Baca sebelumnya : Bidadari Surgaku (Bagian 1)

            Setahun berlalu, tapi tidak ada perubahan pasti dengan hari-hariku. Masih tetap sama seperti dahulu, kegiatanku masih berjalan terus sesuai takdir yang telah dipahatkan dalam lingkaran hidupku. Entah kenapa, ingatanku tiba-tiba tertuju pada sebuah syair yang pernah aku baca dalam sebuah perenungan malamku, perenungan yang tidak akan pernah aku lupakan selama hidupku. Karena perenungan itu adalah perenungan terakhirku bersama dengan ayahku, yang kini telah hidup berdampingan dengan Allah Azza Wa Jalla. Sebelum kepergiannya, sebuah syair ciptaannya terlantun indah di gendang telingaku, bagai energi nuklir. Syair itu menggetarkan seluruh jiwa dan ragaku, menjadi sebuah semangat dan motivasi yang begitu besar dan berarti dalam hidupku untuk terus berjuang dan tetap bertahan dalam kerasnya bebatuan hidup yang harus aku pecahkan satu per satu. Syair terakhirmu, akan selalu kukenang, ayahku.

            Takdir diri telah terpatri

            Pada permukaan kisah sang hari

            Mengeringlah segala tanda ketetapan Illahi

            Tergores indah dengan tinta suci tulusnya hati

            Sembari menuai syukur yang selalu hidup

            Atas segala anugerah dan kasih Rabbi

            Jalani semua jalan yang telah menjadi

            Sebuah pahatan cerita untuk hidupmu

            Sang Pejuang Kecilku

            Penerus perjuangan dan kisah indah

            Ketetapan sang Maha Penentu Takdir hamba-Nya

                                                                        Untukmu,

                                                                        Pejuang Kecilku

            Butir air mataku senantiasa tercipta di setiap sudut mata ini, saat kuingat pesan dari syair yang ingin disampaikan oleh ayahku. Pesan yang begitu dalam untukku, amanat yang begitu berarti bagiku, dan sebuah kepercayaan yang sangat besar untuk Pejuang Kecil seperti aku. Pejuang yang benar-benar merasakan sulitnya perjuangan untuk menempuh tembok pelangi.

***

             Teriknya sinar sang raja hari, seakan menyengat dalam ke tubuh kurusku ini. Seakan membakar semangatku untuk segera bangun dan memulai hari yang telah terjadwal sedemikian tertata rapi. Setelah sekian lama kulupakan angan diri untuk mempunyai sosok pendamping yang begitu tulus mendampingi, ternyata Allah SWT telah menetapkan dalam buku takdirku bahwa hari ini akan terjadi sebuah pertemuan yang tidak pernah terduga dengan seorang yang kuharapkan menjadi sosok yang telah menjadi ketetapan Allah SWT untukku. Seorang pendamping yang kuharapkan menjadi teman setia perjalanan panjangku untuk menempuh setiap jengkal perjuangan menggapai mimpi yang begitu tinggi melayang dalam untaian ikhtiar diri.

              Sore ini, aku mengajar Al-Quran seperti hari-hari biasanya. Di TPQ yang masih tetap sama seperti tiga tahun lalu, tetapi dengan santri yang terus bertambah di setiap bulannya. Bahkan diri telah melupakan segenap harapan untuk dapatkan seorang pendamping yang dahulu sangat ingin segera hadir untuk mendampingi setiap detak jantung dan nadi hari. Pertemuan yang begitu suci terjadi saat hatiku tengah menjalankan perintah sekaligus ibadah yang sudah bertahun-tahun aku jalani dengan tulus ikhlas. Dan kusadari bahwa, sebuah hal yang kita anggap baik, belum tentu baik untuk kita, karena terkadang Allah SWT telah mempunyai ketetapan tersendiri untuk kita. Dan sebaik-baiknya rencana atau harapan adalah sebuah takdir yang berasal dari Maha Pencipta Takdir seluruh umat manusia. Aku hanya berusaha jalani semua yang ada, tetapi kenyataan dan ketetapan adalah tetap menjadi ketentuan mutlak yang dimiliki-Nya.

              Jam dinding telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Sudah waktunya para santri untuk bersiap-siap pulang. Tetapi, entah karena hal apa, Pak Shaleh, salah satu guru senior di TPQ ini memanggil Maryam untuk menghadap kepada beliau. Maryam adalah salah satu murid yang paling cerdas, dia seringkali menjuarai lomba-lomba agama, seperti contohnya lomba BTA (Baca Tulis Al-Quran). Mungkin Pak Shaleh memanggil Maryam kali ini juga untuk membicarakan persiapannya untuk mengikuti sebuah lomba besar di kota yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat.

           Aku yang kurang enak badan, bergegas pulang setelah berpamitan dengan Pak Shaleh yang aku lihat sedang membicarakan hal serius dengan Maryam. Lalu, aku keluar menuju halaman depan masjid dan selanjutnya berjalan pulang. Tetapi, aku terkejut saat aku melihat seorang muslimah yang sedang kelihatan gelisah menunggu di depan masjid. Jika aku lihat dari raut wajahnya, sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Lantas, aku menyapanya dan menanyakan apa yang sebenarnya dia tunggu. Dan mungkin saja aku bisa membantunya, karena aku rasa sebelumnya aku tidak pernah melihat wanita itu di desaku.

             Setelah beberapa menit berbincang, ternyata benar dugaanku, dia sedang menunggu Maryam yang masih ada urusan dengan Pak Shaleh. Dan setelah aku bertanya-tanya lebih jauh, ternyata dia adalah kakak sepupu Maryam yang berasal dari kota. Dia baru datang kemarin malam dan karena sore ini orang tua Maryam sedang sibuk, maka dia yang diminta untuk menjemput Maryam.

             Aku sempat berbincang lumayan lama dengan dia. Aku merasakan ada yang berbeda dengan dirinya, karena aku berpikir bahwa orang kota tidak seramah itu, tapi ternyata dia begitu ramah dan santun kepadaku. Namanya adalah Asyifa. Sebuah nama yang begitu indah bagiku. Karena pemilik nama itu mempunyai penampilan yang begitu menggambarkan sosok wanita muslimah dan sikapnya pun sangat mencerminkan sikap yang begitu sesuai dengan ajaran Islam.

          Wanita yang sejujurnya menjadi idaman semua lelaki, termasuk juga idamanku selama ini. Pertemuan antara dua hati yang sebelumnya tak pernah saling mengenal, tetapi terasa ada sebuah ikatan yang menjadi penghubung antar dua jiwa yang tak pernah dipertemukan sebelumnya. “Subhanallah, apakah ini jodohku dari-Mu, Ya Allah?” terbesit suara hatiku dalam sesaat lamunanku.

             Tiba-tiba, terdengar suara Maryam yang berlari menghampiri Asyifa dengan senyum yang merekah di kedua pipinya. Dan itu membuat lamunanku hilang secepat angin yang berhembus di atas awan. Tidak hanya itu, diriku pun terkaget dengan kehadiran Maryam yang begitu cepat tanpa ada tanda-tanda kedatangannya sebelumnya. Mengaburkan bayangan tentang pertemuan kisah yang kuharapakan menjadi cerita yang indah antara dua hati yang berlandaskan ketulusan kasih sayang kepada Illahi Rabbi.

                Semenjak pertemuanku dengannya sore itu, seringkali kami berbincang-bincang tentang agama saat sore hari sebelum jam pulang. Bukan aku yang sengaja meminta waktu untuk berbincang dengan Asyifa, tetapi Asyifa sendiri yang ingin belajar lebih dalam mengenai agama Islam. Karena sebagai muslimah yang sudah beranjak dewasa, dia masih merasa belum tau banyak mengenai ajaran agama dan masih harus belajar banyak untuk bisa menjadi sosok seorang muslimah sejati yang mempunyai pengetahuan yang luas tidak hanya mengenai urusan dunia atau dalam hal teknologi, tetapi juga untuk urusan akhirat atau dalam agama. Asyifa pernah mengatakan kepadaku tentang sebuah kata-kata motivasi yang membuat dirinya sadar untuk lebih memperdalam ilmu agamanya.

 

            Dunia dan akhirat itu ibarat rumput dan padi

            Saat kita menanam rumput, maka tak akan tumbuh padi menyertai

            Tetapi tanamlah padi, pasti rumput akan tumbuh bersamanya

            Begitupun dunia dan akhirat nanti,

            Saat kita mampu mendapatkan akhirat, maka dunia akan kita dapat juga

            Tetapi, dapatkan dunia, belum tentu akan kita dapat akhirat besertanya

 

            Hampir setiap kali menjemput Maryam, aku selalu bertemu dengan Asyifa dan meluangkan sedikit waktu untuk saling berbagi tentang hukum-hukum agama. Aku akui, aku memang bukan lulusan perguruan tinggi agama ternama, bahkan aku belum pernah mencicipi pendidikan di perguruan tinggi agama sebelumnya. Tetapi entah kenapa, Asyifa seperti tertarik untuk menanyakan hal-hal yang masih belum diketahui olehnya kepadaku. Dan alhamdulillah, hampir semua pertanyaannya selalu bisa aku jawab dan pecahkan dengan lancar.

          Setelah berulang kali berbincang-bincang, dapat aku ketahui jika Asyifa sengaja datang ke kota di karenakan ikut dengan ayahnya, ibunya pun juga ikut. Ayahnya adalah mahasiswa Fakultas Sosial di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Dan saat ini, ayah Asyifa sudah hampir menuntaskan pendidikannya di tingkat Sarjana 2 atau S2. Dan sebagai tugas akhir sebelum kelulusannya, ayah Asyifa harus menyelesaikan penulisan skripsi. Kebetulan karena ayah Maryam mempunyai rumah di desa, maka ayah Asyifa memutuskan untuk melakukan penelitian tentang kehidupan masyarakat desa untuk menjadi bahan dalam penulisan skripsinya. Oleh karena urusan itu, keluarga Asyifa harus tinggal di desa selama kurang lebih 2 minggu.

***

              Semuaya berjalan begitu cepat, pertemuan pertamaku dengan Asyifa sungguh telah melukiskan sebuah cerita baru yang membekas lembab di dinding hatiku. Pertemuan yang begitu indah, antara dua hati dan jiwa yang saling membutuhkan seorang pendamping untuk merengkuh setiap rintang sepanjang tikar perjalanan yang sudah tergelar di hadapan.

             Sehari sebelum kepulangan Asyifa ke kota, aku memberanikan diri untuk menuliskan sebuah surat yang aku tujukan memang khusus untuk dia. Surat yang aku tulis tepat setelah Allah SWT mengirim sebuah mimpi balasan atas shalat istikharah yang selalu aku jalani setiap malam, demi mendapatkan sebuah jawaban yang terbaik atas sebuah hal yang baik bagiku. Karena jawaban yang terbaik sesungguhnya hanya jawaban yang berasal langsung dari-Nya.

 

     Untukmu : Asyifa

     Muslimah yang membuatku kagum

Mungkin  tak pantas diri ini mengungkap rasa yang tersembunyi untukmu. Tetapi aku telah meminta ijin kepada Penciptaku untuk mendapat kepastian dari kepantasanku mengungkapkan ini kepadamu. Kujalani shalat istikharah di setiap malamku, dan jawaban itu telah Allah SWT berikan melalui mimpi yang terbingkis indah di perjalanan panjang tidur malamku. Aku ingin menjadi imam yang terbaik untukmu, dan kuinginkan kamu menjadi makmum yang terbaik untukku. Aku ingin meminangmu dengan segenap ketulusan hatiku, tapi aku akan menunggumu hingga engkau  menerimaku menjadi imammu. Aku selalu berdoa disetiap shalat malamku, dekatkanlah jiwa kita berdua dan persatukan kita dalam sebuah ikatan yang halal, dan kita akan belajar bersama mengenai agama yang kita muliakan ini, Agama Islam. Jika kita memang jodoh, maka kita akan bertemu di sebuah pertemuan dan penyatuan sakral antara dua jiwa yang saling mengasihi atas landas karena Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih.

                                                                                                                    Dari : Ahmad

 

                Seperti sembab rindu Adam kepada potongan rusuknya, Hawa, kita saling menepiskan gundah. Seperti gemuruh cinta di jantung Bilqis, the Queen of Saba’, kepada Sulaiman, kita saling menumbuhkan kegembiraan. Selembut tulus kasih Muhammad kepada Khadijah, kita saling belajar menangkap makna yang paling rahasia.

               Aku ingin menjadi imammu sepenuh tunduk. Sebab hidup tak lain adalah hamparan waktu untuk melabuhkan ribuan ruku dan ribuan sujud yang tulus tercipta kehadirat-Nya. Di belakangku, kuinginkan kau belajar menerjemahkan dzikir pada untaian tasbih sederhana yang senantiasa menemaniku dalam sunyinya peraduan malam, sesaat sebelum sepasang tanganku dan tanganmu serentak menengadah gemetar ke langit kasih sayang-Nya Yang Maha.

               Aku ingin menjadi imammu, pemimpin yang terbaik untukmu. Seorang pemimpin yang bertanggung jawab atas semua kebaikan untuk diriku dan dirimu. Aku tak akan pernah memaksakan kehendakmu, tapi biarlah Allah SWT yang akan menunjukkan jalan terbaik untuk kita. Biarlah kepercayaan dan keyakinanmu mengalir alami di setiap meter jarak yang memisahkan jiwa kita berdua.

              Berbulan-blan telah berlalu, tak ada kabar tentang dirimu yang kini telah pulang ke kota. Mungkinkah engkau telah melupakan keberadaanku di desa yang terpencil ini. Tapi, aku yakin jika dirimu tak akan semudah itu melupakan kehadiranku dalam hari-harimu selama berada di desa yang sangat berbeda dengan kehidupanmu di kota.

              Tiba-tiba, sebuah kabar yang sungguh sangat mengagetkan hadir mengisi sebuah waktu yang sangat sunyi berlalu. Kuterima kabar dari Maryam bahwa sehari lalu telah terjadi kecelakaan dengan Asyifa. Kecelakaan yang membuatnya harus meregang nyawa dan juga menjadi sebuah kabar duka yang begitu mendalam menghujam deras di dalam hati dan jiwa yang begitu sangat menginginkan hadirmu, sosok pendamping yang begitu sholehah sepertimu, sosok yang sangat memikat hatiku bukan karena kecantikan wajah, tetapi lebih karena kecantikan sifat sikap, dan akhlak muslimahnya.

              Meneteslah air mata yang terjun deras menerpa ke pijakan diri yang tertatih lagi tanpa adanya sang penyemangat hari. Tanpa penggugah senyum hati, dan tanpa ada sosok muslimah yang selalu kubayangkan hadir disetiap ibadah malam yang ingin rutin aku jalani. Menjadi makmum yang memakmumiku dengan sepenuh tunduk, dan menjadikanku imam yang sebaik-baiknya imam dalam kehidupan bersama, dalam balutan status keluarga. Imam yang akan membawamu bersama keluarga kecil kita menuju surga, menuju tempat keabadian yang begitu indah dan sarat dengan kekekalan hidup, tanpa ada kesedihan, dan hanya akan ada kebahagiaan, kesenangan, kebersamaan, ketenangan, kedamaian, dan makna yang penuh dengan sinar rahmat yang begitu terang menyinari setiap insan manusia takwa, yang berusaha senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan selalu menjauhi segala larangan-Nya.

              Mungkin tak akan ada lagi sosok pendamping sepertimu, tak akan ada lagi yang menggantikanmu di hatiku. Dan aku ikhlaskan hatiku, jika memang engkau adalah jodohku, walau memang bukan jodoh yang akan dipertemukan di dunia, tapi jodoh yang dipertemukan di alam kekekalan, yaitu alam akhirat nanti, pendamping yang abadi untukku, menjadi Bidadari Surgaku. Seperti firman Allah SWT, semua umat-Nya pasti akan mendapat pendamping, entah nanti saat di dunia, atau jika tidak, maka pasti akan dipertemukan dengan jodohnya saat di akhirat nanti.

               Aku disini hanya mampu berdoa, mendoakan yang terbaik untuk kita berdua. Apakah nanti kita bisa bersama, biarlah menjadi rahasia Illahi, Allah SWT yang telah menentukan kepastiannya. Satu hal yang selalu ada di hatiku, setiap hembus nafasku, setiap aliran darah ke seluruh tubuhku, setiap detak jantungku, doaku senantiasa terpanjat agar Allah SWT mempertemukan kita di surga, dan semoga engkau menjadi Bidadari Surgaku.

***

TAMAT


Oleh : Zeffri Irawan | FTK ITS

Editor : Satriani Dian Pertiwi