Feminisme dan Efek Domino

Feminisme adalah suatu gerakan yang memperjuangkan kesetaraan hak wanita terhadap pria. Feminisme muncul karena reaksi ‘simpati’ atas diskriminasi yang terjadi pada wanita yang terjadi hampir di semua aspek kehidupan semenjak peradaban kuno. Inti tuntutan dari feminisme ini adalah bahwa apapun yang bisa dilakukan oleh pria, maka wanita juga harus bisa melakukannya.

Namun, dibalik tuntutannya yang sekilas terlihat positif ini, feminisme memberikan beberapa dampak negatif. Di antaranya:

Kebebasan tanpa batas
Feminisme menjadikan wanita akan menganggap diri mereka mampu mengurus segala perkara, dan hal tersebut menjadikan mereka berlaku semau sendiri, sehingga terjadi penyelewengan fitrah.

Materi menjadi standar kebahagiaan
Saat ini, wanita dikatakan sukses apabila ia memiliki pangkat, uang, dan gaya hidup yang berkelas. Itu sebabnya wanita berlomba-lomba dengan pria, terutama dalam hal karir, untuk mendapatkan tiga hal tersebut. Dan apabila ketiga hal tersebut telah diperoleh, para wanita akan merasa dirinya mampu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, karena menjadi mandiri kini merupakan suatu tren yang dikejar oleh wanita.

Persaingan lintas gender
Feminisme menuntut adanya persamaan hak dan peran sosial wanita terhadap pria. Dan hal tersebut tentu memunculkan persaingan lintas gender. Padahal wanita dan pria memiliki fitrah yang berbeda.

Dampak negatif tersebut pun memberikan efek domino yang kurang baik pula. Di antaranya:

Broken Home
Feminisme menjadikan fungsi fitrah sosok ayah dan terutama, ibu, tidak berjalan semestinya. Karena tugas mendidik anak dengan kasih sayang merupakan fitrah wanita, dan ini direnggut oleh kesibukan-kesibukan mengejar duniawi yang berakibat dapat menjadikan hubungan keluarga tidak harmonis hingga mampu menyebabkan pertikaian. Suasana keluarga yang tak lagi nyaman dapat mengubah perilaku anak-anak, sehingga mereka melakukan pelampiasan yang berbahaya, seperti narkoba, pergaulan bebas, dan tindakan kriminal. Dan hal tersebut tentunya berujung pada kerusakan generasi selanjutnya.

Pergaulan Bebas
Bagi kelompok feminis radikal, pernikahan bagi wanita adalah suatu bentuk penindasan, karena setelah menikah, seorang wanita harus patuh kepada suaminya. Mereka beranggapan lebih baik ‘sendiri’ dari pada harus hidup di bawah ‘tirani’.

Namun, manusia diciptakan memiliki kodrat untuk melangsungkan keturunan. Sehingga hal tersebut menjadikan orang-orang yang tidak berkomitmen menikah untuk melampiaskannya pada pergaulan bebas. Karena, pergaulan bebas itu ‘praktis’. Jika sudah tidak suka, maka tinggalkan saja, begitu pikirnya.

Aborsi
Suatu ‘kecelakaan’ dalam pergaulan bebas dapat menyebabkan kehamilan, dan salah satu cara yang biasa ditempuh untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan melakukan aborsi.

Aborsi memiliki dampak yang sangat buruk bagi psikologis wanita karena wanita dihadapkan pada dua pilihan berat, mempertahankan janin hasil zina atau menjaga kehormatan keluarga, di mana pilihan tersebut haruslah mengorbankan nyawa manusia yang tidak berdosa.
Setelah melakukan aborsi, seorang wanita membutuhkan dukungan mental. Karena luka batin akibat membunuh manusia yang tak berdosa dan juga membunuh nalurinya sebagai seorang ibu.

LGBT
Perasaan diskriminasi yang dialami wanita menjadikan mereka memiliki pendapat bahwa pria telah berlaku tidak adil atas kebebasan yang mereka miliki. Kekecewaan tersebut menjadikan wanita merasa lebih baik menjalin hubungan dengan sesama jenis saja karena hal tersebut dianggap dapat saling memahami tanpa merasakan adanya diskriminasi gender. Lebih dari itu, seorang wanita dapat menjadi transgender atau mengubah jenis kelamin dari wanita menjadi pria.

Eksploitasi Wanita
Di acara pameran otomotif atau rokok, kita biasa menjumpai SPG wanita yang di’atur’ untuk menarik perhatian pria, seperti mengenakan pakaian yang minim bahan dan wajib memiliki fisik yang menarik. Hal tersebut terjadi karena saat ini industri perekonomian berada pada tingkatan yang ‘gila’ dan menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan. Jika dilihat dari sisi nurani manusia, hal tersebut sama saja dengan tidak menghargai fungsi dan fitrah dari wanita itu sendiri.

Karena adanya dampak-dampak negatif tersebut, memunculkan gerakan anti-feminisme. Gerakan ini muncul karena meningkatnya percekcokan dan perceraian dalam rumah tangga hingga meningkatnya gangguan psikologi anak yang disebabkan oleh feminisme. Hal ini membuat sebagian feminis sadar bahwa feminisme adalah suatu kesalahan, karena menyebabkan penyimpangan-penyimpangan yang berujung pada rusaknya generasi bangsa.

Syaikh Bakar Abu Zaid berkata “Masing-masing wajib mengimani dan menerima bahwa harus ada perbedaan antara laki-laki dan wanita, baik dari segi lahir dan batin, menurut tinjauan syari’at Islam. Masing-masing harus ridho dengan taqdir Allah dan syari’at Islam. Perbedaan ini adalah semata-mata menuju keadilan, dengan perbedaan ini kehidupan bermasyarakat menjadi teratur.

Tidak boleh masing-masing berharap memiliki kekhususan yang lain, sebab akan mengundang kemarahan Allah, karena masing-masing tidak menerima ketentuan Allah dan tidak ridho dengan hukum dan syari’at-Nya. Seorang hamba hendaknya memohon karunia kepada Rabbnya. Inilah adab syari’at Islam untuk menghilangkan kedengkian dan agar orang mukmin ridha dengan pemberian Allah. Oleh karena itu, Allah berfirman di dalam surat An Nisaa’ ayat 32 yang maksudnya adalah kita dilarang iri dengan kedudukan orang lain.

Selanjutnya, jika hanya berharap ingin meraih sifat lain jenis dilarang di dalam Al Qur’an, maka bagaimana apabila mengingkari syari’at Islam yang membedakan antara laki-laki dan wanita, menyeru manusia untuk menghapusnya, dan menuntut supaya ada kesamaan antara laki-laki dan wanita, yang sering disebut dengan istilah emansipasi wanita. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah teori sekuler, karena menentang taqdir Allah ….” (Hirosatul Fadhilah)

Tulisan oleh: Hindun Staff Islamic Press
Editor: Irshad Midle Islamic Press
Poster oleh: Kaeksi Midle Islamic Press

#MaretPerdamaian
#semangatmengINSPIRASI
#JMMI1718
#SenseOfDakwah
#ITSSurabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *