Pertengahan Mei yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Negeri Gajah Putih, Thailand. Tepatnya pada tanggal 12–13 Mei 2016, penelitian saya tentang Halal Food Supply Chain lolos dan mendapatkan kesempatan melakukan oral presentation dalam acara Asian Academic Science International Conference (AASIC) di Mahidol University­. Ini merupakan negara keempat yang pernah saya kunjungi setelah Malaysia, Hong Kong, dan Saudi Arabia selama perkuliahan ini.

Mengunjungi negara muslim minoritas tentu haruslah siap dengan konsekuensi tentang aspek halal. Ya, terutama makanan. Apalagi Thailand yang mayoritasnya beragama Budha. Babi dengan aneka jenis olahan nyaris kami jumpai di setiap jalannya.

Kami datang sekitar sore hari jam 16.10 Waktu Thailand di Don Muaeng Airport. Kemudian kami beristirahat sejenak. Untungnya Don Muaeng menyediakan musholla yang bersih, dan nyaman. Walaupun hanya terdapat satu musholla di bandara, di lantai dua dan di pojok, namun ruangannya cukup besar dan bersih. Tentu saja berbeda dengan di Malaysia, ketika saya berkesempatan mengunjunginya, di awal 2015 tahun lalu. Di sana surau (istilah orang malaysia menyebut musholla) begitu besar, dan terdapat banyak di Kuala Lumpur International Airport.

Akhirnya sampailah kami di daerah Salaya, tempat Mahidol University. Penginapan kami berjarak sangat dekat dengan universitas, hanya ditempuh dengan berjalan kaki menyeberangi jembatan penyeberangan, kami bisa dengan mudah sampai di Universitas.

Malam itu, kami dijemput oleh Mas Jamhari, salah seorang mahasiswa Indonesia di Mahidol University yang kebetulan mencarikan tempat penginapan untuk kami. Kemudian kami diantar ke dekat penginapan. Nah, di depan penginapan itu terdapat semacam pasar tradisional yang menjual aneka makanan. Dan malam itu kami makan di situ, yang kata beliau di sini hanya satu-satunya warung ini yang halal makanannya. Penjualnya berjilbab, seorang ibu dan ayahnya sepertinya, menjajakan nasi ayam. Entah apa namanya, sekilas seperti nasi ayam di Malaysia rasanya. Harganya sekitar 40 baht, atau kisaran 16.000 rupiah, berisikan nasi bumbu, ayam goreng, sambal, semacam kuah bakso, dan air es sepuasnya.

Agenda kami dimulai esok hari. Pagi itu selepas subuh, saya berangkat ke 7-Eleven. Kata Mas Jamhari, jika pagi tidak ada makanan halal di dekat situ. Hanya di 7-Eleven, dan itu pun harus selektif. Hal itu membuat saya cukup lama mencari makanan di seven eleven yang ada label halal. Sampai-sampai penjaga kasir menghampiri saya, dan mengomel-ngomel dengan menggunakan bahasa Thailand. Mungkin curiga melihat saya berkali-kali melihat makanan, kemudian mencari logo halal, lalu jika tidak ada dikembalikan. Dipikir maling mungkin, hehe. Dari kesemua makanan di 7-Eleven, untuk kategori makanan nasi yang siap saji, sudah dipastikan tidak ada yang halal. Untuk roti itu pun saya hanya menemukan dua macam dan itu roti tawar. Akhirnya saya membeli roti tersebut, seraya membawa pulang ke penginapan.

Selama pelaksanaan konferensi, kami tidak kesulitan makanan halal, dikarenakan panitia memang menyediakan makanan halal. Pun demikian dengan tempat Shalat di Mahidol Learning Center. Kebetulan di situ terdapat sekretariat Muslim Society-nya. Dan selama 2 hari tersebut, kami shalat di Sekretariat Muslim Society of Mahidol University.

Selesai melakukan konferensi, agenda selanjutnya adalah jalan-jalan. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Asiatique. Sebuah tempat makan di pinggir sungai. Katanya sih cukup romantis daerah ini. Dengan kondisi benar-benar kelaparan, kami malah memutuskan untuk foto-foto dulu. Ya, background pelabuhan cukup indah di malam hari.

Untuk kedua kalinya, akhirnya kami menemukan masjid. Ya, sebuah anugerah ternyata di dekat tempat wisata Asiatique, terdapat Masjid. Kami segera menuju ke sana dan melaksanakan Shalat Maghrib dijamak dengan Isya’. Dan akhirnya penantian keroncongan kami terbayar sudah. Ya, ada masjid pasti di sekitarnya terdapat pedagang makanan Halal. Pada akhirnya di sebelah masjid terdapat food court yang menjual aneka makanan halal. Harganya juga tidak terlalu mahal, dan malam itu kami makan dengan puasnya.

Di Thailand, aku banyak belajar. Ketika macet yang cukup panjang, nyaris tak terdengar suara klakson. Mungkin mereka benar-benar sabar. Toleransi beragama mereka pun baik, dan mereka paham ketika melihat salah seorang di antara kami ada yang berjilbab, terutama mengenai makanan. Di Thailand aku banyak belajar bagaimana muslim yang hanya sekitar 6% bertahan. Ketika mendengarkan khutbah sholat Jumat, nyaris di antara mereka tidak ada satu pun yang mengantuk. Pun demikian di sana aku belajar, bagaimana mempertahankan idealisme dalam beragama. Sebab jangankan makanan, minuman pun aku juga harus berhati-hati karena jangan-jangan ada kandungan alkoholnya. Di Thailand pula aku belajar. Masih banyak hamparan bumi yang belum tersinggahi. Teringat akan firman Allah dalam QS Al-Jum’ah ayat 10:

“Apabila shalat telah dilaksanakan maka bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah dan (seraya) ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian menjadi orang-orang beruntung.”

Demikianlah Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk bertebaran. Mencari rezekiNya. Mencari kemuliaanNya. Rhenald Kasali pernah berkata bahwa kita akan merasakan hal yang berbeda ketika kita mencoba survival di negara lain. Dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya, di luar negeri aku selalu mendapat pelajaran.

Mushonnifun Faiz Sugihartanto | Teknik Industri 2012 | Kepala Departemen Keilmuan JMMI ITS 1516

Editor: Muhammad Richa

SHARE
Previous articleTantangan Pemuda Muslim Hari Ini
Next articlePengumuman Staf JMMI 1617
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!