http://infounik.org/wp-content/uploads/2013/10/happy_idul_adha__by_youichiz2011.jpg

Kalimat tasbih, tahmid, dan takbir berkumandang membahana di bulan Dzulhijjah merupakan suatu pertanda datangnya hari raya haji sekaligus hari raya kurban atau biasa disebut dengan hari raya idul adha. Dalam dua hari raya tersebut terkandung nilai-nilai yang mendalam yaitu nilai Rabbani (ketuhanan) dan nilai Insani (kemanusiaan). Nilai Rabbani pada hari raya kurban yaitu suatu nilai yang mengimplementasikan rukun islam kelima, ibadah haji.  Suatu amalan ibadah yang diperjalankan oleh Allah bagi yang mampu untuk mengunjungi Baitullah (Ka’bah) di Kota Makkah. Sedangkan nilai insani pada hari raya kurban adalah  melaksanakan kurban berupa hewan dari jenis Bahiimatul Al-An’aam (hewan ternak tertentu seperti onta, sapi, domba, dan kambing) untuk dibagi-bagikan kepada sesama manusia.

Hari Raya Idul Adha telah terjadi berulang-ulang di setiap tahunnya. Awal mula dari momentum idul adha terjadi sekitar 3600 tahun tahun melalui kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun adakah hikmah yang membekas dari momentum Idul Adha? Ataukan kita hanya melakukan perayaan formalitas Idul Adha semata? Apakah perayaan Idul Adha dapat meningkatkan kualitas iman kita? Mari kita simak kisah singkat awal mula peristiwa Idul Adha untuk mengambil hikmah yang ada di dalamnya!

Pada suatu waktu sebelum Nabi Ibrahim dikaruniai anak, Nabi Ibrahim berkurban 1000 kambing, 300 sapi, dan 100 unta hanya untuk mengharap ridho Allah sehingga membuat orang-orang dan para malaikat terheran-heran menyaksikan peristiwa tersebut. Nabi Ibrahim berkata “Setiap apapun yang membuat aku dekat dengan Allah, maka tidak ada sesuatu yang berharga bagiku. Demi Allah jika aku mempunyai seorang anak niscaya aku akan menyembelihnya ke Jalan Allah. Jika itu bisa membuatku dekat dengan Allah”.

Pada suatu hari setelah peristiwa tersebut beliau berada di Baitul Muqoddas dan beliau bermunajat kepada Allah agar beliau dikaruniai seorang anak. Allah pun mengabulkan doa beliau dengan lahirnya seorang putra yang sholeh dari rahim Siti Hajar, bernama Ismail. Ketika Nabi Ismail berusia 13, Nabi Ismail telah diangkat oleh Allah menjadi seorang nabi. Pada malam 8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim bermimpi dalam tidurnya untuk menyembelih Nabi Ismail anak semata wayang beliau. Mimpi tersebut merupakan janji yang pernah diucapkan oleh Nabi Ibrahim beberapa waktu yang lalu di Baitul Muqoddas . Lalu hari tersebut dinamakan Yaumut Tarwiyyah (berpikir dan mengingat masa lalu).

Malam berikutnya 9 dan 10 Dzulhijjah beliau mengalami mimpi yang sama seperti malam sebelumnya. Ketika Nabi Ibrahim terbangun pada keesokan harinya beliau yakin bahwa mimpi tersebut berasal dari Allah. Lalu hari itu dinamakan Yaumu Arofah (9 Dzulhijjah) dan Yaumun Nahr (10 Dzulhijjah). Mimpi tersebut terulang sebanyak tiga kali berturut-turut dan semakin membulatkan niat beliau untuk melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail.  Kemudian Nabi Ibrahim menceritakan perihal mimpi tersebut kepada Nabi Ismail dan Nabi Ismail menerima perintah Allah tersebut dengan ikhlas dan sabar. Pada hari itu juga, yakni tanggal 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail. Mereka pergi ke tanah lapang dengan membawa seutas tali dan pedang yang sangat tajam. Setan pun terus menggoda Nabi Ibrahim dan putranya dengan berbagai cara selama perjalanan menuju tanah lapang. Setan terus berusaha menggoda  mereka tanpa bosan lalu tiba-tiba Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengambil beberapa kerikil dari tanah dan melemparkannya ke arah setan seraya berucap “Bismillahi Allahu Akbar”. Peristiwa melempar kerikil tersebut dikenal dengan prosesi lempar jumroh dalam ibadah haji saat ini.

Singkat cerita saat detik-detik yang mendebarkan akan dilaksanakan, saat Nabi Ibrahim akan menyembelih Nabi Ibrahim, saat pedang yang tajam akan memisahkan antara kepala dan badan Nabi Ismail, disaat itu juga Allah mengutus Malaikat Jibril untuk menukar raga Nabi Ismail dengan seekor domba yang sehat dan besar. Peristiwa penting dan bersejarah tersebut dinamakan Idul Adha. Sejak saat itu setiap tanggal 10 Dzulhijjah umat muslim di seluruh belahan dunia diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih hewan kurban.

Makna yang dapat kita ambil dari kisah tersebut ada dua hal, yaitu keikhlasan dan kesabaran. Ikhlas hanya mengharap ridho Allah semata dan sabar dalam menerima segala perintah dan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Berikut adalah salah satu hadist shahih mengenai pentingnya sebuah keikhlasan,

“Sesungguhnya Allah yang Maha tinggi dan Maha suci akan turun kepada hamba pada Hari Kiamat untuk memberikan keputusan di antara mereka. Dan setiap umat dalam kondisi berlutut. Kemudian orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang menghafal Al-Qur`an, orang yang terbunuh di jalan Allah, dan orang yang banyak harta.

Maka Allah  berkata kepada sang qari` (orang yang biasa membaca Al-Qur`an): ‘Tidakkah Kuajarkan kepadamu apa yang saya turunkan kepada RasulKu?’ Dia menjawab: ‘Benar wahai Tuhanku’. Allah  berkata lagi: ‘Apa yang kamu perbuat terhadap apa yang sudah kamu ketahui itu?’ Dia menjawab: ‘Saya menjalankannya sepanjang malam dan sepanjang siang’. Maka Allah  berkata: ‘Kamu telah berdusta’. Dan para Malaikat berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’. Kemudian Allah  berkata kepadanya: ‘Justru kamu melakukan hal itu dengan maksud agar dikatakan: Si fulan adalah qari`’. Dan hal itu telah dikatakan kepadamu.

Kemudian didatangkan orang yang mempunyai banyak harta. Allah  berkata kepadanya: ‘Tidakkah sudah Kulimpahkan harta kepadamu hingga kamu tidak membutuhkan siapa pun?’. Orang itu menjawab: ‘Benar wahai Rabbku’. Allah  bertanya lagi: ‘Apa yang kamu kerjakan terhadap harta yang Kuberikan kepadamu itu?’. Dia menjawab: ‘Saya menggunakannya untuk menyambung silaturrahmi dan bersadaqah’. Allah  berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’. Para Malaikat juga berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’. Kemudian Allah  berkata: ‘Justru kamu melakukan itu dengan maksud agar dikatakan: Si Fulan adalah lelaki yang dermawan’. Dan hal itu sudah dikatakan kepadamu.

Kemudian didatangkan orang yang terbunuh di jalan Allah. Maka Allah berkata: ‘Dalam rangka apa kamu terbunuh?’. Dia menjawab: ‘Saya diperintah berjihad di jalan Engkau. Maka saya berperang hingga terbunuh’. Allah  berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’. Para Malaikat juga berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’. Allah  berkata: ‘Justru kamu melakukan itu agar dikatakan kepadamu: Si Fulan adalah pemberani’. Dan hal itu telah dikatakan kepadamu.

Kemudian Rasulullah saw menepuk kedua lututku sambil berkata: ‘Wahai Abu Hurairah! Ketiga golongan itu adalah makhluk yang pertama kali Neraka dinyalakan untuk mereka pada Hari Kiamat’.

Hikmah yang dapat kita petik dari hadist tersebut adalah makna sebuah keilkhlasan. Di hadist tersebut diceritakan bahwa orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang menghafal Al-Qur`an, orang yang berjihad di jalan Allah, dan orang yang banyak harta lagi dermawan. Ketiga orang tersebut seharusnya dapat menikmati indahnya surga Allah yang telah Allah janjikan apabila mereka melakukannya dengan ikhlas hanya mengharap ridho Allah. Namun Allah Maha Tahu apa-apa yang ada di dalam hati mereka. Mereka melakukan ibadah tersebut bukan semata-semata mengharap ridho Allah namun juga mengharap pujian dari manusia. Niat sangatlah penting kita perhatikan dalam melalukan setiap tindakan. Niat ikhlas karena Allah maka Allah akan membalas dengan keberuntungan yang besar yaitu surga. Namun jika niat kita selain untuk Allah, untuk mendapat pujian dari sesama manusia maka jangan pernah berharap mendapat surga dari Allah dan bersiap-siaplah untuk mendapatkan siksaan pedih dari Allah, berupa neraka yang sangat panas.

Oleh karena itu, mari kita niatkan segala tindakan kita hanya untuk meraih ridho Allah semata, termasuk dalam melaksanakan ibadah kurban. Tatalah hati dan jaga keistiqomaan niat kita dalam menjalankannya. Apabila niat ibadah kurban kita berbelok dari niat semula maka perbanyaklah membaca istighfar untuk memohon ampun kepada Allah dan segera luruskan kembali niat kita semata-mata untuk mengharap ridho Allah. Semoga dengan ikhlas dan sabar dalam menjalankan ibadah kurban dapat meningkatkan kualitas iman kita dan semoga kita dipanggil oleh Allah dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin…

Penulis: Satriani Dian Pertiwi | Arsitektur 2013 | Koordinator Putri Departemen Islamic Press JMMI ITS 1617

Editor: Muhammad Richa S

SHARE
Previous articleJangan Lama-lama Jomblo!
Next articleAroma Islam di Formosa
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!
  • http://act.id Ariawan Handi

    alhamdulillah terimakasih atas artikel mengenai hewan kurban

    • http://jmmi.its.ac.id Admin JMMI

      Sama-sama :) semoga bermanfaat
      Terima kasih telah berkunjung