bersahabat dg tuhan

Judul: Bersahabat Dengan Tuhan

Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an

Penerbit: Mizania

Cetakan: I, Mei 2016

Tebal: 136 halaman

ISBN: 978-602-418-021-8

            ‘Siapa Tuhanmu?’ Pertanyaan tersebut merupakan salah satu pertanyaan yang pasti ditanyakan oleh malaikat. Jika dijawab di dunia, maka kita sangat mudah untuk menjawabnya. Akan tetapi, belum tentu kita bisa menjawab saat berada di alam barzah, alam penantian. Lantas, bagaimana cara kita agar bisa menjawab pertanyaan itu kelak kita sudah meninggal?

            Ahmad Rifa’i Rif’an terngiang nasihat Prof. Dr. Quraish Shihab yang pernah menyampaikan, “Bersahabatlah dengan Tuhan.” Ketika sedang gelisah karena sebuah masalah, yang pertama kali menjadi tempat curhat bukan teman, sahabat, keluarga, apalagi media sosial, melainkan Allah. Betapa beruntungnya jika kita menjadikan Allah sebagai sahabat. (hal 17). Bermula dari situ, Rifa’i mencoba lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana pastinya Allah adalah tempat bergantung dan berserah diri.

            Betapa tenangnya seseorang yang menjadikan Allah sebagai sahabatnya. Ketika cinta tak kunjung menyapa atau cinta sebabkan luka, seseorang itu tahu bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuknya. Betapa senangnya seseorang yang menjadikan Allah sebagai sahabatnya. Ketika berbagai masalah datang membuat seseorang itu gelisah, hatinya yakin bahwa Allah senantiasa ada untuknya.

            Namun, untuk mendekati Allah diperlukan istiqamah. Istiqamah bukan sesuatu yang instan dan bukan pemberian tanpa upaya. Perlu latihan, belajar, pembiasaan diri hal-hal yang sederhana. Selain itu, istiqamah perlu diperjuangkan bahkan kadang perlu dipaksakan. Itulah mengapa amalan yang dicintai Allah adalah amalan yang dilaksanakan dengan kontinu, dilakukan berkesinambungan, dan diamalkan secara istiqamah. Belajar istiqamah tidaklah singkat, bisa berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan seumur hidup. (hal 21).

            Pada dasarnya, manusia hanya sebatas pada apa yang bisa ia nilai. Sementara urusan hati, karena hanya Allah yang tahu, kita tidak bisa menjadikannya sebagai parameter penilaian. Yang kita tahu, hati yang baik akan berdampak pada perilaku yang baik. Bagaimana kita menilai seseorang taat pada agama atau tidak? Yang bisa kita lihat shalat dan puasanya, ia suka bermaksiat atau tidak, dan seterusnya. Yang kita jadikan sandaran pemilihan tentu saja apa yang bisa kita nilai.

            Syaikh Al-Habib Al-Jufri mengungkapkan, “Orang yang benar-benar bertekad menghadapkan diri kepada Allah sudah semestinya antusias mempelajari hukum syariat agar ibadahnya lurus dan benar.” Beliau juga mengungkapkan bahwa apapun perilaku dan ibadah seorang muslim, harus didasari ilmu. Seseorang harus mengetahui terlebih dahulu hukum-hukumnya. Tidak ada alasan tidak tahu. (hal 35).

Buku ini adalah penyejuk hati bagi setiap kita yang merindukan kedekatan dengan Tuhan, mendambakan pertolongan-Nya, dan merasakan kedamaian saat bisa menikmati kebersamaan dengan-Nya.

Biodata:

Ryan P. Putra. Penulis buku “Kelinci Percobaan K-13” (FAM Publishing, 2016) dan Mahasiswa S1 Departmen Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Editor : Satriani Dian Pertiwi | Arsitektur ITS 2013 | Kopidept IP JMMI Integrasi