1956, rumah baru yang berada di Kebayoran Baru ini akhirnya selesai dibangun. Di depannya terdapat lahan luas yang cukup untuk membangun sebuah masjid. Hingga beberapa tahun kemudian akhirnya selesai dibangun. Hamka pun langsung menggunakannya tanpa menunggu diresmikan terlebih dahulu oleh Presiden Soekarno, sahabat sekaligus lawan politik beliau.

Mulanya jamaah sangat sedikit, hanya 5 sampai 6 orang saja. Namun lama kelamaan jamaah semakin banyak. Rutin setiap selesai sholat Subuh Buya selalu memberikan ceramah tafsir Al-Quran selama sekitar 45 menit. Dari kebiasaan inilah lahir sebuah karya monumental Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar.

Nama tafsir ini tak lepas dari nama masjid tempat awal mulainya Buya mengajarkan tafsir, Masjid Al-Azhar, yang tak lain adalah nama masjid di depan rumahnya tersebut. Pemberian nama Al-Azhar pada masjid ini ternyata juga memiliki sejarah yang menarik. Pun sejarah terselesaikannya Buku Tafsir Al-Azhar ini.

Pada tahun 1958, Buya Hamka mendapatkan undangan untuk menghadiri seminar di Universitas Punjab, Lahore, Pakistan. Hingga kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Mesir. Nama Buya ternyata sudah sangat dikenal di kalangan akademisi di sana. Terlebih waktu itu Buya merupakan bagian Pimpinan Muhammadiyah. Nama Buya diperkenalkan secara luas oleh Duta Besar Mesir untuk Indonesia waktu itu, Sayyid Ali Fahmi al-Amrousi.

Buya waktu itu diundang untuk mengisi kuliah tamu di Universitas Al-Azhar oleh As-Syubbanul Muslimun, organisasi yang berhaluan sama dengan Muhammadiyah. Materi yang disampaikan Buya sendiri merupakan materi yang menjadi pandangan hidup beliau, dengan judul “Pengaruh Faham Muhammad Abduh di Indonesia dan Malaya”. Kuliah tamu ini ternyata mendapat sambutan yang luar biasa bagi peserta. Tidak hanya akademisi yang datang, namun beberapa sarjana kenamaan Mesir, seperti Dr. Muhammad Al-Bahay, dan Wakil Rektor Al-Azhar saat itu, Syeikh Mahmoud Syaltout.

Kuliah tamu Buya ternyata mendapatkan respon yang lebih hebat lagi. Universitas Al-Azhar kemudian memutuskan untuk memberikan gelar kehormatan Doctor Honoris Causa untuk pertama kalinya. Hal ini tentu membuat Buya merasa sangat senang. Namun karena merupakan penghargaan yang untuk pertama kalinya dan protokoler belum disiapkan, pemberian penghargaan terpaksa ditunda karena Buya harus segera kembali ke Indonesia karena terjadi konflik di daerah asalnya. Hingga akhirnya Maret 1959 Buya diundang kembali ke Mesir untuk menerima gelar kehormatan ini, gelar Doctor Honoris Causa yang pertama dikeluarkan oleh Universitas Al-Azhar.

Desember 1960, Syeikh Mahmoud Syaltout dan Muhammad Al-Bahay berkunjung ke Indonesia sebagai tamu negara. Salah satu agendanya yaitu mengunjungi masjid yang ada di depan rumah Buya Hamka. Momen inilah yang digunakan oleh Syeikh Mahmoud Syaltout dalam sambutannya untuk memberikan nama Masjid Al-Azhar kepada masjid ini, dengan harapan dapat menjadi Al-Azhar seperti yang ada di Mesir. Sejak saat itulah masjid di depan rumah Buya Hamka ini dikenal dengan nama Masjid Al-Azhar.

(bersambung)

Oleh : Muhammad Richa | Teknik Fisika 2013 | Kepala Departemen Islamic Press JMMI 1617