sumber : http://www.islamiclandmarks.com/wp-content/uploads/2016/01/Masjid-e-Nabwi.jpg

Bismillah

Salah satu pertengkaran sesama Muslim di sekitar Surabaya dalam mengadakan kajian membuat kita yang berusaha mendamaikan sesama Muslim mengelus dada. Berbagai cacian maupun sindiran menyebar dari berbagai arah. Dari pihak yang menolak, pihak yang tertolak, dan pihak yang memperkeruh suasana. Tak perlu kita sebutkan cacian dan sindiran dari masing-masing pihak. Jelasnya, sebagian cacian dan sindiran menandakan bahwa kedua belah pihak belum duduk bersama, bertetangga dengan mesra, saling memahami. Tak perlu mendudukkan pihak yang memperkeruh suasana, karena apabila kedua pihak yang berselisih mampu duduk mesra, pihak ketiga hanyalah buih yang siap meletus tanpa makna.

Dari secuplik kasus di atas, keduanya adalah sasaran dakwah kita apabila dilihat dengan kacamata “sobo masjid“. Pada kenyataannya, spektrum sasaran dakwah kita begitu berwarna. Coklat, hijau, biru, kuning, putih, hingga tanpa warna. Ada yang memancarkan cahaya sendiri, ada yang memantulkan cahaya apabila kita sinari, ada pula benda hitam yang tak memantulkan cahaya sama sekali. Ada yang begitu mudah diajak, ada yang ogah-ogahan, ada pula yang menolak. Sasaran kita juga tak hanya sesama Muslim, meskipun itu menjadi prioritas. Namun, bukankah Islam menjadi rahmat untuk alam semesta?

Meminjam brainstorming dari Dr. Darmaji, dosen Matematika ITS, jumlah mahasiswa seluruhnya di ITS ada 19.000an. Kapasitas Masjid Manarul Ilmi mampu menampung 6.000an jamaah. Shalat jamaah duhur sehari-hari ada berapa shaf? Program JMMI kebanyakan untuk yang ikut shalah jamaah duhur sehari-hari atau di luar itu? Apabila kita renungkan baik-baik dari pertanyaan itu, kita akan menyadari, betapa sempitnya sasaran dakwah yang kita anggap luas selama ini. Mungkinkah kita terlena karena pujian-pujian yang diberikan dari LDK lain? Semoga saja tidak.

Ada berapa banyak sebenarnya spektrum dakwah kita? Secara umum, sesama Muslim, bisa kita bagi menjadi dua, yakni “sobo mesjid” dan “dereng sobo mesjid“. Sobo mesjid bisa kita ibaratkan pohon nyaris sempurna dengan bagian akar, batang, dan bagian perindangnya. Mereka punya pokok yang sama dan cabang yang berbeda-beda, baik batangnya maupun akarnya. Akarnya adalah rukun iman, batangnya adalah rukun Islam. Pada tingkat mahasiswa, kita mengenal ada nahdliyin yang terkumpul pada PMII, tarbiyah dengan KAMMInya, salafi yang diwadahi Thaybah, dan perkumpulan-perkumpulan lain. Masing-masing dari perkumpulan mahasiswa itu punya ranting-ranting. Seperti NUGL, KAMMI Kultural, dan Salafi yang lebih sporadis. Mendengar secuplik sobo mesjid saja membuat kita harus gusar, apakah kita benar-benar mengenal mereka? Belum lagi dengan dereng sobo mesjid.

Dereng sobo mesjid memiliki spektrum yang sangat luas. Secara mudahnya bisa kita kelompokkan pada minat dan bakat mereka. Ada yang suka dengan futsal, basket, dan olahraga lain, ada yang suka dengan bisnis, kuliner, online game, trip, dan lain lain. Namun, ternyata pada lapangannya tidak semudah itu. Masing-masing orang tidak hanya memiliki hobi yang tunggal. Belum lagi ternyata mereka memiliki pemahaman tertentu dalam memandang Islam. Sudahkah terhitung oleh kita, betapa banyak dari mereka yang sering marung, jalan-jalan di mal, atau duduk-duduk di perpustakaan?

Kita harus berhati-hati dalam mengenali sasaran dakwah kita. Jangan sampai, kesalahan kita dalam menyebut pengelompokan mereka justru membuat mereka bangga atas jarak yang begitu jauh dengan Islam. Kesalahan itu misalnya Clifford Gertz dalam The Religion of Java, membagi Muslim Indonesia (khususnya di Jawa) ke dalam tiga kelompok besar, yaitu abangan, priyayi, dan santri. Jangan pula terjebak dengan istilah yang tidak berdasarkan pemahaman Islam, seperti penyebutan istilah “intoleran” untuk Muslim yang tidak mengakui Ahmadiyah. Padahal kita sendiri memahami bahwa Ahmadiyah sudah keluar dari Islam karena mengakui adanya nabi baru yang membawa syariat baru. Cukuplah dengan istilah “dereng sobo mesjid” atau yang semisalnya, sehingga ketika mereka mendengar istilah itu, minimal mereka akan merenung dalam hati kecilnya, “ohya, aku belum sobo mesjid.” Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk… (QS Al Hujurat [49] : 11)”

Perlu diingat, pengenalan kita terhadap sasaran dakwah tak terbatas pada hal-hal umum yang biasa tampak pada kehidupan sehari-hari. Ada pula sasaran dakwah dengan permasalahan spesifik yang perlu penanganan dalam waktu dekat, seperti orang yang terkena hutang, sakit, akademiknya jatuh, terjerumus maksiat, dll.

Pertanyaan yang perlu diulang adalah, berapa banyak sasaran dakwah kita yang pro dakwah, apatis dakwah, dan anti dakwah?

Dari saudaramu yang berusaha memahami bagaimana Islam membawa perdamaian dan perbaikan di atas muka bumi

 

Oleh : Luqman Raharjo | PWK 2013 | Kepala Departemen Keilmuan JMMI ITS 1617

Editor : Muhammad Richa