ashabul
sumber gambar : gramedia.com

Amanah itu pernah Tuhan tawarkan pada gunung. Namun, gunung tinggi besar itu menolak (QS. Al-Ahzab 33:72). Bagaimana mungkin gunung sanggup menerimanya, karena kalau saja ayat-ayat Ilahi itu diturunkan di atas gunung maka gunung itu akan tunduk luluh lantak (QS. Al-Hasyr 59:21). Namun, manusia yang amat terbatas kemampuan fisiknya dan terbatas pengetahuannya serta kecenderungannya berbuat ingkar dan zalim – manusia seperti kita ini – justru menerima amanah itu karena sesungguhnya itu bukan pilihan, tetapi perintah Ilahi (taklif).

Kebahagiaan hakiki itu adalah ketika kita bersedia menerima kenyataan bahwa seluruh tubuh, hati, dan pikiran ini dijadikan Tuhan sebagai sarana mewujudkan kasih sayang-Nya pada alam semesta. Kita menjadi bagian dari rencana-Nya. Itulah amanah yang kita emban. Pada lubuk yang terdalam, amanah ayat-ayat Ilahi itu diletakkan dalam limpahan cahaya kasih sayang-Nya.

Begitulah cara Allah membagi peran-Nya kepada para hamba. Ada yang model Gus Mik menemani mereka yang dugem di sejumlah bar. Ada yang berdakwah di lingkungan prostitusi, seperti Kyai Khoiron, penuh risiko dengan segala godaan dan cemoohan.  Ada pula yang yang diminta untuk mendakwahi penguasa istana, dengan risiko salah ucap bisa masuk penjara. Atau, seperti Gus Dur yang selalu membela kelompok minoritas di negeri yang mayoritas muslim. Banyak peran “Tidak Mudah” lainnya yang Allah berikan. Mereka semua diminta untuk mencari wajah-Nya pada diri orang-orang yang hancur hatinya, orang – orang yang tak bisa lagi berharap kecuali dengan tangisan, dan pada mereka yang sedang menjauh –tetapi perlu di dekatkan kembali kepada-Nya serta mencarinya di sudut-sudut gelapnya kezaliman. Lewat para kekasih-Nya, Allah tebarkan kasih sayang tanpa terkecuali. Doa mereka hanyalah, “Jangan Engkau uji kami dengan ujian yang kami tak sanggup memikulnya.”

Pak Alamsyah Ratu Perwira negara yang diangkat menjadi Menteri Agama pernah berujar, “Bagaimana mungkin saya tidak percaya takdir. Jangankan masuk pesantren, lewat di depannya saja belum pernah, kok diberi amanah jadi Menteri Agama.” Ketika Muhammad yang ummi diangkat sebagai Rasul dan diberi wahyu pertama, “Bacalah!” Kira-kira apa perasaan beliau saat itu? Sering amanah hadir kepad amereka yang tidak menginginkannya, bahkan dipandang tidak layak menerimanya. Tetaplah sederhana, jauhi ambisi, bekerjalah dengan penuh cinta dan komitmen. Selebihnya, jangan kaget kalau tiba-tiba mendapat bonus!

Ketika kau tinggikan dirimu, orang lain memandangmu rendah. Ketika kau rendahkan dirimu, orang lain justru memandangmu penuh ketinggian. Aneh, bukan? Lebih aneh lagi kalau engkau terpengaruh dengan pandangan orang lain itu, baik yang meninggikan maupun yang merendahkan. Kemuliaan itu datangnya hanya (dan hanya) dari Tuhanmu.

Tulisan ini sungguh memberikan pandangan yang luar biasa dan (mungkin) menyinggung bagi siapapun yang terkadang atau sering menyepelekan sebuah atau bahkan berbagai amanah. Amanah menjadi sangat serius. Ada ihwal besar mengapa akhirnya Tuhan meletakkan amanah kepada yang hanya berani melaksanakan hingga tuntas. Terlepas bagaimanapun cara kita saat menerima segala peran atas amanah itu. 

Karena ternyata kita tak perlu mencari bukti, pamer eksis susah-susah,  berkompetisi dengan rival sampai berdarah-darah, hingga memendam rasa iri dan amarah. Jadilah pribadi yang benar (bukan saja baik), benar-benar berkomitmen atas segala pilihan, berani atas segala tantangan dan ikhlas atas segala kritikan. 

Kita hanya perlu terus melaksanakan hingga akhir dengan cara yang benar. Itu saja.

Bila engkau salah, mengakulah, karena Tuhan melihat itu
Bila engkau takut, berceritalah, karena Tuhan ingin mendengar itu
Bila engkau merasa terhimpit, memintalah, karena Tuhan menyukai itu
Bila engkau tak mampu berdiri, bangkitlah, karena Tuhan akan menguatkanmu
Bila engkau merasa sendiri melakukannya, ikhlaslah, karena Tuhan tidak ingin kau congkak karena itu

Maaf Tuhan bila selama ini kami hanya mencari-cari alasan, mengemis segala bukti kebaktian lalu dibutakan nikmatnya pujian. Bodoh sekali. Hingga kami jumawa, menganggap yang lain rendah. Padahal setiap dari kami akan dihisab habis. Diperlihatkan amalan kami. Bahwa selama ini kami hanya bisa ingkari janji.


Disadur oleh: Fahmi Ula dari buku “Ashabul Kahfi Melek 3 Abad” karya Dr.H. Nadirsyah Hosen, Ph.D. & dr. Nurussyahriah Hammado, M.NouroSci

Editor : Satriani Dian Pertiwi | Arsitektur ITS 2013 | Kopidept IP JMMI Integrasi