“… Dan bertebaranlah kamu di muka bumi…” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Terinspirasi dari potongan ayat Al-Qu’ran tersebut, setiap hari saya bermimpi dan berdo’a di sepertiga malam agar dapat berkunjung ke belahan bumi yang lain. Tapi, saat itu saya hanya ingin mencapai target-target yang sudah tertata untuk menyelesaikan tugas akhir, lulus, dan berjuang di beasiswa Monbukagakusho melanjutkan studi S2. Tak pernah terlintas dalam benak bahwa saya akan mencicipi negeri orang sebelum lulus kuliah.

Namun, Allah mengabulkan do’a lebih cepat dari yang diduga, walaupun dengan cara yang berbeda. Organisasi gabungan mahasiswa Islam se-Malaysia tiba-tiba mengundang perwakilan Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI ITS) untuk ikut serta dalam sebuah acara konferensi dan seminar se-ASEAN, ASEAN Muslim Student Summit. Akhirnya, kami, enam orang pengurus harian JMMI ITS berangkat ke negeri Jiran dengan berbekal nekat dan bismillah.

Perjalanan ke negeri Jiran tentunya dipenuhi oleh perjuangan. Sebelum keberangkatan, paspor diurus dengan lika-liku kerumitannya, agar dapat selesai dengan cepat. Lalu kemudahan datang melalui adanya dana talangan dan dana birokrasi untuk pembelian tiket pesawat serta keperluan lainnya, Alhamdulillah. Tapi ternyata hidup tidak semulus yang kita kira, kami hampir saja tertinggal pesawat karena terkendala saat check in. Namun, kendala tersebut dapat terselesaikan. Ternyata Allah masih memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Sesampainya kami di KLIA 2 (Kuala Lumpur Airport 2), sambutan hangat dan ramah kami dapatkan dari kakak-kakak panitia. Perjalanan dilanjutkan ke hostel Universitas Selangor. Tentunya sebagai calon peneliti, tak pernah luput saya amati hal-hal yang berbeda sepanjang perjalanan di negeri Jiran ini. Khususnya penelitian tentang kehidupan muslim di Malaysia.

Kehidupan di Malaysia tidaklah jauh berbeda dengan Indonesia. Berbagai kuliner rasa Indonesia mudah didapatkan. Namun, walaupun Indonesia dan Malaysia sangat dekat, kehidupan keIslaman antara Malaysia dan Indonesia terpaut perbedaan yang cukup jauh. Sebenarnya apa yang berbeda antara kehidupan muslim di Malaysia dan Indonesia?

Saat kami nongkrong di kantin universitas Selangor, kami dapat melihat siaran tivi Malaysia. Perbedaan terlihat saat saya mengamati sebuah acara akademi penyanyi di Malaysia. Pada acara tersebut, baju mereka tertutup sekali, bahkan MC di acara tersebut berkerudung. Pakaian yang dikenakan penyanyi yang tidak berkerudung pun sopan dan tertutup. Sebuah pertanyaan terbersit di kepala saya, “Bagaimana kebijakan media yang diberlakukan disana?”.

Betapa hebatnya mereka yang masih menjujung tinggi nilai keIslaman. Saat saya hadir pada upacara pembukaan konferensi, Asmaul Husna dibacakan setelah lagu kebangsaan dinyanyikan. Saya sangat menikmati upacara tersebut dengan khidmat. Setelah saya amati, hampir semua orang yang hadir pada konferensi tersebut hafal Asmaul Husna. Kira-kira, mungkinkah ketika upacara bendera di Indonesia Asmaul Husna dibacakan setelah lagu kebangsaan Indonesia Raya? Hehe.

Saya sempat berbagi cerita dengan beberapa mahasiswa di sana tentang Islam di Malaysia, tentang berlakunya surat izin menikah. Di Malaysia, seseorang yang akan menikah harus mengikuti kursus, lulus, dan harus punya sertifikat pra-nikah. Kemudian saya bertanya, “bagaimana tentang orang-orang yang berzina sebelum menikah?”. Mereka berkata, “harus diberantas, tidak boleh menikah jika tidak punya izin menikah”.

Selain itu, saya mengamati minuman dan makanan yang dijual di sana. Di Indonesia, restoran ayam ternama dengan enaknya menjual soda dan junk food. Sedangkan di Malaysia, saya menemukan minuman jeruk dan nasi lemak (nasi uduk khas negeri Jiran) dengan merek dagang restoran ayam yang sama dengan Indonesia dan negara lainnya. Sebenarnya, kebijakan pangan dan industri yang seperti apa yang digunakan sehingga dapat mempertahankan kehalalan dan kethoyyiban negeri mereka?.

Selain pengalaman yang menyenangkan, ada sedikit pengalaman yang terjadi karena kecerobohan saya jatuh di kamar mandi. Alhasil, saya sempat merasakan rumah sakit Malaysia, dan dapat gratisan jahit luka gratis karena mungkin kasihan melihat saya. Akhirnya saya pun terselamatkan. Ya, gratis. Di Indonesia, tanpa uang, kira-kira nyawa terselamatkan nggak ya? Hehe.

Fenomena lain yang saya temui adalah kebanyakan akhawat (perempuan) di Malaysia bisa menyetir mobil. Mereka mengatakan bahwa akhawat tidak boleh naik motor, karena medan perjalanan yang jauh dan berbahaya. Hanya laki-laki saja yang boleh naik motor sendirian. Betapa kagumnya saya melihat kebijakan mereka untuk menjaga perempuan dengan baik. Pun dengan banyaknya akhawat yang pede bercadar. Berbeda dengan di Indonesia yang bisa jadi sudah dicurigai aliran ini dan itu.

Begitulah sekelumit cerita tentang pengamatan saya selama di Selangor, Malaysia.

Alhamdulillah. Kembali ke Indonesia dengan selamat, membuat saya semakin terinspirasi membangun negeri ini menjadi negeri yang lebih baik. Negeri jauh dari budaya barat dan sekulerisme, baik dari segi kesehatan, pendidikan, industri, media, dan tentunya dengan kehidupan muslim yang lebih baik untuk kembali kepada syariat Islam. Yakni dengan cara memperbaiki diri pribadi dan masyarakat dengan peran masing-masing kita. Insya Allah.

Itulah secuil Islamic journey kami di Malaysia.

Semoga dapat menambah tsaqofah keIslaman dari negeri tetangga dan dapat menambah semangat untuk mendunia. Bismillahi tawakkaltu.

 

Penulis: Faridah Tsuraya – Koordinator Putri Departemen Syiar JMMI ITS

Editor: Hafshah Mahfuzhoh