Pada hari Ahad, 26 Maret 2017 di ruang utama Masjid Manarul Ilmi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, JMMI mengadakan kajian isu dengan tajuk ‘Cakrawala’. Kajian Isu Cakrawala yang diselenggarakan oleh tiga departemen, yaitu Departemen Islamic Press, Jaringan, dan Syiar JMMI 2016/2017, ini merupakan sebuah talkshow yang membahas tentang isu-isu yang terjadi dalam kehidupan yang juga turut mengundang narasumber pada bidang masing-masing. Kali ini, tema yang diangkat yaitu “Gejolak Negeriku Namun Aku Tak Peduli”. Ada 3 perspektif yang dibahas, yaitu perspektif Islam dengan narasumber Ust. M. Yunus dari Majelis Ulama Indonesia, perspektif hukum dengan Dani Setiawan, SH sebagai advokat publik, dan perspektif aktivis kemahasiswaan diwakili Rofi Arga Hardiansyah sebagai presiden BEM ITS periode 2016/2017. Pada tulisan kali ini, akan dibahas secara khusus bagaimana pandangan pada perspektif mahasiswa.

Menurut presiden BEM ini, gejolak negeri memuat tentang dua hal. Yang pertama adalah tidak adanya komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat yang akan menimbulkan pro kontra. Hal kedua yaitu segala macam kebijakan yang terjadi selalu disangkut pautkan dengan politik. Hal ini akan berdampak pada sesuatu yang bukan politik terbawa pada hal yang berbau politik. Contoh masalah yang terjadi baru-baru ini dimuat di media, yaitu sebuah kasus yang pada tahun sebelumnya tidak pernah dipermasalahkan, saat ini diungkit kembali. Hal ini menimbulkan pro kontra pada masyarakat. Pro kontra ini juga bisa disebabkan karena tidak ada penjelasan secara rinci dari pemerintah apa yang harus dilakukan oleh masyarakat yang bisa disalurkan lewat media.

Hal ini diperparah dengan terlalu bebasnya media yang memberikan penjelasan yang belum tentu benar, tetapi dianggap benar oleh masyarakat. Terlebih lagi jika setiap media dimiliki oleh perseorangan yang mem-publish referensi dari perspektif masing-masing. Sehingga ketika media yang satu dan media yang lain berbeda pendapat, bisa membuat masyarakat semakin bingung harus percaya terhadap media yang mana. Karena itu perlunya tindakan seperti media yang dipegang oleh berbagai pihak sehingga perspektif akan berasal dari keputusan orang banyak agar pro kontra dapat diminimalisir.

Arga juga berpendapat tentang peran fungsi mahasiswa, salah satunya social control yang seharusnya digunakan saat membahas pilkada ini. Namun mahasiswa yang juga sebagai agent of change lebih menarik diri terhadap politik apalagi yang membawa nama agama. Mahasiswa lebih menyukai hal-hal konkrit yang bisa dicari datanya, tanpa perlu memusingkan hal-hal yang belum pasti. Mahasiswa juga sering disibukkan dengan dirinya masing-masing yang membuat agak pasifnya pergerakan yang dibuat. Malah mahasiswa yang memiliki jiwa aktivis yang lebih tinggi harus memiliki prinsip yang kuat, karena bukan hanya turun ke jalan yang difikirkan tapi juga mendapat amanah untuk mengajak mahasiswa yang lain untuk mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi di negara ini.

Selain itu pemerintah juga memberikan batasan-batasan yang tidak membebaskan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi, antara lain dengan melakukan penangkapan seorang mahasiswa sebelum melakukan aksi apapun. Batasan-batasan ini yang me-mind set mahasiswa bahwa pemerintah anti kritik. Saat mahasiswa memberi kritikan pada pemerintah, pemerintah menjawab apakah hanya kritikan? Apakah tidak ada solusi yang dapat diutarakan? Padahal menjadi seorang yang memiliki jabatan tinggi seharusnya yang menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah.

Langkah yang dapat dilakukan mahasiswa terhadap gejolak negeri yaitu menghidupkan majelis ilmu dan forum-forum yang membahas negara ini. Karena adanya pergerakan dikarenakan adanya keresahan. Dan forum-forum itu merupakan salah satu faktor untuk menimbulkan keresahan. Sebagai contoh, saat suatu forum membahas tentang pembangunan oleh masing-masing calon pada pilkada, bagi masyarakat yang berkecukupan akan mengatakan bahwa pembangunan yang dihasilkan akan baik-baik saja. Namun bagaimana halnya dengan masyarakat yang kurang mampu? Tertindasnya rakyat kecil akan kebijakan yang dibuat ini yang dapat membuat keresahan pada mahasiswa, sehingga akan memunculkan pergerakan. Pergerakan ini seharusnya tidak dilakukan sendiri, tapi juga dapat dilakukan bersama-sama meskipun setiap daerah berbeda-beda dan sulit dalam menggabungkannya.

Kata-kata penutup dari Arga sebagai presiden BEM ITS periode sekarang sangat menggugah semangat seorang mahasiswa. Mahasiswa merupakan peran penting dalam sebuah negara, karena mahasiswa dekat dengan pemerintah dan dekat pula dengan masyarakat. Mahasiswa itu masa ideal, karena jika benar dapat diteruskan tapi saat salah dalam diperbaiki. Mahasiswa seharusnya intropeksi diri akan apa yang telah dilakukan. Akankah lebih disibukkan dengan dirinya sendiri? Ataukah dihidupkan dengan keresahan? Karena peran dan fungsi mahasiswa itu efektif saat mahasiswa ingin bergerak, dan akan berdampak baik di kemudian hari.

 

Oleh Ulfa Siti Nuraini | Statistika 2015 | Staff Islamic Press JMMI ITS 1617

Editor : Muhammad Richa