3

Sumber: Dokumen Pribadi

Belenggu lamunan mengikat erat benakku yang rapuh. Dari balik jendela kamar, kupandangi bulan baru tanpa rasa jenuh. Kalbuku menggiringku pada sekeping dua keping serpihan masa lalu. Dalamnya bayangan membersihkan ingatanku yang dipenuhi debu. Sesekali tersenyum, namun tak jarang tersipu malu.

“Besok hari adalah tahun baru hijriyah. Ada momen spesial yang tak pernah aku lupakan tentangnya.” Ucap suamiku dari belakang sambil merangkulku. Aku hanya tersenyum malu.

DAHULU, aku pernah berlari di dalam gelap. Adalah cinta yang memindahkanku dari dunia nan gemerlap. Sejak lama aku menjadi pemuja rahasia yang bersembunyi di dalam asap. Aku seorang akhwat yang pada umumnya ketika jatuh cinta, memilih untuk membiarkan rasa ini lembab. Tidak kuizinkan ia untuk mengering, tapi tidak pula aku berani membuatnya basah. Semua hanya kusimpan di dalam do’aku dengan penuh harap.

Malam itu, seusai kututup buku pelajaranku lalu meraih handphone ku, betapa terkejutnya hati ini. Dia yang kupuja datang padaku untuk memberikan hati.

“….maukah kamu menjadi kekasihku?” kira-kira seperti itu kalimat yang mengguncangkan hatiku. Seluruh tubuhku tiba-tiba melemah dan pikiranpun seolah masih tak percaya. Kucubit tanganku, tapi terasa sakit. “Ini bukan mimpi..” batinku dalam hati.

Namun bukan jenjang pernikahan yang ia tawarkan. Ia belum memiliki kesiapan. Pernikahan akan dilaksanakan ketika ia sudah mapan. Seperti itulah perjanjian yang diikat dalam suatu komitmen ATAS NAMA CINTA yang ia tawarkan. Aku tau itu salah, tapi hati ini tak kuasa menolak. Lalu tawaran tersebut aku terima dengan penuh harapan. “Aku yakin bisa mengontrol diriku..” batinku

Di menjalani hubungan perlahan aku rasakan, dekat dengannya ternyata membuatku semakin jauh dari-Nya. Membuatku lupa akan tugasku yang sesungguhnya. Dua lalu di senja itu, aku merenungkan segalanya. Hari ini adalah penutup tahun HIJRIYAH dan besok sudah memasuki tahun baru hijriyah. Aku teringat, betapa meruginya aku jika terus aku lanjutkan hubungan ini, bahkan bisa jadi celaka. Lalu aku bertekad akan menjadikan Tahun Baru Hijriyah ini menjadi sarana HIJRAHKU.

Kuberanikan diri mengatakan padanya tentang apa yang aku rasakan. Memang sulit mendapatkan persetujuannya. Namun setelah dijelaskan dengan penuh pengertian akhirnya ia sanggup mengikhlaskan.

“Aku rela tak bertegur sapa denganmu. Menyimpan rindu di dalam kalbu. Dan seumpama ia menggebu-gebu, aku katakana padanya tuk tetap patuh. Dan di kala rindu inginkan temu, kuyakinkan ia bahwa cukuplah bagiku tuk menyapamu di dalam setiap do’aku.”

Pergantian tahun hijriyah menjadi saksi hijrahku. Tentang bagaimana dahulu aku senang berbincang berdua denganmu, namun kini aku lebih senang berdua bersama Allah di sepertiga malam untuk berbicara tentang kamu. Meskipun berbeda, tapi percayalah bahwa rasa ini takkan berubah kecuali karena kehendak-Nya.

Lelaki yang kini merangkulku inilah yang membuktikan kepadaku bahwa rencana Allah sangatlah indah. Meskipun kami sempat terpisah, namun kami kembali dipertemukan. Bedanya, kini ia telah menjadi suamiku yang sah.

Tulisan oleh: Farid Staff Ahli Islamic Press JMMI 1718

Poster oleh: Kaeksi Midle Islamic Press JMMI 1718

🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻

Follow us on:
Instagram: JMMI ITS
Line: @pcn8008r
Facebook: @page.jmmi.its
Web: jmmi.its.ac.id

#SeptemberBaktiBagiAgamaBangsa
#SemangatmengINSPIRASI
#SenseOfDakwah
#JMMI1718
#ITSSurabaya