Ibnu Khaldun mewariskan catatan kehidupannya sendiri. Dengan pena, dia mencatat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya sejak kanak-kanak hingga hampir mendekati ajal. Dia mengemukakan sifat-sifat dan pandangan psikologisnya. Warisan intelektual Ibnu Khaldun merupakan sumber utama biografinya. Melalui semua warisan intelektual ini kita akan mengikuti fase-fase kehidupannya.

Ibnu Khaldun dilahirkan di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H/27 Mei 1332 M. Keluarganya termasuk keluarga Andalusia yang berhijrah ke Tunisia pada pertengahan abad ke-7 H. Nama lengkapnya Waliyuddin Abdurrrahman ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn al-Hasan ibn Jabir ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Abdurrahaman ibn Khaldun. Ia menyebut asal usulnya dari bangsa Arab Hadramaut, dan silsilahnya dari Wail ibn Hajar.

Pada dasarnya beliau meragukan otensitas jalur silsilah ini dan percaya bahwa banyak nama yang tidak dimasukkan ke dalamnya.  Silsilah kakek Khaldun yang pertama kali menginjakkan kaki di Andalusia ,sebagai mana yang dilaporkan Ibnu Hazam, bernama Khalid dan dikenal dengan nama Khaldun ibn Usman ibn Hani ibn al-Khattab ibn Kuraib ibn Ma’adi Karib ibn al-Haris ibn Wail ibn Hajar. Jadi menurut silsilah, Ibn Khaldun merupakan salah seorang keturunan suku Arab Yaman tertua.

Namun ada alasan meragukan otensitas dari Ibnu Hazam ini, sebuah catatan yang dibuat pertama kalinya pada abad ke-5 H. Keraguan ini diperkuat pengetahuan kita mengenai kondisi dan situasi persaingan diantara bangsa Arab dan Barbar di Andalusia. Bangsa Barbar ikut ambil bagian dalam penaklukan di Andalusia dan menanggung beban paling berat, sedangkan bangsa Arab sendiri menikmati kekuasaan dan pemerintahan. Persaingan ini berlangsung cukup lama hingga dominasi Arab memgalami keruntuhan, dan bangsa Barbar mulai mengambil alih kekuasaan pada masa-masa pertama abad ke-5 itu.

Di Andalusia, dia memang dianggap sebagai orang yang berasal dari keturunan Arab, tapi keraguan menyusup ke dalam silsilah banyak tokoh, dan memang ia mendapat jalan masuk ke berbagai silsilah tokoh penakluk di Andalusia. Namun ada alasan tertentu untuk mempertanyakan keterkaitan Ibnu Khaldun dengan asal-usul Arabnya itu. Dalam muqaddimah-nya, dia menunjukkan ketidak setujuan dan prasangka kuatnya terhadap bangsa Arab, sementara itu dalam salah satu di bagian sejarahnya memuji bangsa Barbar dan menyanjung karakter mereka.

Bagaimanapun juga, Ibnu Khaldun termasuk keluarga terkenal dan berpengaruh yang hidup pada massa penaklukan di Andalusia. Awalnya kakeknya, Khalid yang dikenal sebagai Khaldun, memasuki Andalusia bersama pasukan Yaman dan pertama kali menetap di kota Caramona, tempat dia membentuk dan membina keluarganya, kemudian keluarganya pindah ke Sevilla tapi Bani Khaldun tinggal dalam percaturan hanya pada akhir abad ke 3 H. Selama pemerintahan Amir Abdullah ibn Muhammad dinasti Umayyah (274-300 H). Saat Itu Andalusia terlibat perang dan revolusi di banyak pelosok negara. Hingga akhirnya Andalusia direbut oleh kelompok al-Muwahiddun.

Ketika Kerajaan al-Muwahiddun mengalamai kemunduran dan terjerat berbagai persoalan, Andalusia terganggu. Kelompok al-Muwahiddun akhirnya melepaskan kekuasaannya. Bani Khaldun yang menyadari akibat buruk itu meninggalkan Sevilla sebelum jatuh ke tangan orang-orang Kristen. Untuk sementara mereka menetap di Ceutia. Gubernurya seorang keturunan Hafs menyambut mereka dengan baik. Mereka mendapatkan santunan dan perlindungan, Bani Khaldun juga mendapatkan kekuasaan dan kemewahan pada masa pemerintahan Abu Ishaq. Sedangkan Muhammad, ayah Ibnu Khaldun tidak memiliki posisi sama sekali dalam politik dan lebih senang belajar tentang fiqih, filologi, dan puisi.

Jadi, Ibnu Khaldun adalah keturunan keluarga tua yang terkenal dan terpelajar. Dia dibesarkan dalam ayunan warisan yang diterima dari keluarganya. Dia dibesarkan dalam pangkuan ayahnya yang juga guru pertamanya. Dia membaca Al-qur’an dan menghafalnya, mempelajari berbagai macam cara membaca (qiraat) serta penafsirannya, serta hadis dan fiqih. Dia diajari retorika oleh ulama yang paling terkenal di di Tunisia.

Saat itu pusat pendidikan Islam terdapat di Afrika Utara, disanalah tempat berkumpulnya cendekiawan Andalusia yang tersingkir dari karena berbagai peristiwa. Karena negara mereka sendiri tidak ramah pada mereka.

Ibu Khaldun menyebutkan nama-nama gurunya dalam setiap cabang ilmu dan menggambarkan kehidupan dan karakter mereka secara apik serta menyebut nama-nama buku yang ia pelajari. Dari tulisannya ia sangat menguasai kitab-kitab hadits dan fiqih Maliki, filologi, dan puisi. Kemudian ia mempelajari ilmu logika dan filsafat selama memnjalani kehidupan kenegaraannya. Ibnu Khaldun melanjutkan studinya hingga berumur 18 tahun.

Pada saat itu Amerika Utara mengalami banyak kemelut yang membuat seluruh dunia Islam dari Samarkand hingga Mauritania jatuh karena sebuah wabah yang mematikan yaitu epidemi. Karena gejala ini, pada 1349 M/749 H sang sejarawan ditinggal mati oleh kedua orang tuanya dan semua gurunya. Sebagian besar penduduk Tunisia pun tewas. Dia menyatakan sangat berduka cita atas meninggalnya kedua orang tua dan gurunya hingga dia kesulitan melanjutkan pendidikannya. Karena itulah ia memutuskan untuk hijrah ke Mauritania, tempat guru dan teman-temannya meninggal. Tapi kakaknya, Muhammad, mencegahnya.

Tak lama setelah mendapatkan kesempatan untuk memasuki kehidupan kenegaraan, Abu Muhammad ibn Tafrakin, penguasa Tunisia yang zalim, memanggilnya untuk menempati jabatan sekretaris pribadi tawanannya, Sultan Muda Abu Ishaq. Sekretaris pribadi itu harus mencantumkan nama dan stempel Sultan pada surat-menyurat dan keputusan-keputusan kerajaan. Saat itu usia Sang Sejarawan belum lagi 20 tahun. (continued)

 

Penulis             : Renna Febryanita – Staff Divisi Pena – Departemen Islamic Press JMMI 1516

Editor               : Hafshah Mahfuzhoh