kh-muhammad-kholil-bangkalan-al-maduri
sumber : https://kumpulanbiografiulama.wordpress.com

“Hampir semua pendiri Nadhlatul Ulama adalah murid Syaikhona Kholil. Mereka sangat menghormati dan mengangumi sosok beliau meskipun sudah menjadi orang-orang yang berpengaruh di daerahnya masing masing”

Syaikhona Muhammad Kholil atau yang sering dikenal dengan Mbah Kholil ini merupakan sosok ulama kharismatik di kalangan masyarakat Madura. Beliau lahir pada 11 Jumadil Akhir 1235H/1820 H di Bangkalan. Ayah Mbah Kholil bernama Abdul Latief yang merupakan garis keturunan dari sunan Gunung Jati. Selain itu beliau mempunyai beberapa keturunan yang bersambung kepada sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Kudus. Maka dari itu tidak heran jika anak dari seorang ulama/kiai biasanya menjadikan anak-anaknya yang memiliki disiplin ilmu yang tinggi. Dari kecilnya, beliau sudah sangat haus akan ilmu, khususnya ilmu Fiqih dan Nahwu. Terlihat dari kecilnya saja beliau sudah Hafal Al-Quran 30 juz beserta Qira’ah Sab’ahnya.

Mengawali pengembaraannya dalam menuntut ilmu, Mbah Kholil pergi menuju Tuban ke Pesantren Langitan yang di asuh oleh Kiai Muhammad Nur. Setelah itu beliau melanjutkannya ke pesantren Cangaan di Bangil, Pasuruan dan pindah ke pesantren Keboncandi, Pasuruan yang di asuh oleh Kiai Nur Hasan yang merupakan keluarganya yang berada di Sidogiri. Jarak antara Keboncandi dengan Sidogiri sekitar 7 kilometer. Dan setiap harinya Mbah Kholil menempuh perjalanan 7 kilometer itu dengan selalu membaca surat Yasin hingga khatam berkali-kali.

Pengembaraan keilmuannya ditempuh dengan tidak merepotkan kedua orang tuanya. Walaupun beliau termasuk keluarga yang sudah berkecukupan, akan tetapi beliau tetap bekerja sampingan selama nyantri di pesantran. Beliau menjadi buruh batik dan pemanjat kelapa untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya.

Pada tahun 1859 M atau bertepatan dengan usia 24 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke Mekah. Di Mekah beliau bertemu dengan berbagai ulama dari Melayu. Tidak hanya beliau yang belajar di Mekkah, ada juga Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Ahmad al-Bantani Minangkabawi. Selama menuntu ilmu di Mekah, beliau mendalami ilmu keagamaan dari berbagai madzhab. Akan tetapi pada akhirnya Syaikhona Kholil berkonsentrasi pada satu madzhab, yaitu madzhab Syafi’i. Selain belajar ilmu zhahir seperti hadist,tafsir, fiqih dan Nahwu, beliau juga mempelajari ilmu bathin (Esoteris) ke berbagai guru spiritual. Seperti Syaikh Ahmad Sambas yang mengajarkan terkait Tarekat Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah. Selain itu beliau juga menuntu ilmu kepada Syaikh Ali Rabbani yang merupakan seorang Tuna netra. Walaupun demikian, belaiu tetap takdzim dan melayani gurunya.

Setelah Syaikh Ali Rabbani memandang bahwa keilmuan yang dimiliki Syaikhona Kholil sudah mumpuni. Beliau menyuruh Syaikhona Kholil untuk kembali ke tahan air untuk menyebarkan agama yang selama ini didapat di Haramain, Mekah.

Sepulang dari Mekah, Mbah Kholil dikenal sebagai ulama yang ahli dalam bidang Fiqih dan Tarekat, selain itu dikenal sebagai Al-Hafidz. Lalu mendirikan pesantren Cengkubuan di Bangkalan. Setiap harinya jumlah santri yang ingin menimba ilmu keislaman di pesantrennya selalu bertambah. Setelah putri Mbah Kholil sudah dewasa, putrinya dinikahkan dengan keponakannya, Kiai Muntaha. Setelah itu pesantren Cengkubuannya dititipkan kepada Kiai Muntaha. Setelah itu Syaikhona Kholil mendirikan pesantren lagi di Kademangan yang merupakan 200 meter dari alun-alun kota Bangkalan.

Di pesantren Kademangan beliau mendapatkan banyak santri, bahkan yang berdatangan tidak hanya dari sekitar akan tetapi dari tanah seberang. Seperti : KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Habullah, KH Bisri Syansuri, KH. Raden Asnawi Kudus dan lain lain. Beliau dikenal ahli dibidang Fiqih dan Gramatika Arab (Nahwu-Sharaf).

Dalam mendirikan Naudhatul Ulama (NU), Syaikhona Kholil pun tidak dapat dilupakan. Melihat keinginan KH Hasyim Asy’ari yang ingin mendirikan organisasi Keislaman, akan tetapi KH. Hasyim Asy’ari merasa lelah dan beberapa kali memohon petunjuk kepada Allah melalui shalat istikharah. Ternyata petunjuk Allah datangnya dari Syaikhona Kholil yang diam-diam mengamati pergerakan muridnya, lalu Mbah Kholil mengutus As’ad untuk menghadap KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng dengan melafalkan surat Taha ayat 17-23. Mendengar utusan tersebut, KH. Hasyim Asy’ari langsung mempunyai kesemangatan lagi untuk mendirikan pesantren. Akan tetapi seiringnya waktu berjalan, organisasi tersebut belum juga didirikan. Akhirnya Syaikhona Kholil mengutus As’ad kembali untuk membawakan tasbih dan memberikan pesan kepada KH Hasyim Asy’ari untuk selalu mengucap ya Qahhar, ya Jabbar. Namun, sampai Syaikhona Meninggal, organisasi keagamaan belum juga didirkan. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 16 Januari Rajab 1344H/ 31 Januari 1926 M, Jami’iyyah Naudhatul Ulama didirikan.

Adapun karya-karya Syaikhona Kholil banyak menuangkan ide dan pikirannya dalam bentuk risalah-risalah. Seperti kitab Silah Fi Bayyin-Nikah yang membahas tentang tata acara, adab dan hukum nikah. Kitab terjemah Alfiyah yang berbentuk manuskrip. Shalawat Syaikhona Kholil Bangkalan (sebuah shalawat yang dihimpun Syaikhona Kholil dan kitab I’anatur-Raqibin) dan wirid-wirid Syaikhona Kholil bangkalan yang dihimpun oleh Kiai Musthofa Bisri dalam kitab Haqibah.

Syaikhona Kholil wafat pad tanggal 29 Ramadhan 1343 H/1925 M. beliau dimakamkan dekat dengan komplek pesantrennya di desa Mertajesa, Bangkalan. Saat ini makam beliau dikenal dengan sebutan Pasarean Syaikhona Kholil bin Abdul Latif Mertajasah Bangkalan.


Oleh : Zaid Sulaiaman | Teknik Material 2015 | Staf Departemen Islamic Press 1617

Editor : Muhammad Richa