Inspirasi Kita : Berjuanglah Hingga Allah Sendiri Yang Menghentikan

Ketika mengambil keputusan untuk ikut terlibat dalam kontestasi Pemira ITS dulu saya sempat berpikir. Untuk lulus 4 Tahun dengan predikat baik sangatlah mungkin, ketika Tugas Akhir dan sisa tanggungan akademis sangat mungkin untuk diselesaikan pada waktu yang pas, sama seperti yang lain. Namun pada saat itu, saya dihadapkan pada sebuah keadaan, ketika KM ITS sedang dalam masa-masa yang cukup rumit. Kemoloran kepengurusan sebelumnya, pelaksanaan Musyawarah Besar V tak kunjung jelas, hingga pergerakan mahasiswa ITS yang seakan sudah diujung tanduk. Pada saat itulah saya memutuskan untuk menahan keinginan saya untuk lulus 4 Tahun bersama dengan yang lain. Karena saya yakin tidak rela hati saya meninggalkan KM ITS dalam kondisi carut-marut, sedangkan begitu banyak pelajaran yang saya dapat di sini.

Itu adalah cerita beberapa waktu lalu, ketika saya dikatakan “gila”, “aneh”, “buang-buang waktu”, “tidak jelas”, dan kata-kata lain yang datang sesaat saya menunda pengerjaan Tugas Akhir saya, menggagalkan beberapa tanggungan akademis saya, untuk terlibat dalam mengurus sistem besar bernama KM ITS. Terlihat janggal memang jika dilihat dari kacamata biasa, namun seperti yang biasa saya dapatkan dari agama juga doktrin sehari-hari orang tua, bahwa ‘Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain’. Dalam keyakinan tersebut juga dukungan orang sekitar, saya dan beberapa rekan dekat memberanikan diri untuk menunda kelulusan demi mencoba berkarya lebih untuk orang lain di KM ITS.

Pada waktu itu jelas perasaan galau dan rasa cemas tidak akan mendapatkan apa-apa dari penundaan masa studi ini terus menghantui. Apalagi dengan keadaan KM ITS yang sekarang, seakan mustahil untuk dapat diselesaikan. Sampai-sampai ada celetukan dari teman dekat berkata bahwa “Mengurus KM pada saat ini sama saja dengan misi bunuh diri”. Namun kembali lagi kacamata yang saya dan rekanan gunakan saat itu berbeda dengan kebanyakan orang. Kami terus berpikir pada saat itu, kalau saja kami menyelesaikan studi sedangkan meninggalkan KM ITS dalam keadaan seperti waktu itu. Tidak akan tenang rasanya seumur hidup dengan perasaan tidak enak dan berhutang.

Namun akhirnya apa yang terjadi? Ternyata penundaan masa studi ini malah mendatangkan kebahagiaan lain. Kebahagiaan untuk bisa berbuat banyak bagi orang lain, kebahagiaan untuk turut serta dalam perubahan, kebahagiaan untuk bisa memanfaatkan umur yang singkat ini pada jalan yang insyaAllah bermanfaat. Menunda kebahagiaan diri dengan mendahulukan kepentingan umum ternyata mendatangkan kebahagiaan yang lain. Yang pada awalnya saya seringkali ragu apa mungkin balasan Allah akan datang di masa-masa sulit ini, ternyata terjawab dengan perasaan senantiasa bahagia dalam misi perjuangan ini.

Maka dari itu kawan, jangan pernah meragukan balasan Allah SWT, karena seringkali balasan yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan namun lebih besar dari apa yang bisa kita bayangkan. Berbuat baik untuk orang banyak adalah prioritas yang harus menjadi pertimbangan utama ketika kita melangkah. Walaupun kadang kali dicaci hingga dialienasi oleh banyak orang. Namun apa salahnya? Bukan kah perjuangan Rasullulah SAW dulu diawali dalam kondisi terasingkan?

Tetap jaga idealisme dan pegangan terhadap keyakinan kita. Karena kita tidak pernah tahu kapan, dimana, dan bagaimana Allah SWT membalas segala kebaikan yang kita perjuangkan untuk orang banyak.

Mastatho’tum! Berjuanglah hingga Allah sendiri yang menghentikan.

Penulis : Haekal Akbar Kartasasmita

#InspirasiKita
#JMMI1718
#SemangatMENGINSPIRASI
#SenseOfDakwah
#ITSSurabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *