Kisah ini menceritakan dan melanjutkan kisah sebelumnya, kisah ini masih menceritakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abu At-Turab alias Ali Bin Abi Thalib. Simak kisah ini sebagai berikut

Strategi dakwah yang selanjutnya ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setelah beliau sampai di Madinah dan menemukan stabilitas keamanan disana, dalam rangka meneguhkan pilar-pilar dakwah Islam, adalah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Kaum Anshar, membangun masjid sebagai pusat kegiatan pusat kegiatan Islam dan pembinaan umat, menguatkan perjanjian dengan Yahudi, mengirimkan berbagai duta militer dan membantu kekuatan ekonomi serta pendidikan ditengah-tengah masyarakat Islam yang baru di Madinah. Dalam semua situasi dan kondisi, Ali mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, menjalankan perintah-perintahnya dan sekaligus belajar kepada guru tebaik yang mengajarkan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala itu.

Kisah penyebaran dahwah yang pertama yaitu Pengiriman Duta Militer. Kisah ini menimbulkan perang badr, perang uhud dan perang khandaq.

  1. Perang Badr

Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 H dan bertempat di perigi bernama Badar yang ada di antara Mekah dan Madinah. Ketika kafilah perdagangan kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb melintasi ujung batas negeri Madinah, Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyuruh mencegatnya karena harta yang di bawa oleh mereka sebagian besar harta rampasan dari kaum muslimin ketika mereka akan berhijrah ke Madinah.

Pasukan umat Islam berjumlah 313 orang yang terdiri dari 210 orang muslim Anshar dan selebihnya dari kaum Muslim Muhajirin. Bendera perang di serahkan kepada Mush’ab bin Umair, seorang pemuda yang baru saja masuk Islam, tapi keimanannya sudah sangat kuat, sehingga Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberinya kepercayaan untuk memegang bendera perang. Mendengar Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyiagakan pasukan, Abu Sufyan segera mengutus Kurir ke Mekah untuk memberi tahu Abu Jahal dan para pembesar Quraisy lainnya. Kaum Quraish maju dengan pasukan besar yang terdiri dari 1000 lelaki, 600 pakaian perang, 100 ekor kuda, dan 700 ekor unta, dan persediaan makanan mewah yang cukup untuk beberapa hari.

Kafir Quraisy ingin menjadikan peperangan ini sebagai kemenangan bagi mereka yang akan meletakkan rasa takut di dalam hati seluruh kaum bangsa Arab. Mereka hendak menghancurkan Muslimin dan mendapatkan keagungan dan kehebatan. Banyangkan, pasukan Muslimin dengan jumlah tentara yang kecil (termasuk 2 ekor kuda), keluar dengan niat mereka hanya untuk menghadang 40 lelaki yang tidak bersenjata akan tetapi harus menghadapi pasukan yang dipersiapkan dengan baik -3 kali- dari jumlah mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan mudah meminta mereka Muslimin untuk perang dan mereka tidak akan menolak, akan tetapi, beliau ingin menekankan kepada pengikutnya bahwa mereka harus mempertahankan keyakinan dan keimanan dan untuk menjadi pelajaran bagi kita. Beliau mengumpulkan para sahabatnya untuk mengadakan musyawarah. Banyak di antara sahabat Muhajirin yang memberikan usulan, dengan menggunakan kata-kata yang baik untuk menerangkan dedikasi mereka. Tetapi ada seorang sahabat yaitu Miqdad bin Al-Aswad ra., dia berdiri dihadapan mereka yang masih merasa takut dan berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

“Ya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam!, Kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan oleh bani Israel kepada Musa ‘Alaihis Salam, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu, kami duduk (menunggu) di sini'( Dalam surah Al-Maidah). Pergilah bersama dengan keberkahan Allah dan kami akan bersama dengan mu !”.

Rasulullah sangat menyukai apa yang disampaikan dan kemudian beliau bersabda, “Majulah ke depan dan yakinlah yang Allah telah menjajikan kepadaku satu dari keduanya (khafilah dagang atau perang), dan demi Allah, seolah olah aku telah dapat melihat pasukan musuh terbaring kalah”. Pasukan Muslimin bergerak maju dan kemudian berhenti sejenak di tempat yang berdekatan dengan Badar (tempat paling dekat ke Madinah yang berada di utara Mekkah). Seorang sahabat bernama, Al-Hubab bin Mundhir ra., bertanya kepada Rasulullah SAW, ” Apakah Allah mewahyukan kepadamu untuk memilih tempat ini atau hanya strategi perang hasil keputusan musyawarah?”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Ini adalah hasil strategi perang dan keputusan musyawarah”. Maka Al-Hubab telah mengusulkan kembali kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar pasukan Muslimin sebaiknya bermarkas lebih ke selatan tempat yang paling dekat dengan sumber air, kemudian membuat kolam persediaan air untuk mereka dan menghancurkan sumber air yang lain sehingga dapat menghalang orang kafir Quraish dari mendapatkan air. Rasulullah SAW menyetujui usulan tersebut dan melaksanakannya [*]. Kemudian Sa’ad bin Muadh mengusulkan membangun benteng untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk melindungi beliau dan sebagai markas bagi pasukan Muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu tinggal di dalam benteng sementara Sa’ad bin Muadh dan sekumpulan lelaki menjaganya.

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menghabiskan sepanjang-panjang malam dengan berdoa dan beribadah walaupun beliau mengetahui bahwa Allah ta’ala telah menjanjikannya kemenangan. Hanya melebihi cinta dan penghambaannya serta penyerahan diri kepada Allah ta’ala dengan ibadah yang Beliau kerjakan. Dan telah dikatakan sebagai bentuk tertinggi dari ibadah yang dikenal sebagai ‘ainul yaqiin.

Rasululloh membentuk regu pengintai untuk meyelidiki jalur yang ditempuh kafilah dagang Quraisy. Pasukan kafir Quraisy yang mengawal kafilah mereka telah menuju desa Badar. Hal itu segera di laporkan kepada Rasululloh. Maka Rasululloh segera mengadakan musyawarah dengan para sahabat dan di sepakati bahwa pasukan muslim harus segra di berangkatkan menuju desa Badar untuk menyongsong kedatangan pasukan kafir Quraisy.

Pasukan Islam berkemah dekat sumber air di desa Badar, sehingga dapat dengan mudah mengahadang pasukan kafir Quraisy dan mencegah mereka untuk menambil perbekalan air bagi pasukannya. Tidak lama kemudian pasukan kafir Quraisy tiba di tempat yang sama dengan segala perlengkapannya. Maka perang pun tak dapat di hindari.

Sebelum perang missal terjadi, terlebih dahulu pasukan Quraisy menantang perang tanding satu lawa satu. Dengan semangat jihad yang tinggi, pasukan Islam segera meminta izin kepada Rasulullah untuk menerima tantangan pasukan kafir. Rasul mengizinkan dan mengutus tiga orang perwiranya yang gagah perkasa, pemberani, dan angat kuat imannya, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib, dan Ubaid bin Haritsah. Sedangkan dari pihak kafir Quraisy mengutus perwiranya, yaitu Utba bin Rabia, Syaiba, saudaranya Utba, dan Walid bin Utba (anaknya).

Perang tanding pun dimulai. Hanya dalam hitungan detik, Hamzah bin Abdul Muthalib dapat menebas leher Syaiba hingga tewas. Begitu juga Ali bin Abi Thalib dapat membunuh Walid bin Utbah dengan sekejap. Ubaidillah bin Haritsah nampak saling melukai dengan Utba. Ketika Ubaidillah terdesak, Hamzah bin Abdul Muthalib segera membatu Ubaidillah menebaskan pedangnya ke leher Utba hingga tewas.

Menyaksikan perwiranya terbunuh, Abu Sufyan segera menyerukan komandonya untuk menyerang kaum muslimin. Sedangkan di pihak muslim, Rasululloh masih tampak khawatir melihat pasukan musuh yang begitu besar jumlahnya. Namun Allah Subhanallahu wa Ta’ala tidak akan membiarkan utusannya dalam kecemasan, maka segeralah turun wahyu untuk meyakinkan hati Nabi Muhammad.

“Wahai Nabi (Muhammad) Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Anfal: 65)

Setelah mendapat wahyu tersebut, Nabi Muhammad segara mengobarkan semangat jihad kepada pasukan Islam yang telah siaga menunggu perintah dari beliau. Tidak ada sedikit pun perasaan takut dan bimbang dalam hati pasukan muslim, sebaliknya jiwa mereka dipenuh dengan semangat jihad membela agama Allah dan Rasul-Nya.

Mendengar komando Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, pasukan Islam segera berhamburan ke medan perang dengan gagah perkasa. Puluhan musuh terbunuh oleh sabetan pedang Hamzah bin Abdul Muthalib, puluhan lainnya tewas di tangan Ali bin Abi Thalib. Sa’ad bin Abi Waqas sahabat senior, ahli pembidik panah mendengar seruan Nabi: “Bidikkan anak panahmu hai Sa’ad. Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu.” Sa’ad teringat do’a Nabi kepadanya pada saat baru masuk Islam: “Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkan do’anya”. Maka menggeloralah semangat juang Sa’ad seketika, hampir tidak ada anak panah yang di lepasanya tanpa menewaskan musuh yang menjadi sasarannya.

Nabi sendiri tidak hanya mengomando. Beliau juga menyongsong musuh sambil menaburkan debu ke arah musuh seraya berkata: “Hitamlah wajahmu!” Pasukan Islam terus berjuang dengan penuh semangat untuk membela dan mempertahankan agama Islam. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga terus menyemangati pasukannya dengan berulang-ulang membacakan ayat Al-Qur’an berikut.

“Kelak akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka” (QS. Al-Anfal: 12)

Pasukan kafir menderita kekalahan yang cukup parah dan jumlah korbannya yang terbunuh cukup banyak termasuk Abu Jahal. Dari pihak muslim, 15 orang gugur sebagai syahid dan beberaoa orang luka.

Amanah yang kita peroleh dari perang badr ini yaitu kita harus tetap semangat, jangan mudah putus asa dan percayalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita jika kita membela agama Islam sampai darah penghabisan.

(continued)

 

Penulis :Tegar Rilo (Mahasiswa Diploma Teknik Sipil ITS || Staff Islamic Press JMMI ITS 1516)

Editor   : Hafshah Mahfuzhoh