Bersama kemilau sinar matahari sepenggalah, panas menjilat bumi untuk mengabarkan pada dunia bahwa siang hampir mencapai puncak. Seluruh penghuni alam bertandang, menggerakkan seluruh sendi tubuh, menari, bagai pucuk ilalang yang tergoyah angin. Mereka menari tanpa nada, bergoyang tanpa irama. Hanya bumbu harapan yang mendekap jiwa, menggemulaikan tarian kehidupan di setiap lorong yang semakin sesak. Inilah tarian kehidupan yang akan membawa ke puncak takdirnya. Dan, ini pulalah kesaksian matahari yang terus menyinari warna kehidupan pada semua manusia, yang dengan menjinjing harapan selalu mendamba setiap yang dilakukan dapat menuai hasil yang diinginkan.

              Hari yang indah berbalut dengan segala anugerah Allah SWT. Hangatnya sinar mentari mengiringi kisah perjalanan diri yang tengah mengarungi sebuah bahtera biduk kecil sendiri, mengharap seorang pendamping perjalanan panjang ini segera hadir mendampingi sosok diri. Menjadi teman setia sekaligus makmum untuk setiap shalat kusyu yang akan kami jalani. Seorang makmum yang baik dan terbaik untukku, yang masih belajar menjadi imam.

         “Astagfirullah”, tersadar aku dari lamunan yang tengah menguasai hati, besertanya tiba-tiba terdengar bunyi indah dari tempat yang begitu suci. Lantunan indah yang memanggil setiap jiwa yang rindu untuk bertemu dan mengahadap dengan pencipta dan pemilik ruh dalam diri ini. Segera kubergegas untuk mendatangi panggilan dan menuju ke tempat yang penuh rahmat itu. Tak lupa kuraih selembar sajadah yang senantiasa menjadi alas setia di setiap waktu kuhadapkan diri, hati, dan jiwaku untuk bermunajat kepada Illahi Rabbi.

             Kujalani dengan tulus, rakaat demi rakaat yang kupersembahkan hanya kepada-Nya, menyadari bahwa diri telah baligh dan berkewajiban untuk menunaikan segala ibadah wajib yang diperintahkan-Nya melalui firman maupun para utusan-Nya. Kewajiban ini tidak pernah membuatku mengeluh dan lelah, karena bagiku semua ini adalah keharusan dan bukti besarnya rasa syukurku atas segala kebaikan dan kemurahan yang Dia berikan kepadaku. Jika ku telaah lebih dalam, maka akan semakin takut diriku untuk melalaikan perintah-Nya dan semua kewajibanku itu. Karena, tidak terelakkan bahwa segala karunia-Nya begitu kental menyatu di setiap hembus nafasku, setiap detak jantungku, dan setiap aliran darah ke seluruh tubuhku.

         Tak pernah kuperintahkan nafas ini untuk terus berhembus, jantung ini untuk tetap berdetak, dan darah ini untuk terus mengalir membawa sari-sari makanan dan zat-zat penting lain ke seluruh tubuhku agar setiap organ dalam diri ini senantiasa bekerja seperti ketetapan yang telah menjadi bukti kebesaran-Nya. Tetapi itu semua berjalan dan bekerja tanpa ada sedikitpun perintah dariku, dan tak perlu repot bibir ini selalu memerintahkan setiap organ itu untuk bekerja sesuai dengan fungsinya, karena semua itu bekerja dengan sendirinya, bekerja tanpa henti dan tunduk kepada perintah pencipta-Nya. Bagaimana aku bisa mengelak dan melanggar perintah-Nya, karena telah kusadari bahwa organ tubuhku pun senantiasa bekerja dan berjalan dengan ikhlas dan tulus untuk terus mematuhi perintah-Nya. Pasti akan kurasakan malu yang teramat besar, apabila ku tak mampu mensyukuri dan menjalankan perintah-Nya. Karena aku sebagai hamba-Nya telah dianugerahi otak untuk berfikir dan hati untuk merenungkan hal-hal mana saja yang menjadi kewajibanku dan yang menjadi keharusan untuk senantiasa aku lakukan sebagai bukti rasa syukurku terhadap segala bingkisan anugerah-Nya. Itu hanyalah sepenggal contoh dari sekian banyak karunia yang diberikan-Nya kepadaku dan kepada seluruh umat-Nya.

         Seusai melaksanakan kewajibanku, aku mengikhlaskan diri untuk tetap duduk bersila sejenak, disertai hati yang tulus untuk terus bertasbih dan mata yang terpejam untuk dapat menggapai sebuah kekusyuan ibadah. Tak lupa, bait-bait doa pun kupanjatkan untuk kedua orang tuaku, keluargaku, dan seluruh saudaraku umat Islam. Aku mulai menengadahkan tangan dan terucap shalawat kepada junjunganku Nabi Muhammad SAW sebagai pembuka untaian doaku, kulanjutkan dengan membaca doa selamat dan kuakhiri doaku dengan bacaan surah Al-Fatihah, maka selesailah panjatan doaku kepada-Nya.

         Berdiri ku dari simpuhan diri yang begitu lemah di hadapan Illahi. Tanpa kusadari terbenam sepasang mata yang mengintai laku diri dari seberang kaca transparan yang terpasang di jendela salah satu sudut tembok masjid kecil ini. Sesosok wajah yang begitu kukenal segera terbangun dari duduk silanya yang begitu tenang sedari tadi. Beliau adalah Pak Manshur, takmir masjid ini.

            “Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,” sapanya dengan nada lirih penuh kebijaksanaan.

            “Wa’alaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh,” jawabku tenang dan serasa bergetar relung hati menjawab salam itu.

            Aku dan Pak Manshur sudah sejak lama saling mengenal, karena memang aku sering menunaikan shalat berjamaah di masjid ini dan Pak Manshur adalah takmir di masjid ini. Jadi setiap kali jamaah shalat lima waktu ditunaikan, maka selalu ada Pak Manshur dalam barisan jamaah itu. Tidak jarang bahkan Pak Manshur yang menjadi imam dalam shalat berjamaah tersebut. Tapi entah mengapa, beberapa hari terakhir Pak Manshur agak jarang terlihat mengikuti shalat berjamaah, terakhir aku dengar beliau mengumandangkan adzan adalah dua hari yang lalu. Entah apa yang membuat Pak Manshur menjadi begitu, mungkin ada sesuatu hal yang sedang terjadi.

            “Ahmad, aku sebenarnya telah lama mengawasimu, dan sekarang aku telah yakin dengan keputusanku,” katanya dengan sedikit terbata-bata.

            “Maaf Pak saya tidak mengerti, keputusan apakah yang Engkau maksud?” sahutku penuh rasa ingin tahu.

            “Di desa kita, sudah sangat jarang ada pemuda yang rajin berjamaah di masjid, bahkan untuk shalat lima waktu saja mereka sering lalai dan meninggalkannya, aku telah mengetahui seberapa kuat imanmu, dan aku ingin kau menggantikanku untuk menjadi muazdin di masjid ini,” tiba-tiba suara Pak Manshur terpotong karena beliau batuk berkali-kali.

            Batuk itu seakan bisa menggambarkan betapa sebuah kesakitan yang mendalam tengah menguasai jiwa Pak Manshur. Walau aku tidak mengetahui kepastiannya, tetapi wajahnya pun semakin pucat terlihat oleh mataku. Semakin membuatku yakin bahwa sebenarnya beliau menyembunyikan sebuah kesakitan dalam dirinya. Umur memang telah menjadikannya lemah, tubuhnya pun seakan tergerogoti oleh usianya yang semakin tua, badannya kurus dan jalannya pun teronta-ronta, tetapi semangat beliau tidak pernah padam untuk melaksanakan kewajibannya mengumandangkan panggilan shalat yang begitu mulia. Itulah yang membuatku bangga dan terkesima kepada sosok lelaki tua yang bernama Pak Manshur itu.

            “Pak, Engkau baik-baik saja kan?” sahutku cepat menanggapi keadaan Pak Manshur yang terlihat kurang baik.

            “Tidak apa-apa, Nak, aku baik-baik saja. Aku sudah tua renta, suaraku terasa sulit untuk keluar, dadaku terasa sesak untuk mengucap, dan aku rasa waktuku sudah dekat,” jawab Pak Manshur dengan senyuman yang besertanya terselinap bayang rasa sakit di wajahnya.

            Hatiku bergetar dan nadiku serasa berhenti mendengar ucapan itu, ucapan yang seakan memberi sinyal bahwa Pak Manshur akan segera pergi.

            “Maaf Pak, apakah Engkau tidak salah memilih saya?” tanyaku untuk mendapat kepastian dari Pak Manshur.

            “Iya, Nak. Aku sudah pertimbangkan semua ini, dan aku yakin dengan iman dan semangatmu untuk menyuarakan panggilan shalat yang mulia ini. Aku pun juga tahu dari ibumu, jika engkau sangat ingin menjadi muadzin,” jawab Pak Manshur dengan senyuman lebar terlukis di wajahnya, membuatku semakin yakin dengan keseriusan Pak Manshur walaupun beserta senyuman itu juga sempat terlihat bayang kesakitan yang begitu tergambar jelas di sudut-sudut matanya yang telah rabun dimakan usia.

            “Saya bukanlah seseorang yang sempurna, iman saya pun juga masih sangat dangkal, begitupun dengan kemampuan saya mengumandangkan adzan. Tapi demi kepercayaan Bapak dan demi perintah mulia dari Allah SWT, saya akan berusaha untuk menjadi muadzin yang senantiasa mengajak umat islam beribadah dan menunaikan anjuran shalat berjamaah di masjid,” sahutku dengan rasa syukur dan keyakinan kuat.

            Aku akui sudah sejak lama aku ingin menjadi pengumandang panggilan shalat di masjid ini. Masjid yang selalu menjadi tujuan utamaku untuk menunaikan shalat lima waktu dan shalat sunnahku yang lain. Mengumandangkan adzan merupakan sebuah kebanggaan tersendiri untukku. Memanggil setiap jiwa untuk menghadap dan bersujud kepada-Nya, merupakan sebuah ibadah yang mulia. Bahkan di akhirat nanti akan ada sebuah perbedaan yang membedakan antara para muadzin dan orang-orang yang jarang sekali mengumandangkan adzan. Itulah salah satu bukti bahwa menjadi muadzin adalah sebuah ibadah yang mulia dan memiliki nilai pahala yang besar di hadapan Allah SWT.

***

            Hari-hari berlalu dengan penuh kedamaian yang senantiasa tersenyum menghamparkan kasih Illahi untuk seluruh umat manusia yang merindukan teduhnya naungan payung sang penguasa binar mentari. Aku pun mensyukuri dengan hikmat segenap anugerah yang terbingkis dalam untaian doa yang selalu terpanjatkan saat kurelakan diri untuk mempersembahkan butiran sujud panjang dalam rakaat shalat wajib dan sunnah yang kujalani. Tak pernah terusaikan bait syukurku akan segala gores takdir yang termaktub di lembaran-lembaran singgasana Lauful Mahfudz-Mu.

          Pagi ini merekahlah semangat diri untuk berjuang meneruskan kisah perjuangan yang terus kubangun pada kokohnya pondasi iman dan takwa diri yang begitu sederhana membias lembap dalam setiap iringan nafas diri. Perjalanan yang begitu berarti karena terpenuhi dan termaknai dengan curahan hikmah dan pelajaran yang tak pernah aku temui di setiap renungan malam yang senantiasa kujalani sepenuh hati. Seperti jadwal rutinitas mentari yang terbit untuk menerangi segala aktivitas hari dan terbenam di ufuk barat pijakan ini, yang menjadi tanda bahwa hari telah berganti menjadi malam yang penuh dengan ketenangan, waktu yang biasa aku gunakan untuk lebih mendekatkan hati, jiwa, pikiran, dan diriku kepada-Nya, pemilik roh dan hidup yang tengah kujalani.

          Aku pun mengikhlaskan jiwa dan ragaku untuk menjalani rutinitas keseharianku, yaitu menggembala kambing. Tidak banyak kambing yang aku rawat, hanya lima ekor, dan semuanya adalah kambing warga yang sengaja digembalakan kepadaku. Setiap pagi hari, aku berangkat menggembala menuju ladang yang banyak ditumbuhi oleh rumput. Aku selalu mencari rumput-rumput yang masih segar dan bagus untuk makanan kambingku, agar pertumbuhan kambing-kambing yang aku gembala pun juga baik. Hingga menjelang adzan dhuhur datang, aku baru akan pulang. Tidak lupa aku turut membawa rumput yang juga aku dapat dari ladang tempatku menggembala sebagai makanan untuk kambingku saat malam hari. Jadi persediaan makanan untuk kambingku selalu ada sampai besok pagi harinya dan saat aku bawa kambingku ke ladang untuk mencari rumput lagi. Begitulah aktivitasku sehari-hari. Selain itu, aku masih punya aktivitas lain yaitu mengajar di TPQ Masjid Al-Huda. Masjid yang senantiasa menjadi tempatku untuk mempersebahkan sujud-sujud panjang di setiap ibadah shalatku.

          Mulai jam 3 sampai jam 5 sore, setiap harinya aku mengajar Al-Quran dan juga materi dasar mengenai agama Islam. Umumnya, santri yang aku ajar berusia sekitar 5 hingga 12 tahun, atau anak yang masih duduk di bangku TK (Taman Kanak-Kanak) hingga anak kelas 6 SD (Sekolah Dasar). Di TPQ sederhana ini, kuluangkan waktu senggangku untuk mengajarkan firman Allah SWT yang begitu agung dan mulia kepada para santri yang ingin bisa mempelajari, memahami, dan membaca tulisan dalam Al-Qur’an. Selain itu, aku juga mengajar tentang dasar-dasar ilmu agama Islam yang insya Allah bisa menjadi landasan, dasar, dan pedoman yang baik untuk anak-anak Islam dalam menghadapi gencarnya globalisasi dan modernisasi dunia menjadi lebih terbuka dan lebih berbahaya untuk semua lapisan masyarakat Islam yang tidak dibekali rasa iman dan takwa yang begitu besar kepada-Nya.

            Sudah hampir dua tahun aku menjalankan aktivitas ini. Semua bermula saat guru TPQ yang dulunya mengajar Al-Quran, berpindah ke luar kota untuk mengenyam pendidikan agamanya. Secara otomatis, TPQ Al-Huda kekurangan tenaga pengajar, karena saat itu hanya ada tiga guru pengajar dan itu berbanding jauh dengan jumlah murid yang mencapai 75 orang. Maka, aku yang sangat mengenal lingkungan Masjid Al-Huda, diminta oleh takmir Masjid Al-Huda untuk menjadi pengajar sementara menggantikan posisi yang kosong tersebut. Hingga waktu yang masih belum dapat ditentukan sampai kapan, dan apabila keahlian pengajaranku sudah dirasa pantas dan baik

            Aku sudah lulus SMA sejak setahun lalu, tapi hingga kini aku belum bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena biaya yang menghambat dan menghalangi keinginanku itu. Sebenarnya, sangat besar keinginanku untuk bisa melanjutkan menimba ilmu di perguruan tinggi negeri, tepatnya perguruan tinggi agama. Aku ingin memperdalam ilmu agamaku dan menjadi menteri agama. Oleh karenanya, aku ingin mengeyam pendidikan setingi-tingginya hingga mendapat gelar sarjana dan bisa meraih cita-citaku itu.

            Tapi, hingga kini semua itu bagai mimpi dalam tidur panjangku. Mimpi yang menjadi bayang setiap istirahatku dari letihnya raga menjalani hari-hari yang begitu keras. Bukan berarti aku pasrah dan putus asa dengan semua yang ada. Tetapi mimpi yang begitu tinggi itu selalu yang menjadi motivasiku untuk tetap tegar dan sabar melangkahkan kedua kakiku menapaki jalan hidup yang sungguh berliku-liku ini. Kuyakini bahwa Allah SWT sudah menuliskan takdir yang terbaik untukku. Meski berat menjalani cobaan hidup, aku selalu percaya bahwa Allah SWT akan mengirimkan sebuah kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan olehku. Kebahagiaan yang lebih dari yang aku harapkan, dan hasil dari kerja keras, kesabaran, usaha, perjuangan, dan doa tulusku selama ini. Itulah yang membuat aku tegar dan tetap berdiri kokoh walaupun deburan ombak menghalau dan merintangi jalan yang kulewati.

***

            Mentari tersenyum cerah membuka matanya yang begitu berbinar terang di pagi yang sunyi ini. Mengelabuhi segenap udara yang bermaksud datang membentuk segumpal awan gelap untuk mencipta hujan yang akan menerpa dan membasahi bumi yang tengah tergeletak kering menerima kenyataan hari. Itu semua bagai menjadi gambaran nyata cerminan diriku. Walau cobaan hidup ini begitu genjar menembakkan peluru pahitnya yang tepat menghujam tubuhku, tetapi hatiku tak pernah merasa sakit dan mati. Bagaimana aku bisa merasa seperti itu, dengan segala anugerah yang telah diberikan kepadaku. Masihkah aku harus merelakan diriku untuk pasrah menerima keadaan yang sesungguhnya menjadi jalan ujianku. Ujian yang akan menghantarkan jiwa yang lemah ini ke depan gerbang kemenangan dan kebahagiaan. Selalu itu yang terlantun dihatiku saat semangat di hati ini mulai lapuk dan roboh didera lelah dan kesukaran hari-hari yang seringkali datang menghampiri.

            Bercerita tentang sang air yang mengalir pada takdir ketetapannya. Membawa segenap kabar dari hulu yang penuh dengan harapan untuk melangkah pasti menuju hilir yang penuh dengan ketidakpastian. Lakunya yang begitu tenang bagai melukiskan ketawakalanku pada Sang Pencipta garis kehidupan ini. Menjadi bukti takwaku pada-Nya, dan tanda nyata segenap ketulusanku atas segala nada dalam bait syukur dan peraduan hati. Menghadap pada penjuru hati yang terkunci pada sebuah titik kesabaran. Tidak akan pernah kuhentikan hatiku untuk menciptakan tetesan embun kesabaran dalam diri, untuk menjalani kerasnya rintangan yang menghadang di sepanjang titian panjang perjalanan nafas ini.

            Sore ini, semua berjalan dengan penuh ketenangan hati dan jiwa. Tidak seperti biasanya, dinginnya udara senja ini menusuk dan meresap tajam hingga menyentuh tulang-tulang penegak raga diri, bagai bongkah es yang terperangkap dalam jaringan tubuhku. Kuusaikan shalat ashar berjamaah dengan para santri. Kebetulan sore ini akulah yang diperintahkan menjadi imam, sekaligus pengumandang adzan dalam sunyinya senja yang diselimuti hawa dingin yang seakan membawa kabar penuh kedamaian dari taman-taman surga.

            Terenungkan segala salah dan dosa yang kental menyatu dengan raga dan hati, walau senantiasa kata istighfar terlantun lirih dalam sunyinya peraduan malam. Tetapi, kuterbayang akan gelimang dosa dan kesalahan yang seringkali aku lakukan. Terutama kepada kedua orang tuaku yang telah berjasa besar untuk kehidupan sang pejuang kecil. Pernah hati ini menyakiti beliau, pernah sikap ini membuat beliau marah, dan juga pernah laku diri membuat hati yang begitu suci menjadi kecewa dan lantas terluka menerima sebuah hadiah pahit dari anak yang telah dikandungnya selama 9 bulan lebih.

***

BERSAMBUNG

Baca Selanjutnya : Bidadari Surgaku (Bagian 2)


Oleh : Zeffri Irawan | FTK ITS

Editor : Satriani Dian Pertiwi