Butuh waktu 6 tahun untuk memantapkan langkah menjadikan perkumpulan mahasiswa muslim menjadi sebuah organisasi yang resmi didalam kampus ITS, JMMI namanya. Organisasi yang senantiasa berkembang hingga terwujudnya peradaban umat, dengan terbentuknya masyarakat kampus yang islami, mahasiswa muslim dengan aqidah yang kuat, ber-akhlaqul karimah, dan memiliki intelektualitas. Begitupun dengan FSLDK Indonesia yang pada awalnya hanya berupa perkumpulan LDK. Hingga setelah 3 tahun berjalan akhirnya terbentuklah sebuah Forum Silaturahim LDK tingkat Nasional dan terus mengadakan pertemuan setiap tahunnya. Hingga kini-pun, selalu ada perubahan untuk mematangkan langkah dan gerak. Karena sebelum Indonesia   benar-benar dirasakan sebagai rahmat bagi seluruh alam, maka selama itulah FSLDK akan tetap menjalankan tugasnya memadanikan Indonesia. Insyaa Allah. Memang waktu bukanlah patokan utama kematangan suatu organisasi, namun waktu adalah faktor yang mematangkan pemikiran dan kedewasaan suatu perkumpulan.

Pelaksanaan AMSS 2.0

Pada tanggal 15-18 Januari 2016 kemarin, sebuah perhelatan besar mempertemukan mahasiswa dari beberapa negara di kawasan ASEAN. Dalam pelaksanaan kali ini hadir mahasiswa dari 5 negara ASEAN yaitu, Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Kamboja, dan Thailand. Dan Indonesia adalah penyumbang terbesarnya, dengan lebih dari 50% peserta berasal dari Indonesia. Acara ini bertajuk ASEAN Muslim Student Summit 2.0 dengan tema “Our Unity, Our Strength”. Acara yang dilaksanakan di Universitas Selangor Malaysia ini adalah yang kedua kalinya, setelah penyelenggaraan pertama diselenggarakan di kota pendidikan, Yogyakarta, Indonesia. Salah satu target dari penyelenggaraan acara ini adalah pembentukan AMSU (ASEAN Muslim Student Union).

Dari acara tersebut, terbentuklah sebuah organisasi mahasiswa muslim ASEAN dengan nama AMSA (ASEAN Muslim Student Association), berbeda dari awal rencana pembentukan yang ingin dinamakan AMSU. Yang awalnya merupakan gabungan atau semacam aliansi dari beragam organisasi dimana peserta merupakan perwakilan dari organisasi di negara-negara ASEAN, beralih menjadi sebuah perhimpunan mahasiswa yang mengatasnamakan personal atau dirinya sendiri untuk tergabung dalam organisasi ini.

AMSA organisasi Strategis yang harus disiapkan

Organisasi ini akan bergerak dalam beberapa sektor strategis di tataran ASEAN dengan gerak kecilnya berada dalam setiap regional negara anggota ASEAN. Indonesia akan memiliki AMSA cluster Indonesia dengan kelompok-kelompok yang lebih kecil lagi di beberapa daerah. Sektor atau bidang garap yang ada dibawah payung AMSA ini diantaranya adalah Dakwah dan Pendidikan, Ekonomi dan Kesejahteraan, Keamanan-Politik, dan Advokasi. Setiap sektor tersebut telah mendapatkan rekomendasi dari hasil diskusi antar peserta dalam konferensi tersebut.

Tentu bukan hal yang mudah untuk menggerakkan organisasi sebesar ini. Seperti sedikit penjelasan di awal, bahwa sejarah telah mengatakan bahwa tidak cepat dan sederhana dalam membentuk organisasi yang besar. Organisasi yang berada dalam tataran kampus saja butuh beberapa tahun untuk mematangkannya, terlebih dalam tataran nasional maupun internasional. Pembentukan organisasi pada awalnya adalah pembentukan tim dan penyamaan gerak yang harus dipastikan selesai. Siapa yang memastikan? Tentu orang yang menginisiasi hal itu dan atau orang yang diamanahkan untuk menjalankan organisasi tersebut ketika sudah terbentuk. Karena ketika di awal tidak ditemukan kata sepakat, sulit rasanya untuk tetap melanjutkannya, dan jeleknya –na’udzubillahi min dzalik– terjadi gesekan didalam organisasi tersebut. Merasa tidak jelas dan dibiarkan ketidak jelasan itu mengakar dan tumbuh membesar.

Saya ingin mengibaratkan ini dengan sebuah kelompok study tour atau field trip dalam sebuah kota. Pada kegiatan tersebut ada elemen penyelenggara atau pelaksana dan tentunya ada wisatawan atau peserta yang menunggu arahan untuk dipandu. Tentu menjadi sebuah keharusan bahwa pengemudi bus dan tour guide harus seirama. Ketika tour guide mengatakan setelah ini kita ke museum, maka seyogyanya sopir pun mengarahkan kendaraan ke museum. Ketika tour guide mengatakan bahwa setelah ini kita akan makan siang, maka sopir harus mengarahkan peserta ke tempat makan siang dan panitia yang lain-pun harus menyiapkan hal yang dibutuhkan dalam makan siang. Bahaya ketika sedari awal sopir punya arah sendiri, tour guide punya arah yang berbeda, dan panitia yang lain juga seenaknya sendiri. Tentu kebingungan setiap peserta yang dibawa. Syukur jika peserta hendak bertanya dan meminta penjelasan, jika tidak? Akan lebih kacau. Saat tour guide mengatakan akan ke museum malah sopir mengantarkan ke tempat makan sedangkan panitia bagian konsumsi belum siap. Sangat tidak teratur, bukan?

Oleh karena itu, penting untuk diawal ini organisasi ini melakukan penguatan internal, sering melakukan konsolidasi internal untuk menyeragamkan gerak dan menyamakan frekuensi serta fasanya agar dapat saling menguatkan.

Tentang kontribusi, bukan sekedar partisipasi atau dapatkan gengsi

Karena memang untuk saat ini, kontribusi-lah yang dibutuhkan oleh orang yang berada disekitar kita. Entah siapapun dia, setinggi apapun pendidikannya, ketika tak mampu memberikan kontribusi nyata dan dapat dilihat oleh orang lain maka dia hampir tak akan digubris. Namun bagi sang Inisiator, citra itu yang kedua setelah kontribusi dan poin kesekian setelah benar niat dan caranya beraktivitas. Sehingga dalam organisasi sebesar AMSA ini, akan sangat remeh ketika hanya memandang diri telah berada pada organisasi yang beregerak di tataran ASEAN, sudah melangkah lebih jauh keluar Indonesia.

Lagi-lagi di sini diperlukan kesiapan orang-orang yang telah bergabung didalamnya untuk dapat bergerak bersama. Artinya penguatan internal sangat perlu dikuatkan dan terus diuji ketahanannya. Tentu yang hal penting lainnya adalah bagaimana sistem organisasi akan bergerak. Ini pun perlu kejelasan untuk mempertegas, di sisi apa organisasi ini bergerak dan berkontribusi. Siapa yang hendak bergerak, bagaimana organisasi ini bergerak. Bahkan hal yang dipandang sederhana, tentang sistem pergantian kepengurusan dari organisasi ini dan keanggotaan di dalamnya. Meskipun ada perbedaan budaya setiap negara, tentu tiada salahnya memperjelas sesuatu sedari awal. Lagi-lagi agar kontribusi ini semakin jelas. Sehingga setiap yang masuk-pun merasa memiliki dan tugas yang jelas.

Apalagi kiranya yang penting? Ya! Goal, tujuang riil yang akan ditargetkan oleh organisasi ini. Bukan masalah memang ketika itu akan terfikir “ahh…. sembari berjalan saja, sekarang jalan seadanya”. Tapi, bukankah lebih enak ketika memantapkan tujuan sedari awal dan berusaha menargetkan keterwujudannya seperti apa, bagaiman caranya, kapan terwujudnya, serta siapa saja yang akan meraihnya. Lagi-lagi karena ini bukan sekedar partisipasi, agar tenaga yang tercurahkan-pun lebih efektif mengingat kesibukan setiap orang dalam organisasi ini.

Harapan dan kesiapan

Patut kiranya kita belajar pada sejarah yang telah mengatakan kesudahan pendahulu-pendahulu kita. Belajar tentang sistem yang sebaiknya dibentuk, cara yang sebaiknya ditempuh, arah yang sebaiknya dituju. Dan itulah pengalaman. Saat ini guru yang paling baik adalah Ulama, sang pewaris para nabi. Telah ada Organisasi Ulama ASEAN, maka itulah guru kita, para generasi muslim ASEAN. Jadikan mereka sebagai guru kita yang akan membimbing kita.

Dan saat ini, bukan saatnya lagi kita bergerak sendiri-sendiri. AMSA ini adalah bentuk dari suatu sinergi antar negri di ASEAN ini, namun teruntuk bidang pengerjaan yang lebih khusus, organisasi ini perlu menggandeng organisasi lain yang lebih kompeten, lebih berpengalaman, dan lebih berpengaruh dalam bidang-bidang tertentu. Masalah politik, gandenglah aliansi BEM di Indonesia yang telah lebih lama mengkaji masalah isu politik. Masalah Dakwah, gandenglah Forum Silaturahim LDK di Indonesia, Malaysia, atau organisasi mahasiswa muslim di beragam negara yang tentunya telah lebih dahlu fokus dalam hal itu. Karena ketika kita membentuk sesuatu yang baru dan itu sama arahnya, itu layaknya kita membuat aliran baru yang seolah menyelisihi organisasi yang lain. Padahal kita akan lebih efektif dalam bergerak ketika mampu bersinegi.

Mengulangi poin yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa organisasi ini perlu untuk segera menemukan bentuknya. Bukan sekedar jadi, bukan berusaha memaksakan ide kepada anggotanya, dan bukan pula bersifat instruktif selalu nantinya. Sehingga, peran pemimpin yang sebagaimana disampaikan ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi dalam seminarnya bahwa “pemimpin tak cukup sekedar memberikan tugas, namun juga memberikan pengaruh itu sangat penting disini.”

Terakhir yang menjadi harapan saya adalah, bahwa organisasi ini benar-benar menjadi organisasi yang bergerak atas dasar “Laa Ilaaha IllaAllah”, yang mendasarkan setiap aktivitasnya karena Allah. Menjadi organisasi yang professional yang mampu bersinergi dengan setiap elemen yang bersinggungan dengannya, sehingga mampu menjadi gambaran kesatuan umat yang seutuhnya. Ketika setiap golongan mau dan bersedia bergerak bersama dalam kesatuan AMSA dengan nilai ke-rendahan hati setiap insan didalamnya, ke-objektifan dalam setiap pandangannya, moderat dalam setiap sikapnya, serta open mind dengan setiap saran atau pendapat yang diberikan kepadanya. Aamiin

 

Penulis             : Amron Basuki – Ketua Umum JMMI 1516

Editor              : Hafshah Mahfuzhoh