Larangan Keluar Rumah Saat Maghrib, Mitos atau Fakta?

0
376
http://orig03.deviantart.net/c0b3/f/2007/280/8/a/saat_maghrib_tiba_by_daphotographer.jpg

Diantara kita pasti pernah mendengar larangan keluar rumah saat matahari tenggelam dari orang tua. Sebagian mengatakan pamali, sebagian lainnya berdalih bahwa larangan itu adalah larangan turun-temurun yang entah siapa pencetusnya dan darimana asalnya. “Tinggal percaya apa susahnya, kurang lebih seperti itu yang dituturkan oleh orang-orang saat ditanya mengapa. Akhirnya ‘mitos’ itu pun berkembang dari bibir ke bibir tanpa alasan dan dasar yang jelas. Padahal, tahukan kita bahwa hal terebut ternyata sudah ada sejak zaman Rasulullah dan telah diatur dalam Islam?

Islam, adalah agama rohmatan lil ‘alamin. Islam mengatur segala bentuk pemikiran, perkataan, dan perbuatan setiap makhluk. Mulai dari perbuatan yang dianjurkan, diwajibkan, hingga dilarang. Salah satu larangan perbuatan yang diatur oleh Islam adalah tidak diperbolehkannya keluar rumah pada saat matahari terbenam, atau setelah Maghrib. Memang, terdengar sepele, tetapi sudah barang tentu bawasannya Islam mengatur hal demikian bukan tanpa alasan. Apa alasannya? Berdasarkan sabda Rasulullah yang artinya,

“Jangan kalian membiarkan anak anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam,”  (Dari Jabir dalam kitab Sahih Muslim)

Dijelaskan pula dalam hadist sahih, Nabi bersabda: “Jika sore hari mulai gelap maka tahanlah bayi bayi kalian sebab iblis mulai bergentayangan pada saat itu, Jika sesaat dari malam telah berlalu maka lepaskan mereka, kunci pintu pintu rumah dan sebutlah nama Allah sebab setan tidak membuka pintu yang tertutup. Dan tutup rapat tempat air kalian dan sebutlah nama Allah. dan tutup tempat makanan kalian dan sebutlah nama Allah. meskipun kalian mendapatkan sesuatu padanya.”

Ah, nggak mungkin. Itu pasti hanya mengada-ada saja. Yang ilmiah dong!

Hal ini juga pernah diteliti secara ilmiah oleh Prof. DR. Ir. H. Osly Rachman, MS yang telah diterbitkan oleh Qultummedia dalam bukunya berjudul The Science Of Shalat. Dalam buku tersebut dijelaskan alasan secara ilmiah menggunakan pendekatan gelombang cahaya.

Cahaya merupakan gelombang elektromagnetis yang memiliki spektrum warna. Setiap spektrum warna tersebut, memiliki energi, frekuensi dan panjang gelombang yang berbeda-beda. Ketika tiba waktu Maghrib dan setelah Maghrib, alam akan berubah warna menjadi spektrum merah. Spektrum merah tersebut selaras dan masih dalam satu frekuensi dengan frekuensi spektrum warna jin dan iblis. Sehingga pada saat itu, spektrum merah alam akan memperkuat energi dari jin dan iblis, karena memiliki resonansi yang sama. Akibatnya banyak terjadi interfensi atau tumpang tindih gelombang yang berfrekuensi sama sehingga ketajaman penglihatan terkadang berkurang dan dapat mengakibatkan fatamorgana. Hal ini sangat berbahaya apabila seseorang sedang berkendara atau melakukan perjalanan (keluar rumah).

Selain itu, energi jin dan iblis yang bertambah karena adanya resonansi gelombang dari spektrum warna alam juga akan membuat jin dan iblis mencari tepat berlindung dan bermukim baru. Kekuatan dan kecepatannya pun akan bertambah sebanding dengan energinya. Boleh jadi mereka akan mencari tempat berlindung dan bermukim di sekitar manusia. Memang manusia tidak merasakan kehadirannya, namun jin dan iblis boleh jadi akan menggunakan tempat najis dari manusia untuk berlindung, seperti popok bayi anak manusia, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itulah larangan keluar rumah pada saat setelah Maghrib ada. Lalu bagaimana dengan orang yang akan melakukan sholat jamaah Maghrib di masjid? Berdasarkan beberapa pendapat, sholat Maghrib berjamaah di masjid bagi laki-laki muslim adalah wajib hukumnya. Untuk itu, setelah melakukan sholat jamaah, bisa sesegera mungkin untuk pulang ke rumah dan banyak-banyak menyebut asma Allah. Lebih baik lagi apabila beri’tikaf di masjid sambil membaca ayat-ayat-Nya.

Sebenarnya Islam telah mengatur semua hal jauh sebelum penelitian ilmiah itu ada. Semua alasan bisa dijelaskan dalam Islam. Tinggal bagaimana memandang alasan-alasan itu. Wallahu A’lam Bishawab.

Penulis: Ahsanul Marom | Staf Departemen Islamic Press JMMI ITS 1617

Editor: Muhammad Richa