sumber gambar: http://www.ariadnewealth.com/wp-content/uploads/2014/11/Scientific_Method_Trans1.jpg

Studi tentang agama merupakan salah satu studi yang diminati dalam bidang sosiologi, budaya, dan filsafat. Bidang ini berkembang pada era Renaissance di Eropa. Banyak agama yang dikaji ulang dengan pandangan-pandangan baru hingga melahirkan pemahaman dengan sudut pandang yang berbeda terhadap agama. Dan islam juga termasuk agama yang menjadi bahasannya.

Studi tentang islam tidak hanya dilakukan oleh kalangan muslim, tetapi juga dari kalangan non-muslim. Di sini terjadi perbedaan sudut pandang antara insider (orang di dalam agama) dan outsider (orang di luar agama) pada agama Islam. Perbedaan ini terletak pada keyakinan mengenai Allah dan Nabi Muhammad SAW. Kalangan insider dalam Islam tentu percaya sepenuh hati bahwa tiada Tuhan selaian Allah, dan Nabi Muhammad adalah rasul utusan Allah. Berkebalikan dengan apa yang diyakini kalangan outsider.

Perbedaan keyakinan ini tentu menyebabkan terjadinya perbedaan sudut pandang dalam melihat hukum islam. Kalangan outsider biasa menggunakan dasar filsafat yang bersifat bebas dalam berpikir. Sudut pandang demikian akan melahirkan metode yang berbeda dalam mempelajari islam. Metode yang dilakukan menggunakan pendekatan antropologi, sosiologi, kebudayaan, linguistik, sejarah, dan lain-lain. Pendekatan ini menyebabkan hal-hal terkait unsur non-rasionalisme menjadi kabur. Unsur-unsur yang bersifat suci menjadi hilang.

Berbeda dengan kalangan insider yang mengakui keterbatasan pemikiran dan adanya peraturan oleh wahyu. Sudut pandang inilah yang menyebabkan kaum muslim sangat berhati-hati dalam menyimpulkan setiap ayat dalam Al-Quran maupun hadis Nabi. Setiap ilmu bersandar kepada firman Allah (Al-Quran) dan Sunnah Rasulullah SAW.

Perbedaan metode dalam mengkaji suatu hal memberikan pengaruh yang sangat signifikan pada pemahamannya. Dan sebuah metode ilmiah belum tentu cocok jika digunakan pada bidang ilmu yang berbeda. Sebagai contoh misal ketika mengkaji bidang fisika dan sejarah. Ahli fisika akan menggunakan metode eksperimen ketika ingin meneliti suatu kasus. Eksperimen ini nanti yang akan menghasilkan suatu kesimpulan dan memunculkan teori. Lain halnya dengan sejarah, metode untuk mempelajarinya akan sangat berbeda. Meneliti sejarah lebih banyak dilakukan dengan literasi dan mencari bukti peninggalan sejarah. Sumber tersebut dianalisis hingga kemudian diambil kesimpulan. Keduanya sama-sama menggunakan metodologi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sepertinya halnya dengan agama islam yang metode ilmiahnya berbeda dengan bidang lain. Metode ini tidak akan cocok jika digunakan pada bidang ilmu lain karena menggunakan sudut pandang yang berbeda. Meskipun memiliki perbedaan, metode ilmiah dalam islam dapat dipertanggungjawabkan.

Ilmuwan muslim menggunakan beberapa metode dalam mempelajari agama islam, sebagai contoh metode sanad dalam ilmu hadits. Ilmuwan muslim tidak akan mengomentari dan mengkritik sabda Rasulullah. Pengkajian hadits akan difokuskan pada periwayat hadits tersebut. Ilmuwan muslim akan meneliti orang-orang yang namanya ada pada hadits tersebut untuk menentukan kesahihan dan otentisitas. Maka ditetapkanlah syarat-syarat yang harus dipenuhi periwayat hadits sehingga dapat ditentukan apakah hadits tersebut sahih atau dhaif.

Untuk itulah, sebagai umat muslim kita harus mengerti bagaimana melihat suatu kajian tentang ilmu. Metode untuk mempelajari sebuah ilmu akan sangat berpengaruh terhadap pemahaman tentang ilmu tersebut. Di tengah gempuran paham-paham liberal dan penafsiran hukum Allah secara sembarangan, kita perlu kritis agar terhindar dari pemahaman yang keliru tentang islam. Wallahu a’lam.

Penulis: Muhammmad Richa S | Kepala Departemen Islamic Press JMMI ITS 1617