12 Rabiul Awwal, Tahun Gajah

12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah, atau tepatnya 20 April 571 M, telah lahir seorang manusia yang paling dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seorang manusia yang keberadaannya bagaikan rembulan yang menyinari kegelapan dari keberadaban manusia. Seorang manusia yang keberadaannya telah ditunggu-tunggu oleh semesta alam, sebagaimana telah disebutkan bahwa alam pun turut merayakan kelahirannya dengan membawakan tanda-tanda bagi manusia yang mau berpikir.

Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Seorang keturunan Bani Quraisy yang terlahir yatim di Mekah melalui rahim seorang sholehah bernama Aminah. Kelahirannya merupakan simbol dari kehancuran hal yang bathil, ditandai dengan hancurnya pasukan Raja Abrahah yang kala itu hendak menghancurkan Ka’bah oleh pasukan burung ababil yang dikirim oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Seorang yang kelak yatim piatu bersama pamannya Abu Thalib, lantaran ia telah ditinggal ibunda dan kakeknya. Seorang yang tak pernah sedikit pun ingin merepotkan pamannya, sampai-sampai ia turut membantu pamannya bekerja.
Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Seorang yang menikahi cinta pertamanya ketika berumur 25 tahun, yang kemudian memiliki keturunan yang hingga kini bernasabkan padanya.
Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Seorang yang diangkat menjadi Rasul bagi umat akhir zaman ketika sedang berkhalwat di Gua Hira’ pada umur 40 tahun. Di mana ketika itu Malaikat Ar-Rahman menyampaikan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala wahyu pertama.

Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Seorang yang telah berkorban segala-galanya demi ‘laa ilaha illallah’. Di mana suatu ketika beliau menuju Thaif dan kemudian dilempari kata-kata hinaan dan batu-batu oleh penduduk Thaif sampai berdarah-darah. Melihat kejadian itu, malaikat yang menjaga gunung Thaif memintanya untuk mengangkat tangan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar malaikat itu mendapat izin untuk menghimpit penduduk Thaif yang tidak sopan kala itu. Namun, beliau menolaknya karena beliau yakin suatu saat nanti akan ada penduduk Thaif yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Seorang yang tegar dan pantang menyerah oleh segala kejahilan yang dilakukan orang-orang yang berusaha menentang dakwahnya.

Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Seorang yang pada suatu malam menjelang Perang Badar ketika sahabat-sahabatnya terlelap berdo’a agar Allah membantu pasukan Islam yang saat itu hanya berjumlah 300 orang menang melawan pasukan lawan yang berjumlah 1000 pasukan.

Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Yang pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya bahwa ia sedang merindukan saudara-saudaranya. Yakni, orang-orang yang tak pernah melihatnya namun mau beriman kepadanya.
Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Yang bahkan hendak meninggal pun beliau masih mengkhawatirkan umatnya.
Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Yang kelak akan tak akan minum air telaganya ketika di akhirat melainkan menunggu umat-umatnya.

Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Yang kelak akan menanti dan memimpin umatnya memasuki surga bersama-sama.
Karenanya, marilah kita jemput penantian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Karena beliau pun sangat merindukan kita, orang-orang yang bahkan dalam mimpi pun belum tentu bertemu dengannya tapi masih mau beriman padanya.

Semoga peringatan Maulid ini semakin menambah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sehingga iman dan semangat beribadah kita pun semakin bertambah. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Tulisan oleh: Hindun Staff Islamic Press JMMI 1718
Poster oleh: Ilham Salo Pimpinan Redaksi Islamic Press JMMI 1718

🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻

Follow us on:
Instagram: JMMI ITS
Line: @pcn8008r
Facebook: @page.jmmi.its
Web: jmmi.its.ac.id

#DesemberHujan
#SemangatmengINSPIRASI
#SenseOfDakwah
#JMMI1718
#ITSSurabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *