Wahai (Calon) Presiden, Apa Yang Kau Inginkan?

0
487
sumber gambar: http://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/Pemimpin-30ss5ap7qcn9ht1sdgzg1s.jpg

“Pemimpin sejati tidak butuh memimpin; ia lebih senang menunjukkan arah.”

Unik memang membaca dan mendengar kutipan dari seorang Henry Miller yang mengibaratkan pemimpin sejati sebagai penunjuk arah. Entah ke arah mana suatu bahtera berlayar, kendali ada pada seorang kapten kapal. Ke arah mana burung besi akan mengudara, semua ada pada sang pilot. Pun ke arah mana suatu kaum akan menapaki jalannya, semua ada di tangan seorang pemimpin.

Berbicara soal pemimpin, dua calon penunjuk arah tersebut telah ditetapkan. Bukan, ini bukan soal Pilpres yang telah lalu, apalagi Pilpres mendatang. Bukan pula soal Pilgub Ibu Kota yang sedang ramai di layar kaca. Terlalu jauh untuk membahas itu. Terlalu naif untuk ikut campur urusan politik abu-abu yang arahnya tak menentu. Tapi ini soal pemimpin suatu keluarga, Keluarga Mahasiswa. Penulis yakin, dua calon pemimpin itu adalah mahasiswa pilihan, putra terbaik, dan nakhoda handal yang akan membawa KM berlayar ke arah yang lebih baik. Semoga saja.

Namun, tanpa menciderai konstitusi yang berlaku, bolehkan penulis menanyakan suatu hal. Penulis rasa tidak perlu meminta izin karena pemimpin yang baik pasti akan selalu mendengarkan rakyatnya. Simpel. Wahai (calon) presiden, apa yang sebenarnya kau inginkan?

Karena Menjadi Pemimpin itu Berat

Seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Sesuai dengan hadist “Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung-jawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) dari hal hal yang dipimpinnya. (Bukhari wa Muslim)

Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa seorang pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kesejahteraan rakyatnya. Ibarat orang tua yang memberi anaknya makanan belum pantas dikatakan tanggung jawab apabila hanya memberi makanan tanpa memerhatikan gizinya. Demikian pula pemimpin yang harus menjadi ‘pelayan’ bagi orang yang dipimpinnya dan bertanggung-jawab atas kesejahteraan rakyatnya.

Lantas kesejahteraan apa yang rakyat, yang dalam konteks ini adalah mahasiswa di dalam KM. Penulis rasa mereka berdua lebih tahu apa yang dibutuhkan KM agar dapat sejahtera. Yang jelas adalah mempermudah mahasiswa menerima hak-haknya sebagai mahasiswa dan mempermudah pula menjalankan kewajibannya. Bukan malah bersikap birokratis dengan mempersulit urusan mahasiswa dan organisasi mahasiswa di bawahnya yang menjadi tanggungjawabnya.

Karena Menjadi Pemimpin itu Berat

Pemimpin harus bisa bersikap adil dalam berbagai kondisi dan situasi. Berdasarkan hadist “Abu hurairah r.a: berkata: bersabda nabi saw: ada tujuh macam orang yang bakal bernaung di bawah naungan Allah, pada hati tiada naungan kecuali naungan Allah: Imam(pemimpin) yang adil, dan pemuda yang rajin ibadah kepada Allah. Dan orang yang hatinya selalu gandrung kepada masjid. Dan dua orang yang saling kasih sayang karena Allah, baik waktu berkumpul atau berpisah. Dan orang laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan nan cantik, maka menolak dengan kata: saya takut kepada Allah. Dan orang yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan orang berdzikir ingat pada Allah sendirian hingga mencucurkan air matanya. (Bukhari wa Muslim)”

Tergambar jelas bahwa pemimpin yang adil disebutkan pertama kali dalam hadist yang menjelaskan tujuh golongan orang yang akan bernaung di bawah naungan Allah. Sungguh betapa mulianya seorang pemimpin jika pemimpin tersebut benar-benar bersikap adil. Perilaku adil seorang pemimpin dapat dilihat dari keputusan dan kebijakan yang dikeluarkannya. Tak terkecuali presiden keluarga mahasiswa. Keputusan dan kebijakan yang dikeluarkan harus seadil-adilnya. Tidak membela satu golongan pun, terutama golongan-golongan yang telah menjadi tim suksesnya sebagai rasa terima kasih. Tidak, tidak seperti itu. Terlebih lagi musyawarah besar yang menjadi landasan hukum tertinggi sebagai acuan dalam gerakan kemahasiswaan tidak lama lagi akan digelar. Keputusan presiden yang nantinya terpilih akan sangat berpengaruh pada kehidupan mahasiswa yang dipimpinnya.

Karena Menjadi Pemimpin itu Berat

Allah membenci pemimpin yang mengejar jabatan. “Abu said (abdurrahman) bin samurah r.a. Berkata: rasulullah saw telah bersabda kepada saya : ya abdurrahman bin samurah, jangan menuntut kedudukan dalam pemerintahan, karena jika kau diserahi jabatan tanpa minta, kau akan dibantu oleh allah untuk melaksanakannya, tetapi jika dapat jabatan itu karena permintaanmu, maka akan diserahkan ke atas bahumu atau kebijaksanaanmu sendiri. Dan apabila kau telah bersumpah untuk sesuatu kemudian ternyata jika kau lakukan lainnya akan lebih baik, maka tebuslah sumpah itu dan kerjakan apa yang lebih baik itu. (Bukhari wa Muslim).

Untuk menjadi calon yang terpilih dan nantinya akan dilantik menjadi presiden yang sah tentunya membutuhkan dukungan dari rakyat dalam pemilihan. Untuk mendapatkan dukungan rakyat, sudah barang tentu kampanye, ajakan, dan promosi demi membentuk citra positif terus dilakuka, baik oleh calon itu sendiri maupun para pendukungnya. Bahkan poster dan slogan ‘Juang’ kini sudah terpasang dan menyebar seantero dunia maya. Apakah tujuan dibalik itu semua? Apakah salah satu bentuk ambisi untuk mengejar jabatan semata? Demi posisi tertinggi dalam KM? Jika tidak, hapuskan keawaman kami, wahai (calon) pemimpin. Dan ubah paradigma kami menjadi lebih terarah dalam kebaikan.

Karena Menjadi Pemimpin itu Berat

Jabatan seorang pemimpin itu dekat dengan neraka. “Rasulullah saw bersabda: setiap pemimpin yang memimpin rakyatnya, pada hari kiamat pasti akan didatangkan. Kemudian malaikat mencengkeram tengkuknya dan mengangkatnya sampai ke langit. Kalau ada perintah dari allah: lemparkanlah, maka malaikat akan melemparkannya ke bawah yang jauhnya adalah empat puluh tahun perjalanan. (Ibnu majah)

Hadist tersebut adalah suatu penggambaran betapa beratnya jabatan pemimpin. Seolah berjalan di medan pertempuran yang penuh ranjau, jika tidak sangat berhati-hati, ranjau akan terinjak dan membinasakan dirinya sendiri. Pun posisi pemimpin sangat rentan karena tanggungjawab yang dipikulnya semakin besar. Riawayat lain disebutkan bahwa pemimpin akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya kelak di hari pembalasan. Bahkan pemimpin adalah orang yang terakhir kali masuk surga atau neraka-Nya setelah semua rakyatnya ditanya tentang seperti apa pemimpin mereka itu.

Karena Menjadi Pemimpin itu Berat

Banyak pemimpin di luar sana yang berdiri atas nama rakyatnya, ada pula yang berdiri atas nama golongannya. Tinggal pilih saja mana teladanmu dan mana yang akan kau terapkan pada kami. Tapi, kami merindukan pemimpin seperti Abu Bakar As-Sidiq yang berbudi luhur, rendah hati, dan dermawan. Kami merindukan pemimpin seperti Umar Bin Khattab yang tegas, pemberani, dan sederhana. Kami merindukan pemimpin seperti Ustman Bin Affan yang ramah, sabar, dan adil. Kami merindukan pemimpin seperti Ali Bin Abi Tholib yang rela berkorban, bekerja keras, dan pantang menyerah. Karena sejatinya semua manusia adalah pemimpin. Minimal, pemimpin untuk dirinya sendiri.

Jika tujuanmu mulia, tunjukkan pada kami, karena separuh nasib KM ini, akan kami titipkan di pundakmu. Selanjutnya terserah padamu, akan kau bawa ke arah mana amanah kami.

Terakhir, rayu kami dengan etikamu. Bujuk kami dengan moralmu. Belai kami dengan akhlakmu. Bukan sekadar omong kosong dan janji-janji manismu.

Karena pemimpin bukan pemimpi, bukan soal posisi, juga bukan soal kursi, tapi soal aksi, dan tidak banyak selfie.

 

Ibu Kota Propinsi Paling Timur Pulau Jawa

Bulan Kesebelas 2016

~Dari mahasiswa yang masih belum pantas menjadi pemimpin~

Ahsanul Marom | Staf Departemen Islamic Press 1617

Editor: Muh Richa