Sangat penting bagi kita Aktivis Dakwah Kampus (Intelek Dakwah Kampus) mengenal dan memaknai serta memahami dakwah kampus itu sendiri. Ternyata, sangat sedikit yang memahami Dakwah Kampus itu sendiri walaupun sudah banyak pelatihan yang dikembangkan oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) untuk memahamkan makna Dakwah Kampus. Dakwah Kampus terbagi dalam dua kata yaitu Dakwah dan Kampus. Dakwah dapat dimaknai mengajak atau menyeru. Karena memang dalam Islam sendiri tugas utama setiap muslim adalah berdakwah, dan kita juga mengetahui Rasullulah SAW berdakwah tanpa adanya pemaksaan. Begitu pun dengan yang kita lakukan dalam berdakwah. Lalu, Kampus adalah tempat atau institusi pembelajaran yang notabene sangat Ideal dalam pembelajaran. Betapa tidak? Hampir setiap rol model masyarakat ada di kampus dalam artian ini adalah Laboratorium masyarakat dengan berbagai isinya.

Lalu kenapa Dakwah Kampus sangat penting? Hampir di setiap sudut kampus terisi oleh orang-orang dengan idealismenya dan juga pemikirannya. Akan tetapi, ketika hal ini terus berlanjut akan ada butterfly efect (yaitu efek yang terjadi berkesinambungan, contohnya ketika makanan A tidak dimakan, maka si B tidak datang ke tempat kejadian, sebaliknya jika makanan A dimakan, si B datang ke tempat ini) yang berakibat buruk. Hampir beberapa kampus yang memiliki LDK akan mengalami degradasi moral, terlebih lagi kampus sebagai batu pertama untuk membentuk pemimpin yang bermoral. Sangat jarang terlihat orang yang beridealisme tinggi masih berpegang teguh akan idealismenya ketika pertahanan terakhirnya tidak ada yaitu agama. Oleh sebab itu adanya Dakwah Kampus ini menjadi titik sentral dalam membina maupun mempersiapkan bagi pemimpin dan juga memperbaiki moral warga kampus.

Dakwah Kampus sendiri juga tidak lepas dari kampus perjuangan ITS. Kampus yang berdiri sejak 54 tahun lalu sebelum berubah nama dari yayasan Institute menjadi  ITS saat ini. Banyak pemimpin hebat yang terlahir dari rahim ITS tetapi ada hal khusus yaitu ITS terdiri dari banyak ras dan suku maupun agama hingga bisa dibilang kampus heterogen yang cukup mumpuni dalam berbagai hal termasuk menjadi kampus terbaik maupun pencetak pemimpin. Jika tanpa Dakwah Kampus, seperti apakah ITS? Jawabannya cukup simpel, yaitu kemunduran moral dan juga kelahiran para intelektual tanpa berlandaskan apa pun. Kenapa saya berani mengatakan seperti ini? Hampir pendidikan ITS mengarah ke satu sisi yaitu industri dan apa yang diajarkan pun semua mengarah ke sana, walaupun dipakai cerita dari Dosen. Para dosen lebih menyukai cerita mereka dalam mencari pekerjaan dan ilmu setinggi-tingginya. Tetapi, mereka lupa akan hal penting yaitu moral. Dengan berbalut karakter yang baik baru terlahirkan pemimpin dan insinyur muda yang Cool . Perbedaan yang ada di ITS sangat rentan jika tidak ada yang menyeimbangkan, mulai adanya politik, ideologi, agama, ras, dan suku sekalipun. Jika tidak adanya wadah yang cocok dan pas, akan lemas ITS dalam hal Internal.

Akhirnya dengan adanya perbedaan ini dan ada orang-orang yang peduli, telah lahir wadah setiap perbedaan, begitu pun JMMI. JMMI adalah jawaban dari Dakwah Kampus itu sendiri, dengan berpegang teguh akan Al-quran dan Hadist yang menjadi landasan utama dalam bergerak. Dengan memahami perbedaan dalam target dakwah yang ada, JMMI berubah dari tahun ke tahun hingga saat ini, dengan balutan yang elok untuk menarik perhatian warga kampus menuju kebaikan. Ya, walaupun saya masih baru dalam hal seperti ini, karena penelusuran JMMI 25 ada di buku tersebut menguak akan tujuan para pendahulu JMMI.

Dan mungkin pendahulu JMMI juga tidak berpikir sampai keadaan kampus yang berubah drastis, mulai dengan keadaan mahasiswa yang mulai ingin segala sesuatu cepat dan mudah. Belum lagi dengan adanya status kampus yang notabene menjadi PTN-BH walaupun tidak berimbas di dalam JMMI sendiri, tetapi apakah ini baik-baik saja?  Kader ADK yang tidak paham politik sangatlah riskan, kalah ilmu dengan teman-teman BEM. Walaupun ada yang berpendapat “kita kan beda ranah dengan BEM.” Ini mungkin pemikiran yang salah menurut saya. Walaupun kita beda ranah sangat lah penting untuk melihat sisi lain bukan dari sisi kanan saja. Tetapi apakah hanya ini saja permasalah yang ada di JMMI? Tidak, ada permasalahan yang kecil tetapi penting yaitu internal JMMI yang serasa mempunyai pergerakan yang sendiri-sendiri. Walaupun memang akan ada dalih bahwa setiap lini mempunyai arahan melalui GBHK (Garis Besar Haluan Kerja). Tetapi, biarpun kita mempunyai banyak jalan tetaplah panduan pertama kita hanyalah amal jama’i. Dan ini semoga menjadi landasan JMMI dengan memaksimalkan semua lini saling berkejasama dalam satu tujuan yaitu kampus madani.

Dengan cita-cita yang tinggi seperti ini yaitu kampus madani. Segala sesuatu menjadi refleksi dari kota Madinah. Dengan dasar yang baik serta moral dari setiap warga kampus yang beradab dan beriman, kebebasan berpendapat dengan berlandaskan sesuatu yang pasti seperti Al-quran dan Hadist, atau pun literasi lain yang patut dijadikan referensi. Kampus menjadi tempat yang nyaman bagi civitasnya demi meraih kualitas diri yang lebih baik. Untuk mencapai tingkat seperti ini sangat sulit jika ego masih dikedepankan. Sebagai kaum intelektual yang paham akan ilmu islam, bercermin kepada Rasullulah sangatlah penting untuk mengatur strategi serta membentuk LDK menjadi tempat membina diri dalam membangun calon-calon pemimpin di masa depan. Mengingat apa yang terjadi di beberapa tahun ini banyak timbul islamphobia yang berlandaskan dari media dan juga makar-makar yang terjadi. Sungguh aneh jika LDK tidak kompeten dalam manajerial karena LDK itu sendiri adalah Organisasi. Mempunyai rasa profesionalitas dan kebanggaan serta menjadi sosok panutan sangatlah penting demi membangun citra diluar. LDK yang baik adalah LDK yang mempunyai sistem yang baik di dalam dan diluar demi keberlangsungan pemimpin masa depan.

 

Penulis        : Jimmy Restu Soeyandono – middle FSLDK JMMI 1516

Editor         : Hafshah Mahfuzhoh