Jangan Lama-lama Jomblo!

0
422
Sumber: http://mulpix.com/post/1162990024215472736.html Art by @skitchism Via @dhuhaclothing

Waktu berjalan begitu cepat, hingga usia begitu gesit merambat. Detik yang berputar pun enggan untuk berhenti sejenak. Bahkan, hanya untuk sekedar menungguku bersiap dan berbenah diri. Detik berganti jam, hari berganti bulan, hingga tahun-tahun baru kembali berlabuh. Usia tak lagi tujuh, atau sepuluh, atau bahkan dua puluh. Banyak orang bilang, “waktunya ke penghulu”.

Bagaimana denganmu? Hanya menunggu waktu yang tepat menurut Allah. Seperti janji-Nya yang tak pernah teringkari atau terpalsukan. Janji Allah itu pasti, bahwa setiap insan memang diciptakan berpasang-pasangan. Lalu apa yang perlu diragukan, ketika semua telah menjadi sebuah ketetapan-Nya? Aku memiliki jodoh, dan kamu pun juga demikian.

Tatkala jodoh tak kunjung datang, tetaplah belajar untuk berbaik sangka kepada-Nya. Mungkin memang kita belum benar-benar siap untuk diberi sebuah amanah dan tanggung jawab dari sebuah keluarga. Dan belum benar-benar siap menyandang status suami istri. Ingatlah kembali bahwa Allah tak akan membebani seseorang dengan amanah yang belum sanggup dipikul oleh hamba-Nya.

Adakalanya kita merasa benar-benar telah siap lahir dan batin untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Lantas kemudian, menuntut Allah karena tak kunjung menghadirkan pendamping di sisi, hingga masih saja menyendiri. Tapi siapalah kita, yang sanggup mengerti apa yang tak bisa dimengerti selain oleh-Nya? Tidak ada yang lebih paham dengan kesiapan kita selain Allah.

Tak akan ada yang bisa menembus kokohnya dinding takdir, bahkan hanya untuk sekedar mengintip di balik tabir. Jodoh telah menjadi takdir-Nya yang amat sangat rahasia. Begitu rapi tersimpan di lauhul mahfudz hingga saatnya tiba. Kita hanyalah berkewajiban untuk perbanyak ikhtiar, serta perbanyak doa selama masa penantian masih begitu nyata.

Sejatinya, hidup ini hanyalah tentang sebuah penantian. Menanti apa yang belum terjadi, dan menanti apa yang belum dimiliki. Memang, sebuah penantian panjang itu, kerap membuat kita resah dan gelisah. Hingga pada akhirnya dilanda dengan kekhawatiran yang bertubi-tubi. Tetapi, kembali lagi bahwa haruskah kita mengkhawatirkan apa yang telah dijamin pasti oleh Allah? Semua sudah menjadi garis takdir yang pasti. Tak bisa diganggu gugat atau dinegosiasi.

Kamu jomblo? Tidak perlu merasa malu menjadi seorang jomblo. Karena tak ada yang salah dengan sebuah status jomblo. Jomblo itu pilihan. Jomblo itu, adalah wujud kesetiaan dalam menanti kepastian jodoh. Jomblo berkualitas. Sebuah status yang selayaknya disandang bagi setiap orang yang masih dalam ranah penantian.

Bagi seorang jomblo, penantian datangnya jodoh adalah sebuah hal yang pasti. Ya, pasti terjadi, dan pasti merisaukan hati tatkala jodoh yang dinanti tak kunjung menampakkan diri. Siapa sih yang tak ingin segera bersanding di pelaminan? Menaungi sebuah bahtera rumah tangga yang penuh keberkahan dan keridhaan Allah.

Setiap air yang mengalir di sungai pasti akan bermuara di lautan. Setinggi apa pun gunung yang menjulang, pasti memiliki ujung. Segelap apa pun langit malam, pasti akan berakhir dengan terang, saat kehadiran sang mentari kembali mencahayai tiap pelosok bumi. Begitu pula dengan sebuah penantian akan hadirnya sosok peneduh jiwa. Penantian pasti akan bermuara dalam sebuah pertemuan, hingga kemudian bersatu dalam sebuah penyatuan yang tak terpisahkan. Seberapa lama pun sebuah penantian itu dirasa, pasti memiliki ujung jua. Dan sepedih apa pun menanti dalam kesendirian, semuanya akan berakhir. Penantian pasti berakhir, tatkala kepastian itu hadir dan enggan kembali melipir.

Tak ada anjuran untuk terus menjadi seorang jomblo. Terus menyendiri, hingga menepi di tepian sunyi. Penantian akan berujung, dan jomblo harus berakhir. Menggenapkan diri, dan menyempurnakan separuh agama sudah menjadi sebuah anjuran yang diharuskan. Menjadi jomblo itu, jangan lama-lama. Maka, menikahlah!

Semakin cepat agama tergenapi, tentunya akan semakin baik, dan sempurnalah sebuah iman. Maka dari itu, persiapan sedini mungkin sangatlah penting. Sebuah pernikahan itu dibangun bukan atas dasar siapa aku dan siapa kamu. Melainkan, atas dasar misi yang sama. Sama-sama mencari keteduhan dalam payung berkah dan rida-Nya. Kemudian saling genggam sambil melangkah bersama menuju surga-Nya yang abadi.

Setiap rute kehidupan, selalu memiliki penunjuk jalan. Setiap permasalahan selalu memiliki banyak solusi dan jalur penyelesaian. Jadikan ilmu sebagai peta, dan kesalihan sebagai penerang jalan. Niscaya, akan ada banyak cara dalam menempuh sebuah pencapaian yang sempurna. Bekali diri dengan ilmu sebanyak mungkin, agar kita selamat saat melabuhkan diri pada pilihan yang tepat. Terus berbenah untuk menjadi hamba Allah yang beriman dan bertakwa agar keberkahan senantiasa mengiringi setiap langkah perjalanan menuju surga-Nya. Biarkan kesalehan menjadi lentera yang menerangi tiap jalan yang kita lalui bersama-sama.

Indahnya ukhuwah, indahnya silaturahmi. Perbanyak teman saleh, Insya Allah akan semakin membuka lebar pintu penyatuan antara dua hati dari dua unsur yang berbeda. Teruslah maju dalam karya, hingga saat penyatuan itu tiba, kita telah memiliki sesuatu yang pantas untuk menjadi sebuah kebanggaan. Tentunya, jangan pernah berhenti berdoa agar senantiasa mendapatkan yang terbaik, yang mampu membawa kita lebih dekat lagi dengan Allah.

Beginilah caraku menunggumu. Menulis untukmu, dan menulis tentangmu. Hingga nanti engkau tahu betapa banyak waktu yang telah kuhabiskan hanya untuk menunggumu. Ya, menunggumu hadir bersama sebuah takdir kehidupan. Aku akan terus menanti, tapi bukan untuk penantian tanpa henti. Aku akan terus menanti hingga Tuhan berkata “waktunya berhenti menanti. Saatnya menjemput yang pasti”.

Jomblo harus berakhir, seperti halnya tulisan ini yang akan berakhir dengan sebuah titik, sebelum kemudian kembali tertuang dalam kanvas dengan cerita dan alur yang berbeda. Nikmatilah semua prosesnya, hingga sebuah usaha akan berbuah manis terasa. Pantaskan diri, dan menikahlah! Kemudian, isi kembali lembaran yang baru dengan berbagai cerita dan kisah yang lebih menakjubkan bersama penggenap jiwa.  Jomblo, jangan lama-lama. Jomblo harus benar-benar berakhir!

Penulis: Mochammad Fadhlurrohman Nafis, Penulis Buku “Walau Jomblo Tetap Produktif”

Editor: Muhammad Richa