sumpahpemudaitutidakpenting

Aku heran. Heran sekali. Bahkan sampai sekarang masih bertanya-tanya mengapa tanggal 28 Oktober masih diperingati sebagai sebuah hari besar yang harus ditandai di kalender-kalender organisasi? Dengan berbagai kegiatan yang cukup bervariasi, mulai berlomba narasi hingga ajang orasi, semua ada di sini. Perhatikan, hanya untuk memeringati satu momen yang tidak pernah disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Menurutku, Sumpah Pemuda itu tidak penting.

Apa gunanya ada peringatan Sumpah Pemuda jika yang menghayatinya hanya segelintir orang saja? Apa gunanya diperingati momen itu bila hanya sekedar selebrasi tanpa makna yang menghujam dalam hati? Apa gunanya jika selama ini momen itu hanya digunakan sebagai sebar undangan upacara, mimbar bebas, atau seminar-seminar bertajuk kepemudaan?

Tertanggal 28 Oktober 1928, kita tahu dari buku sejarah bahwa saat itu terjadi sebuah kongres di Batavia. Sebuah kongres yang dihadiri oleh pemuda-pemuda hebat yang mampu berpikir kritis mengenai bangsanya. Sebuah kongres yang pada akhirnya melahirkan cita-cita konsepsi “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Sebuah kongres yang melahirkan narasi besar bertajuk “Sumpah Pemuda” yang terdiri dari tiga kalimat sarat makna. Narasi besar yang luar biasa dari jajaran manusia-manusia belia yang mau susah payah mengorbankan cita-cta mereka sendiri demi bangsanya tercinta.

Itu dulu. Sekarang?

Aku bingung. Setelah 89 tahun Sumpah Pemuda, semangat Sumpah Pemuda itu mengalami kelunturan. Para penduduk usia muda (16-30 tahun) melebur dalam isu bonus demografi Indonesia. Jumlah mereka menggelembung, tetapi mental dan semangat mereka mengempis. Aku bukannya ingin mengenang romantisme perjuangan era kolonial atau orde baru, bukan! Tapi inilah faktanya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihat semangat dan idealisme itu hanyut ditera arus globalisasi yang sangat deras. Ketika seharusnya pemuda dijadikan sebagai ujung tombak perjuangan bangsa, ujung tombak itu justru semakin tumpul dihujam masa.

 

(4). إِنَّ الَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (Q.S Asf-Shaf: 4)

 

Masih ingat peristiwa 20 Oktober 2017 yang lalu, saat banyak mahasiswa turun ke depan istana negara untuk membawa hak-hak rakyat? Aku tidak akan membahas siapa yang salah atau kajian-kajian dari Tugu Rakyat yang dibawa kala itu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku bersyukur masih ada pemuda yang mau mengorbankan kepentingan prbadinya demi kepentingan masyarakat luas yang bahkan mereka pun tidak kenal satu per satu. Ribuan pemuda turun ke jalan dalam barisan yang teratur, menghadap ke arah yang sama, dengan komando yang sama, membaca dan membawa hal yang sama, meneriakkan tuntutan yang sama demi bangsa mereka bersama. Bukankah itu yang memang menjadi narasi besar cita-cita kongres 28 Oktober 1928 itu?

Aku sedih. Sedih karena pemuda kita saat ini justru lebih sibuk mengkritik pemuda lainnya daripada sibuk mencari lahan kebermanfaatan bagi bangsanya. Jika metode 20 Oktober 2017 itu bukan pilihan, ambillah jalan lain! Ada banyak mahasiswa berprestasi, pemuda lokal yang berkontribusi di dunia sosial, dan pemuda penggiat aktivitas lain yang memilih untuk menyibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat bagi sekitar. Bukan, bukan untuk menjatuhkan para pejuang parlemen jalanan. Mereka sedang menginternalisasikan makna Sumpah Pemuda dalam diri mereka dan merealisasikannya dalam bidang mereka. Merekalah contoh lain pemuda pejuang, bukan yang hanya bisa mengkritik “nyinyir” di media sosial pada orang-orang yang ikut aksi di jalanan tapi untuk bersedia memperjuangkan kepentingan masyarakat luas saja masih belum berani.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ  بِقَوْمٍ  يُحِبُّهُمْ  وَيُحِبُّونَهُ  أَذِلَّةٍ  عَلَى  الْمُؤْمِنِينَ  أَعِزَّةٍ  عَلَى الْكَافِرِينَ  يُجَاهِدُونَ فِي  سَبِيلِ اللهِ  وَلاَ  يَخَافُونَ  لَوْمَةَ  لآَئِمٍ ذَلِكَ  فَضْلُ  اللهِ  يُؤْتِيهِ  مَن  يَشَآءُ  وَاللهُ  وَاسِعٌ  عَلِيمٌ (المائدة: 54)

Maknanya: “Wahai sekalian orang beriman barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah, mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat -ditakuti- oleh orang-orang kafir. Mereka berjihad dijalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci”. (QS. Al-Ma’idah: 54)

 

Menurutku, Sumpah Pemuda itu tidak penting.

Tidak penting bila pemudanya sibuk memikirkan urusan romantisme masa muda daripada nasib bangsanya. Tidak penting bila pemudanya asyik membaca kabar-kabar hangat selebritas manca negara daripada berita besar proyek pembangunan yang menghampiri negaranya. Tidak penting bila aku, kamu, dan kita, belum bergerak bagi umat di sekeliling kita.

Bila tidak begitu, menurutku, Sumpah Pemuda akan menjadi benar-benar tidak penting.

Surabaya, 28 Oktober 2017
Seorang pemuda yang sedang berbenah

Penulis : Shafira Aulia Sekretaris Eksekutif BEM ITS 16/17
Poster oleh : Abimanyu wakil pimpinan Islamic Press JMMI 17/18
🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻

Follow us on:
Instagram: JMMI ITS
Line: @pcn8008r
Facebook: @page.jmmi.its
Web: jmmi.its.ac.id

#InspirasiKita
#OktoberGeloraSemangatPemuda
#SemangatmengINSPIRASI
#SenseOfDakwah
#JMMI1718
#ITSSurabaya