Seluruh sumber cahaya dunia akan padam pada hari kiamat. Matahari akan digulung dan bintang-bintang pun berjatuhan. Manusia dibangkitkan dalam keadaan gelap gulita. Gelap yang berlipat ganda. Saat itu, manusia sangat membutuhkan cahaya agar dapat meraba jalannya, agar dapat melewati kumpulan orang-orang yang begitu banyak jumlahnya. Tatkala melewati Sirath (jembatan di akhirat), cahaya sangat dibutuhkan. Sirath ini mengerikan kondisinya. Tidak akan ada yang bisa melewati, kecuali orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Pada hari yang sangat berat dan gelap itu, Allah hanya memberikan cahaya kepada semua orang Islam, pada awalnya diberikan kepada semua yang menyatakan Islam ketika di dunia. Namun sebagian dari mereka menjadi munafik, sehingga apabila semua sudah mendekati Sirath, Allah hanya akan memberikan cahaya itu kepada orang-orang mukmin, yang jujur saja. Rincian peristiwa tersebut terdapat lebih dari satu hadits dalam Shahih Muslim, dan Allah menggambarkan hal itu dalam QS. Al-Hadid ayat 12-15.

Darimana orang-orang mukmin mendapatkan cahaya agung pada hari yang sangat gelap itu? Cahaya itu adalah amal perbuatan mereka yang banyak ketika di dunia. Cahaya itu adalah janji Allah sebagai balasan bagi amal-amal mereka. Di antara amalan ini adalah : shalat subuh berjamaah.

Dari Buraidah Al-Aslami. Ia berkaa bahwa Rasulullah bersabda :

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat”. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

‘Orang yang banyak berjalan’ maksudnya adalah mereka yang membiasakan diri melaksanakan keutamaan yang besar ini.

‘Dalam Kegelapan’ maksudnya: shalat Isya’ dan shalat Subuh.

Ungkapan ‘menuju masjid’ merupakan dalil yang jelas bahwa cahaya itu diberikan kepada orang yang membiasakan shalat Subuh dan Isya’ berjamaah di masjid. Shalat yang dimaksud tak hanya sekedar shalat berjamaah tetapi harus dilaksanakan di rumah Allah.

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat kepada mereka yang menjaga shalat Subuh berjamaah. Allah tidak akan mecabut cahaya tersebut dan tidak akan mengambilnya ketika melewati Shirat Al-Mustaqim. Dia akan tetap bersama mereka masuk syurga, Insya Allah.

 

Penulis : Desy Puspitasari || Mahasiswa Teknik Kimia ITS || Staff Departemen Islamic Press JMMI 1516

Editor : Hafshah Mahfuzhoh