peta

Sejarah Islam mengenalkan kita dengan istilah Wali Songo yang sering diartikan dengan wali sembilan. Selama ini dalam pandangan kita sejarah mengenai Wali Songo banyak digabungkan dengan pemahaman-pemahaman yang keliru. Wali Songo sering di anggap sebagai tokoh yang penuh dengan nuansa mistik seperti yang digambarkan dalam perfilman sekitar tahun 80-an. Seolah mereka adalah tokoh yang tidak penting untuk diingat dan dipelajari. Padahal kalau dipahami dengan baik, sejarah Wali Songo dari aspek konfrehensif yaitu bukan hanya sekedar tentang ajaran Wali Songo tetapi tentang peran Wali Songo dalam sejarah di Indonesia terutama sejarah Islam Indonesia. Apabila ditelusuri latar belakang mereka,  sebenarnya mereka adalah para da’i dan ulama, ada yang sengaja datang dari Timur Tengah seperti Sunan Maulana Malik Ibrahim yang dikirim dari Arab untuk mengajar di Indonesia.

Para wali  tersebut memiliki murid yang jumlahnya tidak sedikit dan menyebar hampir ke seluruh penjuru Pulau Jawa. Mulai dari ujung barat yaitu Kota Banten, Sunan Gunung Jati mengirimkan murid sekaligus putra beliau yaitu Maulana Hasanudin. Kemudian di sebelah timur Kota Banten terdapat Kota Cirebon, salah satu Wali Songo disana ialah Sunan Gunung Jati. Sedangkan Jawa Tengah ada Sunan Kudus dan Sunan Muria. Lalu Jawa Timur tepatnya di daerah Tuban ada Sunan Bonang, di Gresik ada Sunan Giri dan Sunan Drajat, dan di Kota Surabaya ada Sunan Ampel.

Istilah Wali Songo merupakan istilah baru dimana dalam naskah-naskah lama tidak ditemukan istilah tersebut. Naskah Wali Songo paling tua ditemukan dari tulisan Sunan Giri. Sunan Giri menuliskan satu babad1 yakni babad Wali Sana yang berarti pemimpin terpuji. Pendapat lain mengenai pengertian dari Wali Sana berdasarkan bahasa Jawa yakni, Wali yang berarti pemimpin dan sana diartikan sebagai tempat. Sehingga arti dari Wali Sana adalah pemimpin di suatu tempat tertentu.

Sering kita jumpai para wali cenderung  memiliki gelar “sunan”. Arti dari kata “sunan” secara bahasa para wali yang kemudian diadaptasi dari bahasa Jawa dan bahasa Sunda adalah susuhunan. Kemudian dipendekkan menjadi “sunan” yang memiliki arti atap, sehingga kata “sunan” mewakili sifat mengayomi, melindungi, dan memimpin. Dapat disimpulkan bahwa sunan ialah pemimpin yang hidup di suatu tempat pada akhir  periode zaman Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda. Dua kerajaan tersebut adalah kerajaan terakhir beragama hindu. Kerajaan Majapahit berpusat di Mojokerto dan Kerajaan Sunda berpusat di Bogor.

Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda merupakan sebuah imperium2 yang pusatnya dapat berpindah-pindah. Ada anggapan bahwa kedua kerajaan tersebut bukanlah kerajaan besar melainkan kerajaan yang biasa-biasa saja. Namun dalam pelajaran sejarah disampaikan bahwa seolah-olah Majapahit adalah kerajaan yang sangat hebat dan luar biasa. Namun jika ditelusuri lebih lanjut, kitab negarakertagama3 ditulis oleh orang kerajaan sendiri yang sangat memungkinkan empunya melebih-lebihkan Kerajaan Majapahit. Tulisan-tulisan dalam kitab tersebut sangat meragukan karena tidak didukung oleh fakta-fakta dan sumber-sumber lokal. Salah satu faktanya yaitu Kerajaan Majapahit dan  Kerajaan Sunda sama-sama berkuasa di Pulau Jawa pada masa dan periode yang sama. Namun, kedua kerajaan tersebut tidak pernah saling menguasai dan tidak pernah saling merebut daerah kekuasaan. Fakta tersebut cukup membuktikan bahwa Majapahit bukanlah kerajaan besar yang digadang-gadang mampu menyatukan nusantara.

Saat Kerajaan Majapahit melemah dan berimbas pada hilangnya kemakmuran rakyat kemudian datanglah para da’i mengajarkan Islam ke berbagai kawasan. Setiap hari para da’i tersebut berinteraksi dengan masyarakat dan mereka diminta oleh masyarakat setempat untuk menyelesaikan masalah yang ada sehingga masyarakat pun menjadikan para da’i Wali Songo sebagai guru agama, ulama, dan sekaligus sebagai pemimpin. Sedikit demi sedikit para ulama ini memiliki pengaruh yang kuat di tengah masyarakat. Hingga suatu saat ketika Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda tidak dapat diharapkan lagi, para wali berpikir mencari penyelesaian agar masyarakat dapat tetap terlayani dengan baik. Kemudian para wali bermusyawarah di Demak dan mereka sepakat untuk mendirikan sebuah kerajaan besar yang diberi nama Kerajaan Demak. Kerajaan Demak merupakan Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Demak merupakan daerah yang paling kuat dikarenakan pengaruh Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda telah terlepas. Kerajaan Demak unggul dari berbagai bidang, baik bidang ekonomi maupun bidang geografis. Bidang geografis unggul karena memiliki akses yang mudah yakni berada di pesisir pantai.

Ketika Demak disepakati sebagai kerajaan Islam pertama di Pualu Jawa, peran Demak sangat di dukung oleh para ulama dan memiliki banyak jaringan di berbagai wilayah Pulau Jawa. Saat Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda runtuh, kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa tidak mempunyai imperium  yang besar selain Kerajaan Demak sampai semua kerajaan bekas kekuasaan Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda bergabung ke dalam Kerajaan Demak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa justru Kerajaan Demak lah yang mempersatukan Jawa selama kurang lebih satu abad.


  • 1   Babad, Teks Jawa yang berhubungan dengan sejarah
  • 2   Imperium, Sekelompok negara dan etnik yang menempati wilayah geografis            sangat luas, yang dipimpin atau dikuasai oleh satu kekuatan politik
  • 3   Negarakertagama, kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca yang merupakan sumber sejarah yang ditulis pada saat kerajaan Majapahit masih berdiri di bawah pemerintahan Sri Rajasanagara (Hayam Wuruk)

Kajian Peradaban II oleh Ust. Dr. Tiar Anwar Bachtiar (13 November 2016)

Desy Puspita Sari | Staf Ahli Departemen Islamic Press 1617

Editor: Satriani Dian Pertiwi