sumber : https://www.foreignpolicyjournal.com/wp-content/uploads/2015/09/Temple-Mount.jpg

Di tengah pemberitaan media mengenai kondisinya yang penuh peperangan, banyaknya pengungsi dan kekurangan, Syam tetap merupakan tempat yang sangat mulia. Bagaimana hubungan negeri ini dengan Rasulullah?

Jika dlihat dalam segi Geografinya, Dr. Muhammad Azib Dasuqi mengatakan bahwa Negeri Syam merupakan negeri penting yang terdapat di kawasan terdekat dengan semenanjung Arab. Negeri ini merupakan perpanjangan kawasan Arab yang kaya dan subur. Hal inilah yang membuat negeri ini menjadi tujuan hijrah, untuk menetap, berkeluarga serta berdagang. Dan ketika dakwah Islam telah menyebar di kawasan Arab, Negeri Syam adalah negara pertama yang memiliki hubungan dengan Nabi shalallahu alaihi wassalam. Pada intinya hubungan antara Negeri Syam dan Jazirah Arab ini sejak lama terjalin dari berbagai bidang terlebih dalam hal perdagangan.

Didalam surat Al-Quraisy ayat 1-4 pun mengisyaratkan kegiatan perdagangan bangsa Arab khususnya suku Quraisy di Mekah dengan penduduk Syam. Orang-orang suku Quraisy ini memiliki kebiasaan mengadakan perjalanan terutama berdagang  ke Negeri Syam pada musim panas sedangkan musim dingin ke Yaman.

Perjalanan pertama kali Rasulullah ke Negeri Syam adalah ketika masa kecil beliau. Perjalanan pertama ke Syam memberikan informasi tentang “prediksi” kedudukannya yang akan menjadi Nabi. Dalam sirah nabawiyah dikisahkan oleh Ibnu Ishaq ketika Abu Thalib hendak ke Syam untuk berdagang, tiba-tiba beliau merindukan keponakannya dan ingin mengajaknya pergi bersama. Maka Abu Thalib pun mengajak Muhammad kecil dan tidak meninggalkannya di Mekah.

Sesampainya di wilayah Bushra (sekarang wilayah propinsi Dara’a), mereka bertemu dengan pendeta Nasrani bernama Buhaira di kuilnya. Biasanya ketika ada rombongan datang Buhaira tidak pernah menjamu. Namun berbeda sekali dengan rombongan Abu Thalib ini ketika datang. Buhaira menjamu dengan banyak makanan. Dikisahkan bahwa Buhaira melihat adanya utusan Allah yang menunggang unta dan awan yang selalu menaunginya. Bahkan saat anak kecil yang dibawa Abu Thalib beristirahat dibawah pohon pun, awan itu menaunginya. Hal inilah yang membuat Buhaira ingin menjamu. Buhaira hampir saja tidak melihat orang yang diinginkannya, bertanyalah ia pada rombongan. Rupa Muhammad kecil berada diluar karena tidak diajak masuk. Hingga Buhaira meminta agar tidak ada satu tamupun yang tidak menyantap makanannya. Setelah Muhammad masuk, Buhaira menemukan tanda kenabian di tubuhnya. Kemudian Buhaira bertanya kepada Abu Thalib tentang hubungan anak kecil ini. Awalnya Abu Thalib menjawab anak itu adalah anaknya. Buhaira menjawab, “anak itu pasti bukan anakmu, seharusnya anak itu tidak mungkin memiliki ayah yang masih hidup”. Maka Abu Thalib pun menjawab memang demikianlah yang sesungguhnya. Ia hanyalah paman dari anak yang orang tuanya telah meninggal dunia. Buhaira membenarkan jawaban Abu Thalib dan meminta Abu Thalib agar segera membawa pulang anak itu. Sebab jika orang-orang Yahudi mengetahui keberadaan anak itu, niscaya mereka akan berusaha untuk membunuhnya. Maka perjalanan Abu Thalib bersama Muhammad kecil ini tidak lama-lama, hal yang membuatnya tidak memperoleh keuntungan banyak lantaran segera bersiap ke Mekah. Imam Tirmidzi pun meriwayatkan perjalanan pertama Rasulullah.

Perjalanan yang kedua berkaitan dengan pernikahaannya dengan Khadijah serta sarana informasi yang penting untuk mengetahui tanda-tanda kenabian dan kondisi Negeri Syam secara umum. Khadijah binti Kuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab adalah seorang hartawan dari suku Quraisy. Ia seorang janda, cantik, dan kaya raya serta berasal dari keturunan yang terhormat dari suku Quraisy. Tidak heran banyak laki-laki yang ingin memperistrinya. Khadijah seorang pengusaha sukses dengan kemajuan perdagangannya. Dengan menyuruh beberapa orang untuk membawa dan menjual dagangannya ke Negeri Syam dan Yaman sesuai kesepakatan upah di awal. Mengetahui kejujuran dan sifat amanah yang dimiliki oleh Muhammad, Khadijahpun tertarik denganya dan menawarkaan Muhammad untuk membawa dan menjual dagangannya. Berangkatlah Muhammad dengan pelayan laki-laki Khadijah (Maisaroh) ke Syam.

Selama perjalanan perdagangan itu, Maysaroh menemukan sifat kejujuran dan amanah pada diri Muhammad dan melihat tanda-tanda luar biasa yang mengartikan kemuliaan Muhammad. Diantara kisah luar biasa tersebut yaitu ketika di negeri Bushra. Muhammad berteduh dibawah sebuah pohon. Maka datanglah pendeta Nashrani bernama Nasthura. Pendeta itu berkata pada Maisarah “Tidak yang berteduh dibawah pohon ini selain seorang nabi. Apakah kedua matanya ada kemerah-merahan?“ Maisarah menjawab “Ya, bahkan tidak pernah berpisah dengannya”. Maka pendeta itupun berpesan kepada Maisarah, “Jika begitu dia adalah seorang nabi. Ia adalah seorang nabi yang terakhir.”

Perdagangannya di Negeri Syam mendapatkan laba yang besar dengan pegawai-pegawai Khadijah sebelumnya. Khadiajah amat bahagia dan menggandakan upah untuk Muhammad. Dan Maisarah menceritakan tentang kejadian perjalanan bersama Muhammad. Dan Khadijah terkejut tentang perkataan pendeta Nasthura. Maka Khadijah pun menceritakan kepada sepupunya Waraqah bin Naufal (seorang pendeta Nasrani dikota Mekkah). “Jika hal itu benar wahai Khadijah, maka sesungguhnya Muhammad adalah nabi untuk umat ini. Aku sudah mengetahui bahwasanya akan ada seorang nabi yang ditunggu-tunggu umat ini. Inilah zamannya sudah tiba”. Kata waraqah pada Khadijah. Mendengar banyak hal tentang Muhammad, Khadijah ingin menikah dengan Muhammad. Untuk mengutarakannya melalui perantara bernama nafisah binti munayah. Muhammadpun menerimanya. Menurut riwayatnya saat itu  Muhammad berumur 25 tahun dan Khadijah berumur 40 tahun.

(bersambung)

Oleh : Nihlatunnur | Fisika 2013 | Koordinator Putri Departemen Syiar JMMI 1617

Editor : Muhammad Richa