Para gamer sudah pasti tidak asing dengan kata Assassin’s Creed, bukan? Game yang digawangi oleh salah satu developer terkenal ini mampu memvisualisasikan keadaan pada saat syiah menyerang muslim. Dengan tipe game berjenis freeroam play membuat player dapat mengelilingi kota-kota Iran pada saat itu. Terdapat 3 kota besar dalam jalan cerita Assassin’s Creed yaitu Damascus, Jerusalem, dan Acre.

Jika kita melihat kembali dalam sejarah Perang Dunia Salib II, Assassin dibentuk oleh seorang tokoh bernama Hasan Ibn Shabah dimana ia tersingkir dalam suksesi Mesir pada tahun 1090. Nama kelompoknya disebut sebagai Hashasin, dan dikenal di Eropa dengan nama Assassin. Karena kebenciannya tersebut akhirnya ia berencana untuk menggalang kekuatan syiah di Suriah untuk membunuh para tokoh muslim serta para tokoh ahlus sunnah wal jamaah. Syiah merupakan ajaran yang telah menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Assassin dikenal dengan cara membunuhnya secara diam-diam dan pandai dalam memainkan segala jenis senjata. Mereka dilatih untuk pembunuhan secara misterius demi menjalankan kepentingan politik. Ciri khasnya menggunakan pisau tersembunyi (Hidden blade) dan pakaian seperti pasukan cavarly dengan gaya khas eropa. Tidak heran Assassin mulai menggalang kekuatannya. Dimulai dengan membuat benteng masyaf yang kuat di Alamut, sebelah selatan Laut Kaspia dan utara Iran. Sengaja dipilih posisi ini karena akan mempermudah mereka dalam melakukan misi penyusupan dan aksi pembunuhan mereka.

Ketika kita memainkan peran di Assassin’s Creed, kita akan benar-benar merasa seperti kondisi pada tahun 1090. Merupakan pekerjaan hebat dari pihak developer yang dapat memvisualisasikan keadaan dengan latar waktu itu. Contohnya seperti kondisi kota Jerusalem, kota yang indah dimana terdapat Masjid Al-Aqsha. Selama 8 tahun umat muslim memimpin daerah tersebut dalam kesejahteraan. Tidak lama setelah itu muncullah pasukan Crusaders. Prajurit tersebut membantai banyak pasukan muslim. Tetapi tidak lama kurang dari satu abad Jerusalem kembali lagi dikuasai oleh umat muslim setelah kemenangan gemilang yang dibawakan oleh Shalahudin Al Ayyubi. Assassin sendiri pernah mencoba beberapa kali untuk membunuh Shalahudin Al Ayyubi tetapi selalu gagal. Dengan keteguhan dan keberanian ia mencari mereka dan menghabisi Assassin.

Bahkan dalam game Assassin’s Creed, Assassin tersebut melawan Pasukan Janisarry. Pasukan Janisarry merupakan pasukan muslim yang berasal dari tawanan perang dan bersumpah untuk mengabdi pada kekuasaan Daulah Utsmaniyah pada saat itu. Pasukan Janisarry juga berkontribusi dalam menaklukan Konstatinopel ketika dipimpin oleh Sultan Muhammad II atau lebih dikenal dengan Muhammad Al-Fatih. Janisarry yang berarti “pasukan baru” ini diciptakan oleh Sulthan Orkhan dan dikembangkan oleh Sultan Murad I. Dalam Game ini peran Assassin tersebut melawan Pasukan Janisarry yang berpihak terhadap muslim. Adanya perang pemikiran pada game ini adalah Assassin dalam pihak yang benar dimana memiliki misi untuk menyelamatkan, serta Pasukan Janisarry melindungi pemimpin yang dzalim terhadap rakyatnya. Hal ini menciptakan suatu kebingungan sejarah bagi player yang hanya ingin menikmati alur permainan.

Assasin sendiri merupakan satu ibu dengan para Templar. Yang berbeda hanyalah Assassin dengan paham ajaran syiah berencana merusak agama Islam melalui jalur konflik dan poltik. Sedangkan Templar merusak agama Kristen dengan ideologi mereka.

Oleh karena itu patutnya sebagai umat muslim untuk selalu mencerna kejadian-kejadian yang ada di dalam permainan dengan realitanya. Karena bisa saja banyak hal yang menyimpang dalam kejadian tersebut. Patutnya kita menambah intelektualitas terhadap ilmu sejarah sebelum meyakini jalan cerita permainan yang memiliki banyak penyimpangan. Karena bisa saja banyak hal serupa di game lain yang terdapat hal semacam ini.

 

Penulis                 : Deo Siregar || Divisi Pena Islamic Press JMMI ITS

Editor                    : Hafshah Mahfuzhoh

SHARE
Previous articleTubuh dan Jiwaku
Next articleCukup, Waktunya Kembali
Kita lihat hari ini, banyak kerusakan di muka bumi terjadi karena bukan orang Islam yang menguasai Media. Kami, Islamic Press JMMI ITS 1617 berusaha menghadirkan perubahan bagi kebaikan umat Islam melalui media. Bersama-sama kita wujudkan media yang menjadi pencerdas masyarakat. Islamic Press, sang Inisiator Perubahan !!!