“Menjadi minoritas di negeri sendiri saja sudah susah, apalagi di negeri orang?”

Ya, itu kalimat yang sekilas terpikirkan olehku saat tiba di sini, negeri Formosa, Taiwan. Oh ya, sebelumnya perkenalkan, namaku Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha (Ozha), alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, yang seharusnya mengikuti wisuda ke-114 ITS di 25 September 2016. Kelanjutan jenjang yang lebih tinggi lah yang membuatku harus meninggalkan tanah air lebih cepat. Saat ini aku adalah mahasiswa Master degree di National Central University (NCU), Taiwan, tepatnya di daerah Taoyuan. Mempelajari ilmu lanjutan dari apa yang kupelajari sebelumnya, aku mengambil bidang Materials Science and Engineering.

Dua September 2016 aku tiba di pulau yang luas wilayahnya hanya 28% dari pulau Jawa ini, ada yang bilang sebagai Tenaga Kerja Intelektual. Bersama dengan ratusan mahasiswa lainnya, aku menjalani kehidupan baru di sini. Satu hal yang membekas pertama kali, sebenarnya sudah kutulis dalam blog pribadiku: http://tanpa-inspirasi.blogspot.tw/2016/09/sholat-jumat-perdana-dan-rencana-tak.html. Di sana aku melihat kehidupan muslim utuh bersama dengan tempat ibadah untuk pertama kalinya. Masjid Longgang yang beralamat di no. 216 Longdong Rd., Zhongli District, Taoyuan City, 320 ini menjadi destinasi utama sholat Jumat setiap muslim area Taoyuan. Dari sekitar 60.000 muslim di Taiwan, mengartikan bahwa Islam menjadi agama yang dianut oleh ±0,3% penduduk. Itu belum terhitung ratusan ribu Buruh Migran Indonesia dan negara lainnya. Cukup banyak jika di-angka-kan, tapi prosentase berkata lain. Kami para muslim menjadi kaum minoritas di sini.

Meski tak pernah dihalangi untuk beribadah, kerinduan terbesar kami di sini terletak pada kumandang Adzan. Terang saja, karena di sini letak masjid sangat berjauhan, dan juga sedikit pastinya. Karena memang jika ditinjau secara historis, Muslim yang ada di pulau Formosa tidak aktif berdakwah untuk menyebarkan agama Islam. Dan mereka juga tidak membangun masjid di pulau tersebut pada awal kehadiran mereka di sini (Lien Ya Tang, 1918). Jumlah masjid di pulau ini, menurut beberapa web dan blog yang saya telusuri, hanya ada sekitar tujuh masjid (per 2013). Apa saja sih nama masjidnya?

  1. Taipei Grand Mosque (台北清真寺) yang berada di Da’an District, Taipei City;
  2. Kaohsiung Mosque (高雄清真寺) bertempat di Lingya District, Kaohsiung City;
  3. Taipei Cultural Mosque (台北文化清真寺), ini ada di Taipei Zhongzheng District, Taipei City;
  4. Taichung Mosque (台中清真寺) ada di wilayah Nantun District, Taichung City;
  5. Longgang Mosque (龍岡清真寺), seperti yang sudah saya jelaskan di atas, ada di Zhongli District, Taoyuan City;
  6. Tainan Mosque (台南清真寺) berada di East District, Tainan City; dan
  7. At-Taqwa Mosque (大園清真寺), bertempat di wilayah Dayuan District, Taoyuan City (masjid terbaru yang didirikan tahun 2013)

Persebaran masjid-masjid tersebut dapat dilihat pada peta berikut:

masjid-di-taiwan
Gambar Persebaran Masjid di Taiwan (sumber: wikipedia)

Meski minoritas, tak pernah menyurutkan semangat kami dalam beribadah. Terbukti saat Idul Adha 1436 Hijriyah kemarin, para mahasiswa National Central University berbondong-bondong pergi untuk melaksanakan sholat di masjid Longgang bersama dengan jamaah lainnya. Tentu saja bagi yang mahasiswa, akan berangkat ke masjid jika berhasil mendapatkan izin langsung dari professor untuk meninggalkan kelas, atau mungkin tak ada kelas di pagi hari. Sekali lagi, kami di sini minoritas, jadi jika berurusan dengan professor yang kolot dan intoleran hanya ada dua pilihan untuk beribadah: ganti kelas (yang otomatis juga ganti professor) atau bolos kuliah (jika kuantitas bolos masih dalam taraf aman sampai akhir semester). Maka dari itu, bersyukurlah bagi mahasiswa yang masih menuntut ilmu di negeri sendiri dan masih bebas bernaung di negeri-negeri mayoritas muslim.

Sholat wajib di sini (bagi yang tidak tinggal di dekat masjid) dilakukan di kediaman masing-masing, bisa dormitory (asrama), rumah kos, atau juga laboratorium (ini untuk mahasiswa). Lalu bagaimana menentukan waktunya? Hanya jam yang menjadi acuan kami, tentunya dengan pedoman waktu sholat area Taiwan yang kami dapatkan dari internet. Oh iya, seluruh penjuru Taiwan memiliki waktu yang sama dengan Wilayah Indonesia Tengah (GMT +8), jadi penentuan waktunya tak jauh berbeda dengan Sumbawa, Sulawesi, dan sekitarnya. Di sekitar kampusku masih sedikit mudah menentukan waktu sholat, hanya dengan mendengar dentuman jam universal pergantian mata kuliah tiap menit ke-50 di tiap jamnya. Dari sana kami bisa tahu waktu sholat apa yang sudah bisa dilaksanakan. Dan untuk musholla, di kampusku punya beberapa spot khusus, di gedung Engineering 1, Engineering 5, juga Science Building 5, dan mungkin juga ada musholla-musholla lainnya yang tersebar di banyak tempat. Akan tetapi kami tak memiliki musholla pusat seperti milik National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). Inilah yang menjadi keuntungan bagi mereka yang berkuliah di sana, karena memang kampusnya tak terlalu besar (hanya sebesar PENS/PPNS) sehingga tidak membutuhkan banyak spot terpisah.

Untuk siraman rohani, tak perlu khawatir, akses internet yang luar biasa kencang (dibandingkan di Indonesia) dapat menjadi opsi untuk menyaksikan streaming dari penceramah siapapun. Karena memang penceramah live di sini sangat jarang yang menggunakan bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia, semuanya dalam bahasa Mandarin. Bahkan sholat Jumat pun khotbahnya bahasa Mandarin. Tapi tak jarang di tiap Perhimpunan Pelajar Indonesia di masing-masing kampus memiliki Muslim Club-nya sendiri, sehingga agenda pengajian dan juga jamaah sholat dapat disepakati kapanpun. Bahkan di sini kami juga memiliki Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan (FORMMIT) yang terbagi atas beberapa wilayah, Utara, Tengah, Selatan, dan Timur. FORMMIT Utara sendiri terdiri dari Utara satu (Utaratu) dan juga Utara dua (Utada). Belum lagi ada Pengurus Cabang Istimewa (PCI) dari Muhammadiyah dan juga Nahdlatul Ulama, jadi untuk urusan pengajian dan forum islami inshaAllah rutin diadakan oleh perkumpulan masing-masing.

Begitulah sekelumit kisah yang dapat aku tuliskan, kisah kami, umat Islam di Taiwan dalam menjalani kehidupan di bawah naungan rahmatan lil ‘alamin, demi menjalankan perintah Allah SWT dan juga mengamalkan sunnah Rasulullah SAW. Meski tak senyaman jika melaksanakan ibadah di tanah air, tapi tetap saja apa yang kami jalani di sini adalah salah satu wujud ikhtiar mencari rejeki halal yang tersebar di seluruh penjuru bumi Allah SWT, baik yang berupa ilmu, maupun materi lainnya. Jadi apapun risikonya harus dijalani dengan penuh rasa syukur. Semoga dengan adanya tulisan ini rasa syukur umat Islam di Indonesia senantiasa bertambah dengan segala kemudahan yang telah dirasakan. Teruntuk adik-adik mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember, jangan takut untuk bermimpi, karena di manapun kamu berada, asal Allah SWT dan Rasulullah SAW masih ada dalam hati-kita masing-masing, inshaAllah kehidupan kita akan senantiasa lurus dan tetap berada dalam ridha-Nya.

Bonus: makanan halal yang susah dicari di Taipei, daging sapi 

1474290290014

Penulis: Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha #KotakAjaib | Teknik Material Metalurgi 2012

Editor: Muhammad Richa S