dakwah-dan-perjuangan
sumber: http://amaljariah.org/dakwah-dan-perjuangan/

“Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.”

-KH Rahmat Abdullah-

Dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Kewajiban yang akan menjadikan kehidupan menjadi terasa damai dan tentram karena masing- masing orang akan senantiasa saling menjaga dan mengingatkan dalam kebaikan. Allah berfirman dalam Surat Ad-Dzaariyaat ayat 56, bahwa setiap bangsa jin dan manusia yang diciptakanNya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyembah dan beribadah kepadaNya.

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS Adz Dzaariyaat 51 : 56)

Setiap tempat dan zaman memiliki tantangan dakwahnya sendiri. Apabila mengingat perjuangan dakwah di era Soeharto, maka kita dapat melihat betapa beratnya perjuangan para pendakwah pada zaman itu. Intimidasi dan ancaman datang dari berbagai pihak. Seorang muslimah dilarang mengenakan hijab, suara adzan tidak boleh terdengar bebas, ceramah-ceramah agama sangat ketat dalam pengawasan, dan lain sebagainya. Ya, itu kisah pada waktu itu. Sekarang, Alhamdulillah semuanya sudah membaik. Syiar-syiar Islam sudah mulai dapat terdengar sampai pelosok-pelosok negeri ini tanpa ada intimidasi dari apapun. Agen-agen dakwah dapat mensyiarkan dakwahnya dengan bebas tanpa ada interupsi dari pihak manapun.

Berbicara tentang agen dakwah, tidak luput dari tempat dimana akan melahirkan generasi-generasi masa depan, yaitu dunia kampus. Kampus merupakan tempat dimana generasi muda yang disebut mahasiswa menimba ilmu, wawasan, pendewasaan dan sarana bersosialisasi dalam interaksi  sosial dengan sekelompok orang yang berbeda-beda watak, karakter dan latar belakang. Sehingga setelah mereka keluar dari kampus mereka mampu berkontribusi dalam perbaikan dan melakukan transformasi sosial bagi bangsa dan Negara ke arah yang lebih baik.

Kampus adalah miniatur sebuah negara dalam skala kecil, dimana hampir seluruh lingkungan kampus terdapat organisasi-organisasi mahasiswa yang dalam kelembagaan kampus statusnya formal. Sejalan dengan hal tersebut, kampus juga sebagai tempat munculnya agen-agen dakwah dengan berbagai pemahaman dan harokah. Hal tersebut memunculkan beberapa hal penting yang menjadi fokusan dalam perkembangam dakwah, diantaranya:

  1. Dakwah Terkesan Masih Eksklusif

Tercermin dari para aktivisnya yang dapat dikatakan kurang membaur dengan para mahasiswa yang lain. Padahal asalkan status aktivis dakwah kampus masih dijunjung tinggi nilai-nilainya, pluralitas yang ada dapat disikapi dengan baik oleh para aktivis dakwah dengan membaur tanpa melebur bersama mereka. Sebagaimana Allah memerintahkan dalam salah satu surat di Al Qur’an bahwa kita dilarang untuk menjadikan orang non muslim sebagai sahabat sejati kita. Karena orang ahli kitab sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah ayat 105, Allah berfirman yang artinya,

“Orang – orang yang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepada sesuatu kebaikan dari Tuhanmu. Tetapi secara khusus Allah telah memberikan rahmatNya kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemberi karunia yang paling besar.” (QS. Al-Baqarah: 105)

Untuk itu memang dibutuhkan tarbiyah dzatiah yang kuat sebagai tameng ini semua. Teori itu mudah dan memang berat dalam pelaksanaannya. Namun yang dirasakan selama ini beberapa aktifis dakwah kampus hanya akan menerapkan sunah atau menunujukkan keeksitensian diri pada sesama aktifis. Contohnya, sesama aktifis hanya menyampaikan kata Syukron, ‘afwan saat berkomunikasi dengan sesama aktifis dakwah. Namun mengapa kepada yang umum mereka tidak mengatakannya juga? Kalaupun dengan dalih bahwa menyampaikan sesuatu harus pada tempatnya, menurut saya ini hanyalah jawaban kamuflase belaka, karena ini belum mencerminkan alasan sesungguhnya kenapa seseorang tersebut berbahasa Arab dalam beberapa kata itu hanya kepada sesame aktifs dakwah. Walaupun alasannya ingin menerapkan apa yang Imam Al Syahid Hasan Al Banna wasiatkan yaitu dengan membiasakan berbahasa Arab walaupun sedikit mengapa harus pilih – pilih untuk membiasakan hal ini. Bukankah katanya ingin syiar, tapi mengapa syiar hanya kepada aktifis dakwah saja? Lalu sebenarnya tujuan syiar lebih kepada siapa? Aktivis atau ‘ammah?

  1. Komitmenitas ADK

Ya, permasalahan yang cukup urgent juga. Cukup banyak permasalahan yang berkaitan dengan komitmen ini, namun akan lebih fokus menanggapi komitmen para aktivis dalam mengemban amanahnya.  Tujuan utama kita adalah menunaikan atau menjalankan amanah orang tua yaitu akademik alias kuliah. Namun, jangan sampai hal itu menjadikan alasan kita untuk menunda-nunda suatu kegiatan dalam rangka syiar dakwah atau sejenisnya, sehingga program-program dakwah yang telah disusun tidak terlaksana. Namun, juga jangan sampai karena ingin cepat-cepat lulus, kita terburu-buru untuk menyelesaikan amanah kita tanpa mempertimbangkan teman-teman atau jundi-jundi yang ada dalam sebuah wajiha tersebut dan bahkan terkesan memaksakan program-progran dakwah. Jadi, disini kita sebagai aktifis dakwah harus pandai-pandai untuk dapat berlaku adil dan bijaksana.

  1. Krisis Keteladanan

Seseorang yang menjadi aktivis dakwah kampus seharusnya adalah orang yang benar – benar dapat memberikan keteladan baik dari sikap, kesantunan, intelektualitas, dan spiritualitasnya. Bila aktifis dakwah kampus kurang memberikan keseimbangan dalam hal – hal terkait di atas maka dakwah akan cenderung dipandang sebelah mata oleh umum. Sekali lagi, keseimbangan ini tidak harus mengorbankan komitmennya sebagai Agen Dakwah Kampus. Melebur tanpa terwarnai.

  1. Inisiatif Untuk Aktif

Sebaik-baiknya aktivis itu adalah yang memiliki Inisiatif untuk bergerak sendiri, bukan karena ada hal-hal tertentu yang membuatnya untuk aktif, tapi karena niat tulus untuk mensyiarkan Islam, niat tulus karena Allah. Namun, yang terlihat selama ini, hampir semua aktivis itu harus terlebih dulu ditekan dan diperintah untuk menjalankan baru mereka mau untuk bergerak.

  1. Kreativitas dan Inovatif

Sebuah kegiatan itu ada masanya masing-masing, mungkin kegiatan ini menjadi primadona di masa sekarang, namun beberapa tahun ke depan atau bahkan beberapa minggu ke depan tren dari kegiatan tersebut sudah tidak efektif lagi untuk dijadikan strategi untuk berdakwah. Sehingga kreatifitas dan inovatif sangat dibutuhkan untuk mensyiarkan agama Rahmatan lil ‘alaamiin ini.

Begitulah kondisi perkembangan dakwah pada masa sekarang. Besar harapan penulis bahwa agar para aktifis dakwah minimal dapat menerapkan kelima fokusan dakwah tersebut. Semoga pundak-pundak kita, pundak-pundak para pejuang di jalan Allah senantiasa dikuatkan oleh Allah. Sehingga kita dapat maksimal dalam mengemban amanah di jalan dakwah ini.

Penulis             : Nuha Malihati | Teknik Geofisika 2014

Editor              : Satriani Dian Pertiwi | Arsitektur 2013