Buya Hamka

Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan Buya Hamka, merupakan seorang ulama dan sastrawan Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Februari 1908, di Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Beliau adalah putra dari Dr. H. Abdul Karim Amrullah, seorang ulama reformis Islam di Indonesia, sekaligus salah satu orang Indonesia yang terawal memiliki gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Sejak kecil Buya Hamka sangat menyukai karya sastra. Hal ini dibuktikan saat beliau masih bersekolah di Thawalib satu-satunya pelajaran yang ia sukai hanya arudh yang membahas tentang syair dalam bahasa Arab.

Juli 1924, Buya Hamka hijrah ke Pulau Jawa. Di sana beliau bertemu dan berguru dengan tokoh-tokoh perjuang untuk memajukan Islam, seperti HOS Tjokroaminoto dan Suryopranoto. Bagi mereka, Buya Hamka dikenal sebagai seseorang yang tekun dalam belajar. Tidak berhenti sampai di situ, saat di Mekah, beliau bertemu sekaligus belajar lebih banyak mengenai Islam kepada K.H. Agus Salim. Setelah tujuh tahun menetap di Mekah, Buya Hamka memutuskan kembali ke tanah air, menetap di Medan dan memulai sepak terjangnya dalam menerapkan ilmu yang telah ia peroleh di bidang jurnalistik, seperti menulis untuk majalah lokal maupun surat kabar Pelita Andalas dan Bintang Islam. Di saat yang bersamaan, beliau juga bekerja sebagai pengajar pedagang-pedagang kecil di Kebun Bajalinggi Kuli, dan pengalaman mengajarnya itu memberinya inspirasi kelak untuk menulis Merantau ke Deli.

Di Sungai Batang, Buya Hamka menerbitkan roman pertamanya, Si Sabariyah. Dan karena mendapat sambutan yang baik dari ayah dan beberapa kawannya dan fakta bahwa roman pertamanya laku di pasar hingga dicetak tiga kali, Buya Hamka pun semakin termotivasi untuk mengarang dengan memasukkan nilai-nilai islam ke dalam karyanya. Setelah menulis Si Sabariyah, Buya Hamka menulis Laila Majnun yang kemudian diajukan dan diterima oleh Balai Pustaka. Hal tersebut membuatnya menjadi semakin giat dalam menulis.

Pada 1931, Buya Hamka dipercaya untuk mempersiapkan Kongres Muhammadiyah ke-21 di Makassar. Selama di sana, beliau menerbitkan majalah Tentera dan Al-Mahdi dan dipercaya pimpinan Muhammadiyah setempat untuk mengembangkan pola pendidikan yang lebih modern. Kehidupan Buya Hamka selama di Makassar merupakan inspirasi dalam penyelesaian novelnya kelak, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Pada Januari 1936 Buya Hamka kembali ke Medan dan memulai menekuni bidang sastra. Beliau sempat memimpin redaksi majalah Pedoman Masyarakat , menerbitkan novel Di Bawah Lindungan ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Saat itulah nama pena Hamka mulai dikenal.

Saat pendudukan Jepang dimulai, redaksi majalah Pedoman Masyarakat dibubarkan. Buya Hamka diangkat menjadi pegawai dalam pemerintahan Jepang. Hal ini menyebabkan masyarakat berpikir bahwa Buya Hamka berada di pihak penjajah. Karenanya, beliau meninggalkan Medan, kembali ke Padangpanjang dan menulis beberapa buku di antaranya adalah Islam dan Demokrasi, Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, hingga Dari Lembah Cita-cita. Hal tersebut dilakukannya untuk membuktikan bahwa beliau berada di pihak rakyat Indonesia yang juga memperjuangkan kemerdakaan, bukan di pihak Jepang.

Buya Hamka merupakan ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) pertama yang dipilih secara aklamasi pada 1975. Namun, pada 1981 beliau mengundurkan diri karena menolak mencabut fatwa tentang keharaman perayaan Natal bagi umat Islam. Hingga akhirnya beliau meninggal pada tahun yang sama tepatnya pada Bulan Ramadhan, Jum’at, 24 Juli 1981, meninggalkan karya-karya dalam sejarah perjuangan Islam dan Indonesia yang dapat dipelajari oleh generasi masa depan.

Sumber : wikipedia.org

Tulisan oleh : admin
Poster oleh: Nuraini Midle Islamic Press JMMI 1718
🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻

Follow us on:
Instagram: JMMI ITS
Line: @pcn8008r
Facebook: @page.jmmi.its
Web: jmmi.its.ac.id

#OktoberGeloraSemangatPemuda
#SemangatmengINSPIRASI
#SenseOfDakwah
#JMMI1718
#ITSSurabaya

SHARE
Previous articleSumpah Pemuda Itu Tidak Penting
Next articleKepemimpinan, Kedamaian atau kekacauan
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!