G30SPKIHenk Sneevliet dinilai sebagai orang yang pertama kali menyebarkan paham komunis di Indonesia. Paham ini selanjutnya menyebar ke masyarakat lewat adanya serikat tenaga kerja Indies Social Democratic Association (dalam bahasa Belanda: Indische Sociaal Democratische Vereeniging-, ISDV). ISDV berhasil menarik banyak simpati rakyat Indonesia bahkan sampai bisa membuat blok tersendiri dengan organisasi anti-kolonialis Sarekat Islam. Hal ini membuat beberapa anggota SI seperti Semaun dan Darsono tertarik dengan konsep yang dibawa Sneevliet.

Singkat cerita, pada tahun 1924 Semaun dan beberapa rekannya selanjutnya mendirikan Partai Komunis Indonesia dan mengangkat Semaun sebagai pemimpinnya. Pada tahun 1950-an PKI mencapai puncak kejayaaan di bawah pimpinan D.N. Aidit. Kondisi yang baik ini juga diperoleh karena adanya dukungan Presiden Soekarno kala itu.

Penyerangan Kantor LBH Jakarta

Ketakutan akan PKI di masa lalu sebenarnya belum bisa terhapuskan. Hal nyata yang terlihat pada tahun 2017 menjelang tanggal 30 September adalah peyerangan kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta atau LBH Jakarta. Pada minggu 17 September 2017 malam,massa mengepung gedung setelah diadakannya seminar tentang sejarah 1965. Massa tiba-tiba memaksa masuk dengan merusak pagar dan menyerang seua pengnjung acara. Al hasil pengunjung yang ketakutan terkurung dalam gedung sambil menunggu bantuan dari kepolisian. Ketegangan terus meningkat sampai polisi berhasil membubarkan massa pada senin dini hari 18 Septemmber 2017. Massa yang menyerag kantor tersebut diduga termakan hoax bahwa LBH Jakarta sedang mengadakan acara untuk “Kebangkitan PKI” di Indonesia.

Pemutaran Film Pengkhianatan G30S PKI

Sejak amarah massa pada Senin dini hari, 18 September 2017 lalu di kantor LBH Jakarta, upaya menyebarkan ketakutan lewat “kebangkitan PKI” makin banyak tersebar.

Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI mengeluarkan instruksi kepada serdadu militer untuk menggelar nonton bersama film Pengkhianatan G30S PKI. Gatot mengklaim bahwa instruksi ini sudah “mendapat izin” dari Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

Menjelaskan instruksi kepada serdadu militer, Gatot beralasan bahwa pemutaran film itu dilakukan agar “generasi muda bisa memahami sejarah.”. Meskipun banyak kajian kademis yang menunjukkan bahwa film ini penuh fiksi dan mendramatisasi “kekejaman PKI”, Panglima TNI ini tidak ambil pusing.

G30SPKI Dari Sudut Pandang Lain

Mungkin kalian sedikit bertanya-tanya mengapa tulisan di atas hanya membeberkan rangkuman tentang G30SPKI, kalau menurut saya beberapa dari kalian pasti sudah khatam mengenai betapa kejamnya PKI dalam film G30SPKI berdurasi 3 jam lebih, yang sering ditayangkan dulu oleh pemerintah. Namun apakah kalian pernah nonton film lainnya, yang jika ditarik dalam sejarah aslinya, merupakan kelanjutan dari G30SPKI, yaitu film Jagal dan Senyap?,

Baiklah disini saya cuman ingin kalian mencoba sudut pandang lain dalam menyikapi sesuatu, dan tema kali ini adalah tentang G30SPKI, saya tidak mengatakan bahwa kejadian tersebut adalah kejadian yang dibuat-buat, saya tahu bahwa keinginan Aidit itu salah, Indonesia bukannya kerajaan seperti di Rusia sana saat masih di bawah feudal Tsar. Kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempunyai Pancasila sebagai ideologi kita sendiri. Sehingga penghianat seperti Aidit harus kita hukum, namun juga saya tidak bisa membenarkan kegiatan yang dilakukan orba pasca G30SPKI, yaitu penumpasan seluruh masyarakat yang di duga simpastisan PKI, yang korbannya hampir mencapai setengah juga manusia bahkan lebih, ini yang akan saya beberkan kepada kalian yang mungkin beberapa dari kalian belum mengetahuinya. Disini saya akan mengutip artikel Wikipedia yang InsyaAllah benar karena mempunyai banyak sekali referensi yang tersedia dibawahnya.

Pembantaian di Indonesia 1965–1966

(terkadang disebut sebagai Genosida di Indonesia) adalah peristiwa pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh komunis di Indonesia pada masa setelah terjadinya Gerakan 30 September (G30S/PKI) di Indonesia. Diperkirakan lebih dari setengah juta orang dibantai dan lebih dari satu juta orang dipenjara dalam peristiwa tersebut. Pembersihan ini merupakan peristiwa penting dalam masa transisi ke Orde Baru: Partai Komunis Indonesia (PKI) dihancurkan, pergolakan mengakibatkan jatuhnya presiden Soekarno, dan kekuasaan selanjutnya diserahkan kepada Soeharto.

Soeharto yang paling awal menuduh PKI menjadi dalang dari peristiwa pagi hari Jumat tanggal 01 Oktober 1965 tersebut. Tanpa periksa dan penyelidikan yang memadai, Soeharto mengambil kesimpulan PKI sebagai dalang hanya karena Kolonel Untung —yang mengaku menjadi pimpinan Dewan Revolusi (kelompok tandingan untuk Dewan jendral)— memiliki kedekatan pribadi dengan tokoh-tokoh utama Biro Chusus Partai Komunis Indonesia. Hasil akhirnya adalah Komunisme dibersihkan dari kehidupan politik, sosial, dan militer, dan PKI dinyatakan sebagai partai terlarang.

Pembantaian dimulai pada Januari 1966 seiring dengan maraknya aksi demonstrasi mahasiswa yang digerakkan oleh Angkatan Darat melalui Jendral Syarif Thayeb dan memuncak selama kuartal kedua tahun 1966 sebelum akhirnya mereda pada awal tahun 1967 (menjelang pelantikan Jendral Soeharto sebagai Pejabat Presiden). Pembersihan dimulai dari ibu kota Jakarta, yang kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Timur, lalu Bali. Ribuan vigilante (orang yang menegakkan hukum dengan caranya sendiri) dan tentara angkatan darat menangkap dan membunuh orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI. Meskipun pembantaian terjadi di seluruh Indonesia, namun pembantaian terburuk terjadi di basis-basis PKI di Jawa Tengah, Timur, Bali, dan Sumatera Utara.

Pembantaian ini hampir tidak pernah disebutkan dalam buku sejarah Indonesia, dan hanya memperoleh sedikit perhatian dari orang Indonesia maupun warga internasional. Penjelasan memuaskan untuk kekejamannya telah menarik perhatian para ahli dari berbagai prespektif ideologis. Kemungkinan adanya pergolakan serupa dianggap sebagai faktor dalam konservatisme politik “Orde Baru” dan kontrol ketat terhadap sistem politik. Kewaspadaan terhadap ancaman komunis menjadi ciri dari masa kepresidenan Soeharto. Di Barat, pembantaian dan pembersihan ini digambarkan sebagai kemenangan atas komunisme pada Perang Dingin.

Demikian beberapa penjelasan singkat yang saya kutip di Wikipedia, disana isinya sangat lengkap dan juga sangat panjang, jadi tidak saya muat semuanya di tulisan ini, dan referensinya juga lumayan banyak dan InsyaAllah dapat dipercaya. Sebelumnya saya disini sama sekali tidak mendukung apa yang sudah dilakukan oleh PKI di madiun pada tahun 1948, PKI sudah membantai banyak orang sipil, para kiayi, para asatidz, santri, dan yang paling terakhir adalah pembunuhan tersadis terhadap para perwira di lubang buaya tersebut. Namun membalas perbuatan mereka dengan kembali membantai mereka apakah itu benar?,

“…dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Baqarah 2:190).

“…dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah 2:193).

dalam Islam sendiri kita dilarang untuk membalaskan dendam kepada musuhmu jika musuhmu sudah tak berdaya, dalam hal ini PKI berhasil di hentikan pergerakannya dan para petingginya sudah dihukum, yang menyisakan anggotanya yang alangkah baiknya kita bimbing kembali ke jalan yang benar, mengajarkan kembali kepada mereka apa itu patriotism, pendidikan kewarganegaraan, bukan malah membalas kembali perbuatan mereka dengan membunuh kembali mereka demi kepentingan politik semata. Genosida ini merupakan salah satu genosida terburuk yang terjadi di Indonesia yang sayangnya berhasil ditutup-tutupi oleh rezim yang berkuasa selama 3 dekade lebih.

Demikian beberapa hal yang sudah saya sampaikan dalam tulisan ini, jika tulisan ini bertentangan dengan pendapat kalian mohon maafkan saya, disini saya cuman menyampaikan hal-hal yang sudah ditutupi selama 50 tahun lebih. Mudah-mudahan kedepannya kita menjadi lebih bijak dalam menyikapi sesuatu, dan tidak fanatik dalam suatu hal juga.

Sumber dan Refrensi:

https://tirto.id/generasi-muda-punya-independensi-melihat-tragedi-1965-cxs1

https://tirto.id/kronologi-kerusuhan-di-kantor-lbh-jakarta-cw1d

https://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia

https://nasional.tempo.co/read/432758/cerita-di-balik-penghentian-pemutaran-film-g30s

https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_di_Indonesia_1965%E2%80%931966

 

Tulisan oleh: Ahmad Dzikri Hamdan dan Bagas Jelang Ramadhan Staff Islamic Press JMMI 1718

Poster oleh: Dimmy Maulana Staff Islamic Press JMMI 1718

🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻

Follow us on:
Instagram: JMMI ITS
Line: @pcn8008r
Facebook: @page.jmmi.its
Web: jmmi.its.ac.id

#OktoberGeloraSemangatPemuda
#SemangatmengINSPIRASI
#SenseOfDakwah
#JMMI1718
#ITSSurabaya