Habits yang Baik, Mau atau Tidak Mau!

0
637
https://ecs7.tokopedia.net/img/product-1/2015/9/23/404224/404224_2db66cbf-387a-4ceb-b046-83b21f4b498e.jpg

Pada dasarnya manusia ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena pada dasarnya juga manusia tidak suka yang namanya merugi, sedangkan tidak lebih baik dari hari sebelumnya merupakan kerugian besar yang berujung penyesalan. Masalah dalam menjalankan hal yang baik dan hal yang lebih baik merupakan konsistensi. Kadang dalam melakukan hal kebaikan terasa sulit diawal, suka jenuh di jalan dan lama-lama malah perlahan ditinggalkan. Perasaan jenuh memang tidak bisa dilawan. Ibarat orang berolahraga yang membutuhkan istirahat. Tetapi kembali lagi pilihannya ada di orang yang beristirahat tersebut. Apakah mau menghentikan olahraga yang melelahkan dan merasa lebih baik di rumah menonton televisi dan tidur-tiduran, atau tetap melanjutkan olahraga dengan segala keuntungan yang bisa didapat nanti, badan lebih segar dan lebih sehat saat beraktivitas.

Lalu sebenarnya apa sih yang bisa mebantu membuat kita konsisten dalam kebaikan?

Habits adalah jawabannya. Habits atau kebiasaan merupakan sesuatu aktivitas atau respon kita terhadap suatu peristiwa secara spontan karena sudah berulang-ulang kali kita lakukan dalam jangka waktu tertentu dan terekam di memori kita. Yang namanya kebiasaan bisa baik dan buruk tergantung kita ingin membiasakan yang mana. Dalam suatu penelitian disampaikan bahwa dari 11.000 sinyal yang diterima otak manusia, hanya 40 yang diproses secara sadar dan sisanya diproses secara otomatis. Hasil penelitian lain juga menyampaikan setidaknya 95% dari respon manusia terhadap kondisi tertentu dilakukan secara otomatis. Contoh dua orang yang berumur sama misalnya diberikan semangkuk bakso, maka kita bisa menemukan cara makan yang berbeda. Ada yang memilih memakan bakso urat yang besar belakangan dengan alasan save the best for last. Itu semua sudah terekam di otak kita saat melihat semangkuk bakso di depan mata maka  “memakan bakso urat belakangan” sudah otomatis dilakukan karena kebiasaan yang berulang telah dilakukan.

Jika diibaratkan habits adalah sebuah pohon, maka faktor yang berpengaruh dalam proses penanaman dan pertumbuhan pohon habits itu adalah practice (latihan) dan repetition (pengulangan). Seperti hukum Akar-Daun dimana pertumbuhan daun dan akar saling berkaitan. Banyaknya daun yang tumbuh di atas merupakan cerminan dari akar di bawah tanah. Semakin hebat seseorang dalam melakukan aktivitasnya atau habitsnya, maka ia sudah seringkali melakukan latihan serta pengulangan dalam melakukan kegiatan tersebut.

Saatnya kita mulai masuk langkah-langkah dalam menanam habits.

  1. Mulai dari yang kecil

Contoh kita bisa memulai mebaca buku 10 menit sehari atau satu bab sehari. Mematok target besar seringkali menimbulkan jenuh yang lebih cepat.

  1. Temukan tempat habits

Maksudnya adalah menyisipkan habits baru setelah habits lama yang telah kita biasa lakukan dengan menambahkan kata setelah. Contoh saya membaca 10 menit setelah shalat Shubuh misalnya.

  1. Berlatihlah terus

Karena pada dasarnya orang tuanya habits adalah practice dan repetition. Untuk membantu melaksanakan habits baru kita bisa menempel reminder di kamar, buku, ataupun dimana saja.

Dalam melakukan sesuatu dibutuhkan pengorbanan, maka komitmen kitalah yang jadi jaminan untuk ini. Ingat bahwa butuh sekitar 10 tahun untuk mahasiswa menjadi seorang dokter ahli atau bahkan lebih. Tapi, hanya butuh tiga bulan atau kurang untuk jadi ahli menyapu lantai. Membentuk habits baru yang bermanfaat memang butuh waktu dan kesabaran. Sebuah penelitian menyampaikan bahwa seseorang baru akan menjadi ahli dalam bidang yang ia pilih apabila telah berlatih selama 10.000 jam. Tak ada jalan pintas dalam menguasai bidang tertentu atau menanam habits baru. Seperti pepatah ‘ easy come easy go, everything that come with an instant will gone in an instant.’

Hilangkan semua excuse yang memperhambat habits baru. Karena pada saat di tengah perjalanan menanam habits timbulah rasa jenuh dan mulai berpikir “satu kali saja meninggalkan habits ini tidak akan apa-apa” sampai satu kali berubah menjadi “sekali lagi nggak apa-apa”, lalu “sekali lagi deh” sampai akhirnya “ini yang terakhir” dan habits baru yang baik hilang di tengah jalan.

Permasalahannya bukan terletak pada bisa atau tidak dalam melakukan habits baru, tetapi pada mau atau tidak mau. Seperti kata peribahasa melayu: “Nak atau tak nak, kalau nak 1000 daye kalau tak nak 1000 duleh”. Mau atau tidak mau, kalau mau ya lakukan 1000 usaha kalau nggak mau ya siapkan 1000 alasan. Jadi kembali ke kita mau atau tidak membentuk habits baru yang baik.

Wallahu a’lam bi shawab

Penulis: Muhammad Indra Hazami | Staf Departemen Islamic Press JMMI ITS 1617

Editor: Muhammad Richa