Habib Munzir Al-Musawa“Tawadhu’ adalah sikap menerima kebenaran dan melaksanakannya dan menerima kebenaran tersebut dari siapa pun datangnya.” Salah satu sifat yang dimiliki oleh tokoh terbesar Islam dalam berdakwah di jalan Allah. Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Al-Musawa, yang dikenal namanya dengan Habib Munzir. Beliau adalah anak keempat dari lima bersaudara yang sangat disayangi oleh kedua orang tuanya, namun juga mengecewakan. Beliau dilahirkan di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat pada hari Jumat, 23 Februari 1973. Beliau bukan berasal dari keturunan kyai melainkan ayahnya seorang wartawan di Harian Berita Yudha yang kemudian menjadi Berita Bhuana, lulusan pendidikan jurnalistik di New York University. Habib Munzir ini berbeda dari saudara-saudaranya yang melanjutkan pendidikannya hingga tamat. Beliau lebih memilih putus sekolah dan menghadiri majelis maulid almarhum Al-Arif Billah Al-Habib Umar bin Hud Alattas dan Majelis Ta’lim Kamis Sore di Empang Bogor. Anehnya beliau sering melupakan urusan duniawinya karena hanya sibuk beribadah dan puasa. Ibunya sangat sedih dengan kondisi anaknya yang satu ini. Ketika ayahnya pensiun dari pekerjaannya, ibunya membuka usaha losmen di depan rumah. Karena Habib Munzir tidak selesai sekolah dan menganggur, ibunya memintanya untuk menjadi pelayan di losmen itu. Sambil menunggu tamu penyewa losmen, ia menghabiskan waktu dengan merenung, berdzikir, bertafakur, melamun, shalat malam dan menangis. Habib Munzir menangis karena ia telah membuat kekecewaan di hati orangtuanya, bukan anak yang bisa membanggakan kedua orangtua, putus sekolah, pengangguran, dan sakit-sakitan. Ketika saudara-saudaranya meraih gelar sarjana, hati Habib Munzir terketuk untuk mondok dan kembali belajar di pesantren Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf, Bukit Duri, Jakarta Selatan. Orangtua siapa yang tidak memberikan restu keinginan anaknya untuk mencari ilmu. Tapi 2 bulan kemudian Habib Munzir keluar karena tidak betah dan sakit-sakitan. Ayah ibunya kembali terpukul dengan keputusan Habib Munzir untuk berhenti mondok. Beliau sadar dan untuk mengurangi kecewa, malu dan sedih kedua orangtuanya, ia kursus bahasa Arab di Assalafi dengan biaya yang ia ambil dari upahnya menjaga losmen sang ibu. Beliau berusaha tak menyurutkan keinginannya untuk menimba ilmu agama, kerap berdoa kepada Allah SWT agar dipertemukan dengan guru dan tempat belajar yang paling dicintai Rasulullah hingga bisa menebalkan rasa cintanya kepada Rasulullah. Allah SWT mengijabahi doanya. Pada tahun 1994, beliau kembali mondok di pesantren Al-Habib Hamid Nagib bin Syeikh Abu Bakar, Bekasi Timur. Tak lama, pondok pesantren itu didatangi Guru Mulia Al-Musnid Al-Allamah Al-Habib Umar bin Hafidh dan Habib Munzir terpukau dengan ceramahnya. Usai ceramah, Habib Umar bin Hafidh melihat anak muda berpeci hijau, Habib Munzir dan menginginkannya dikirim ke Hadramaut, Yaman, untuk belajar dan menjadi muridnya. Habib Hamid Nagib bin Syeikh Abu Bakar tercengang, tidak percaya, karena Habib Munzir adalah murid baru disitu dan bahasa Arabnya pun belum lancar. Namun Habib Umar bin Hafidh tetap menginginkannya dan Habib Munzir segera menghadapnya dengan sedikit gemetar kebingungan. Habib Hamid Nagib bin Syeikh Abu Bakar memberitahukan kepada Habib Munzir bahwa Habib Umar bin Hafidh memintanya untuk menjadi muridnya dan berangkat ke Yaman. Habib Munzir tentu sangat senang karena terpilih menjadi murid Habib Umar bin Hafidh yang sudah luar biasa ilmunya. Lalu Habib Munzir meminta izin kepada ayahnya agar diizinkan pergi ke Yaman, namun ayahnya keberatan karena dengan kondisi fisiknya yang sering sakit-sakitan tidak tega melepaskan Habib Munzir menginjakkan kakinya di negeri yang tandus. Ayahnya pun tak punya kenalan banyak disana. Habib Munzir kecewa dan sedih mendengar jawaban ayahnya. Beliau sangat ingin pergi ke Yaman. Mendengar ceritanya, Habib Umar bin Hafidh mengatakan bahwa beliau yang menjaminnya. Habib Munzir senang bukan kepalang, segera menyampaikan pesan itu kepada ayahnya, ayahnya terdiam dan tidak berkomentar apa-apa. Ayahnya masih berat melepaskan kepergian Habib Munzir ke Yaman. Di hari keberangkatannya, Habib Munzir berpamitan kepada ayah ibunya. Tapi ayahnya tak ingin menatap wajah beliau. Habib Munzir kecewa, tapi beliau sudah bertekad untuk berangkat dan menuntut ilmu agama. Beliau melihat lambaian tangan ayahnya dari mobil travel. Beliau tak mampu menahan air matanya, menangis dalam diam, semakin mengalir deras membayangkan kalimat “jika mau mendalami agama, belajarlah dengan sungguh-sungguh, kalau perlu sampai ke luar negeri. Kalau pun ingin mendalami ilmu dunia, kamu juga harus belajar sungguh-sungguh. Belajarlah sampai ke luar negeri juga.” bergulir dari bibir ayahnya yang sudah tua. Setelah 2 tahun belajar disana, beliau mendapatkan telepon dari ayahnya yang menanyakan kepulangan Habib Munzir ke Cipanas dan mendengar jawaban Habib Munzir masih 2 tahun lagi ia akan pulang, ayahnya sedih kok lama sekali sudah rindu ingin bertemu anak kesayangannya. Cukup singkat percakapan itu. Tiga hari kemudian, ada telepon lagi dari Indonesia. Sayangnya, itu bukan telepon dari ayahnya, tapi seseorang yang mengabarkan berita duka tentang ayahnya. Habib Munzir sedih, tak menduga jika percakapan 3 hari sebelumnya adalah percakapan terakhir antara ayah dan anaknya. Tak tahu akan berbincang lebih lama, meluapkan segala rindu di dada. Sebagai anak kesayangan sang ayah tak bisa berada di samping beliau saat menghadap Allah SWT dan tidak bisa melihat ayahnya yang terakhir kalinya.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmulah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”-QS. An-Nahl: 125. Setelah 4 tahun belajar ilmu agama di Yaman, pada tahun 1998 Habib Munzir dan 39 temannya pulang ke Indonesia. Beliau memikul amanah menyebarkan ilmu yang sudah beliau terima selama belajar di Yaman kepada umat, namun beliau bukan keturunan kyai yang mempunyai pesantren dan institusi. Beliau tak akan menyerah dan terus mencari cara untuk menjalankan kewajibannya sebagai ulama. Bagi Habib Munzir, dakwah yang baik adalah dakwah yang menjemput “bola”. Beliau mencari jemaah dengan mendatangi umat, mengunjungi rumah demi rumah, mengetuk pintu demi pintu, duduk dan bercengkrama dengan para jemaah, dan mendengarkan masalah umat serta memberikan jalan keluar. Awalnya, beliau memulai dakwahnya di daerah Cipanas tapi tidak berkembang. Lalu, beliau memutuskan untuk berdakwah di Jakarta. Pelan-pelan, Habib Munzir memiliki 6 orang jemaah yang setia mendengarkan nasihat-nasihat beliau. Mereka lantas mengusulkan agar beliau mendirikan majelis ta’lim. Beliau merelakan waktunya pulang pergi, berangkat dari Cipanas ke Jakarta. Di tengah malam buta, beliau datang ke Jakarta dan mengetuk pintu rumah jemaahnya tapi satu pun tak ada yang membukakan pintu hingga beliau rela tidur di emper semalaman dan melihat taksi, menghampiri, masuk dan pingsan karena asma nya kambuh. Sejak kejadian itu, majelis ta’lim berkembang pesat. Yang dulunya hanya diikuti 6 orang jemaah, kini memenuhi masjid bahkan sampai pelatarannya. Habib Munzir tetap berpegang teguh pada cara dakwah guru beliau, yakni mengajar dengan lemah-lembut dan penuh kasih sayang. Beliau tak pernah membantah, selalu tersenyum dan tidak melupakan kebiasaannya yang selalu mencium tangan orang yang dipandang lebih tua oleh beliau. Semakin banyaknya jemaah majelis membuat majelis ini memerlukan kop surat untuk undangan dan lain sebagainya. Masalahnya, majelis ini belum mempunyai nama. Akhirnya Habib Munzir memberi nama Majelis Rasulullah, tanpa alasan khusus memilih nama tersebut. Hakikatnya, dakwah yang Habib Munzir usung memang untuk mengenalkan kembali pribadi Rasulullah. Harapannya, akan ada kebangkitan semangat kaum Muslimin untuk mencintai dan membela sunnah Rasulullah. Habib Munzir juga selalu mengajarkan sunnah-sunnah Rasulullah bahwa kita tidak perlu melakukan kekerasan kepada orang-orang yang berhati keras. Resep paling mujarab adalah dengan berbuat baik kepada seseorang yang menentang kita, menghormatinya, memuliakannya, mengiriminya hadiah, dan memujinya. Niscaya, dia akan berbalik mendukung dan mengikuti. Semua kisah perjalanan dakwah beliau begitu sarat hikmah dan ilmu. Medan dakwah yang berat dan memerlukan jiwa-jiwa berhati lembut dan penuh kasih, agar semakin banyak umat yang tersentuh dan mencintai Rasulullah SAW. Dalam perjalanan dakwahnya, ternyata beliau sudah tahu akan meninggal sebelum berusia 40 tahun. Beliau selalu mengutarakan kerinduan yang sangat besar untuk berjumpa dengan Rasulullah SAW. Beliau juga menceritakan kepada jemaah jikalau Habib Munzir sering bertemu Rasulullah SAW dalam mimpi. Pada Januari 2010, beliau membuat postingan di milis yang membuat jemaah kembali menangis. Beliau menceritakan mimpinya yang didatangi Rasulullah SAW dan mengajaknya untuk meninggalkan urusan dunia, bergabung bersama Rasulullah SAW dan para laskarnya di alam akhirat, bergabung dengan para penegak agama Allah di muka bumi ini. Saat itulah, kondisi kesehatan Habib Munzir sedikit kurang bagus tapi beliau tetap menjalankan dakwah. Kondisi semakin memburuk, beliau dibawa ke rumah sakit. Tepat hari Minggu, 15 September 2013 adalah hari yang memilukan terutama bagi para jemaah Majelis Rasulullah. Habib Munzir meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sekitar pukul 15.30 WIB. Habib Munzir meninggal dengan keadaan tersenyum. Beliau sangat berarti bagi umat. Hingga ribuan jemaah rela datang dan berdesak-desakan, bergantian untuk menshalatkan beliau.

Sumber : Buku Habib Munzir Menanam Cinta untuk Para Kekasih Rasulullah

 

Tulisan oleh: Ulfa Inas Sayekti Staff Islamic Press JMMI 1718
Poster oleh: Dimmy Maulana Midle Islamic Press JMMI 1718

 

🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻

Follow us on:
Instagram: JMMI ITS
Line: @pcn8008r
Facebook: @page.jmmi.its
Web: jmmi.its.ac.id

#OktoberGeloraSemangatPemuda
#SemangatmengINSPIRASI
#SenseOfDakwah
#JMMI1718
#ITSSurabaya

SHARE
Previous articleGrand Open Mentoring 2017
Next articleBERKAHNYA PEKERJAAN SEORANG PEDAGANG
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!