sumber gambar: http://whosthebomb.com/wp-content/uploads/2015/02/Khalidibnal.jpg

Kemenangan atas kota Hurmuz satu tahun sebelumnya menyebabkan kota Herat berada di tangan muslim. Khalid bin Walid melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Jika saja tidak ada perjanjian dengan Khalifah untuk rehat, ia tentu akan langsung menuju Persia. Waktu menunggunya beliau habiskan dengan keadaan yang sedikit membosankan. Pasalnya, jiwa Khalid bin Walid adalah medan pertempuran. Semangat jihad yang dimilikinya begitu luar biasa.

Sementara itu kondisi kota Herat menjadi lebih mulia dari sebelumnya. Para petani dan penggembala dapat melakukan pekerjaannya tanpa tekanan dengan pajak yang manusiawi. Kehidupan kota menjadi lebih baik. Tanaman tumbuh dengan subur, hasil bumi yang melimpah, ternak yang gemuk dan sehat, air mengalir yang segar, dan panorama yang begitu indah.

Satu tahun sudah Khalid menunggu utusan dari Madinah yang tak kunjung datang. Sementara Khosrow, penguasa Persia, sudah menyiapkan beberapa pasukan untuk ditempatkan. Surat-surat yang dikirimkan oleh Khalid justru membuat penguasa Persia tersebut geram.

Segala puji bagi Allah yang telah mengurai kekuasaan kalian, melemahkan tipu daya kalian, mencerai-beraikan kesatuan kalian. Kalau saja Dia tidak melakukan hal itu kepada kalian, pasti akan lebih buruk bagi kalian.

Masuklah ke dalam agama kami, kami akan membiarkan kalian dan tanah kalian. Kami tidak akan memberikan kepada orang lain. Kalau tidak akan tetap demikian. Namun, kalian tidak akan suka kepada kaum yang menyukai kematian, sebagaimana kalian menyukai kehidupan.

Begitulah surat yang dikirimkan Khalid kepada para penguasa daerah di Persia. Khosrow membalas surat tersebut dengan mengirimkan pasukan secara diam-diam menuju daerah terdekat yang telah dikuasai oleh Islam. Kota Anbar dan Ain Tamar, yang jaraknya dekat dengan Herat, sudah dimasuki oleh pasukan-pasukan tadi.

Hal ini membuat Khalid tidak bisa tinggal diam. Pasukan muslim harus segera maju menuju kedua kota tersebut. Prinsip yang dipegang oleh Khalid adalah tidak menuju kota Madain, pusat Persia. Khalid dan pasukan tidak menganggap Anbar dan Ain Tamar sebagai bagian dari Persia, sehingga tidak melanggar perjanjian dengan Khalifah.

Di kota Anbar

Sesampainya di depan kota pasukan dikejutkan dengan pertahanan kota yang tidak biasa. Parit luas yang memanjang dan benteng tinggi menjulang seperti menjadi penghalang yang tak tertembus. Ribuan pasukan hanya terdiam menghadapi kondisi yang seperti ini. Tidak terbersit satu ide sama sekali untuk melewati parit itu.

Seketika Khalid teringat kejadian bertahun-tahun lalu ketika menghadapi kondisi serupa saat menyerbu Madinah. Waktu itu Khalid masih menjadi musuh Islam. Bersama dengan Abu Sufyan ia memimpin pasukan untuk menggempur Madinah. Bedanya untuk kejadian saat ini, Khalid menghadapi parit versi asli yang memang menjadi ciri khas bangsa Persia.

Sesaat kemudian Khalid menyuruh Al-Mutsanna, salah satu pemimpin pasukan. Ia memberikan komando kepada pasukan untuk menyembelih unta yang sudah tua dan lemah. Unta-unta yang disembelih itu nanti akan digunakan sebagai jembatan untuk menyeberangi parit. Sebuah ide yang sangat brilian dan tak biasa dilakukan.

Pasukan pun melaksanakan perintah sang panglima untuk menyembelih unta. Ratusan ekor unta yang tua dan lemah disembelih, kemudian satu per satu ditumpuk rapi hingga berfungsi bagaikan jembatan. Jembatan yang mungkin baru ada pada era itu. Licin, tetapi kokoh dan mampu untuk membuat ribuan pasukan melewati parit dengan lancar.

Derap gagah pasukan muslim untuk memasuki kota sudah tidak bisa dibendung lagi. Kota Anbar menjadi milik muslim tanpa perlawanan. Penguasa kota tersebut lebih memilih untuk tunduk kepada Khalid tanpa pertumpahan darah. Sekali lagi kemenangan kembali memihak Khalid bin Walid

Diambil dari buku: Muhammad, Sang Pengeja Hujan. Tasaro GK

Penyadur: Muhammad Richa S

  • ahmad hasan

    mantav caa

    • http://jmmi.its.ac.id Admin JMMI

      Yuhuuu ahmad. Yok ngirim tulisan mad