baru 2018 telah berlangsung beberapa jam yang lalu. Tahun 2017 sudah berlalu dan menjadi kenangan indah maupun sebaliknya bagi setiap orang. Saatnya menatap tahun baru 2018 dengan merencanakan hal-hal positif yang akan dilakukan. Banyak dari masyarakat Indonesia yang turut larut dalam kemeriahan perayaan tahun baru semalam. Hal ini tentu bukanlah hal baru, dikarenakan sudah menjadi rutinitas di setiap awal tahun bagi masyarakat Indonesia. Namun, sudahkah kita sebagai umat Islam di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia memahami urgensi atau manfaat dari kegiatan tersebut? Ataukah selama ini kita belum mengetahuinya dan hanya ikut-ikutan saja?
Ir. Soekarno berpesan, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” atau disingkat “Jas merah”. Oleh karena itu, mari kita membahas hal ini dari sisi sejarah terlebih dahulu.
Berdasarkan pemaparan yang terdapat di Wikipedia mengenai Tahun Baru, kita dapat menyimpulkan jika perayaan tahun baru Masehi diawali oleh Julius Caesar dari Romawi kuno yang notabene beragama non Islam. Hal ini terjadi jauh sebelum Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wasallam diutus untuk menyempurnakan agama Islam yang diridhoi Allah dan juga sebelum peristiwa hijrah Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wasallam dari Mekkah ke Madinah yang menandai bermulanya kalender Hijriyah. Orang-orang jahiliyah sebelumnya sudah memperingati hari-hari raya yang hanya diisi dengan senang-senang, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wasallam:

“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).
Hari Nairuz dan Mihrajan merupakan hari raya orang kafir saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang di Madinah. Saat itu mereka mempunyai kebiasaan merayakan hari Nairuz dan Mihrajan. Nairuz adalah hari di awal tahun baru Masehi (Syamsiyyah) versi Majusi, sedangkan Mihrajan hari raya 6 bulan setelahnya. Mendapati fenomena ini saat di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa umat Islam sudah mempunyai dua hari raya yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha, tidak perlu ikut-ikutan merayakan hari raya tersebut.

Namun realita saat ini menunjukkan jika umat Islam khususnya di Indonesia banyak sekali yang ikut terseret dalam lingkaran kesia-siaan perayaan tahun baru. Bahkan realita ini telah diperingatkan jauh hari oleh Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Musim – Shahih)

Kegiatan mengikuti kebiasaan orang-orang non Islam disebut dengan tasyabbuh. Umat Islam harus memiliki harga diri agar tidak seperti buih yang ada di lautan. Lagipula Allah telah menetapkan dua hari raya untuk kita, yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Selayaknya kita bergembira dan memeriahkan kedua hari tersebut. Kita tidak perlu lagi ikut-ikutan merayakan kebiasaan orang-orang non-muslim yang tidak sesuai prinsip Islam dan bisa melemahkan akidah kita. Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka”

Perayaan tahun baru Masehi merupakan kebiasaan/tradisi orang-orang non Muslim sejak zaman dahulu hingga sekarang. Kita sebagai umat Islam sebaiknya lebih bertindak bijaksana dan mempertahankan iman kita dalam menanggapi persoalan ini. Jangan sampai kita menjadi umat “bebek” yang sukanya mengikuti kebiasaan orang-orang jahiliyah terdahulu dengan membuang waktu dan menghamburkan uang untuk hal nirfaedah. Masih banyak hal positif yang bisa kita lakukan daripada sekedar tenggelam dalam euforia tahun baru, seperti menyantuni anak yatim atau lainnya.

Tulisan oleh: Zubair Staf Islamic Press JMMI 1718
Poster oleh: Atikah Islah Midle Islamic Press JMMI 1718

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *